Rumah Impian Senja

Kusnawati
Chapter #19

Bab 19

Hari-hariku kini lebih banyak diisi dengan olahraga. Pagi setelah subuh aku sudah jogging dan olahraga beban. Sore juga seperti itu. Semua demi sebuah harapan  kuliah untuk mengubah nasib, mengubah garis keturunan di keluarga agar ada yang menjadi pejabat negara. Menurut mba Ratna, proses masuk STPDN cukup panjang. Tes pertama diselenggarakan di Kabupaten yang meliputi seleksi administrasi-tinggi dan berat badan, pengecekan data administrasi ijasah dari SD sampai SMA, surat keterangan sehat, surat berkelakuan baik dan tes wawancara awal. Dilanjut jika lolos akan tes di tingkat provinsi-tes pengetahuan umum, tes kesehatan dan terakhir psikotes. Yang tersaring baru akan dipanggil lagi untuk mengikuti tes terakhir yaitu tes pantukir 1 dan pantukir 2 di kampus Jatinangor. Kata mba Ratna, kedua tes ini  sudah mirip seperti tes mau masuk angkatan bersenjata. 





Yang membuatku sedikit lega, mba Ratna, anak seorang buruh tani, berhasil lolos setelah berjuang dan bersaing secara nasional dengan mengikuti semua prosedur yang ada. Tidak ada jalur koneksi orang dalam atau yang lainnya. Semua murni karena campur tangan dari Alloh.



“Mungkin ada yang titipan. Tapi Mba tidak. Kami dari keluarga miskin, mau titip siapa? Lagipula, titip pasti juga harus ada imbalannya” kata mba Ratna ketika aku bertanya desas desus titipan itu. 



Maka aku pun meminta doa restu kepada Bapak Ibu, meminta agar melangitkan doa untukku. Seandainya menjadi pejabat negara lewat jalur sekolah di STPDN itu adalah hal baik untuk kehidupanku kelak, semoga semua dimudahkan. Tetapi jika tidak, semoga Alloh memberi ganti yang lain, yang terbaik menurutNya. Sudah, itu saja dia yang aku minta. Bukan dia agar diterima. 





Akhirnya seleksi dimulai. Bersama 45 lulusan SMA se-kabupaten, kami menjalani serangkaian tes. Meski ada yang gugur di tahap awal karena terkait tinggi badan, sisanya melaju ke seleksi tingkat provinsi di Semarang. Dua hari full jadwal yang diberikan. Hari pertama tes pengetahuan umum yang diadakan di GOR Jatidiri. Hari kedua tes kesehatan di RS Kesdam. Tes yang sangat rumit dan membutuhkan waktu cukup lama. Setiap anggota badan di tes kesehatannya. Yang tampak luar maupun didalam tubuh. Hingga menjelang dhuhur baru selesai. Dilanjut dengan psikotes di SMA 1 Semarang.  Lumayan jauh juga jaraknya dari RS Kesdam. Dan tingkat kesulitan psikotes nya seperti mau masuk dunia kerja di perusahaan ternama. Tak terasa hingga menjelang maghrib baru selesai. 




Beruntung ada teman kakakku yang bertugas di Semarang, jadi aku bisa ijin menginap disana. Hari ketiga aku baru bisa berkeliling kota Semarang sejenak. Melihat megahnya simpang lima, pendanaran, lawang sewu hingga klenteng sham poo koong. 





Setelah menunggu beberapa waktu, pengumuman yang lolos tes pantukir tiba. Lewat surat pemberitahuan yang dikirim ke rumah, aku dinyatakan tidak lolos. Padahal aku yakin bisa lolos sampai Jatinangor. 




“Ya sudah, Nduk. Tidak apa-apa kalau belum diterima di STPDN. Kamu sudah berusaha maksimal. Saingannya memang banyak, dari seluruh Indonesia. Nanti kuliah saja seperti impianmu sebelumnya” ujar Bapak memberikan semangat.  





“Kalau tahun depan Senja mencoba lagi boleh, Pak?”





“Boleh saja.  Kamu yang akan menjalani. Tapi apa kamu tidak mencoba ujian di perguruan tinggi negeri dulu? Siapa tahu diterima.”




“Iya, Pak. Nanti Senjai mencoba mendaftar di UGM.”





Suatu sore, kulihat mas Wawan sedang berbincang dengan Bapak diteras depan. Sepertinya serius sekali. Sengaja aku menguping pembicaraan mereka dibalik pintu setelah namaku sayub-sayub disebut. 

Lihat selengkapnya