Rumah Impian Senja

Kusnawati
Chapter #20

Bab 20

Aku terpaku di depan gerbang besar bertuliskan Universitas Muhammadiyah Surakarta. Ya, disinilah kini aku akhirnya melabuhkan pilihan terakhir setelah perjalanan panjang pasca lulus SMA. Kuliah calon pejabat melayang, masuk dalam antrian di bulevard UGM pun tinggal impian. Ah, rasanya duniaku retak. Aku, bintang kelas sejak SD kini harus terdampar disini, di kampus swasta yang tak terlintas sedikitpun dibenakku apalagi didalam mimpiku. Tak pernah sedikitpun  ada dalam bayangan, bahkan dalam obrolan receh dengan keempat sahabat kecilku. 




“Senja, kamu tidak diterima di STPDN, UGM pun gagal. Sekarang apa rencanamu?” tanya Jono yang sangat tahu obsesi terbesarku untuk kuliah sejak lulus SMA ketika kami berlima berkumpul. 




“Kamu harus kuliah Senja, jangan nganggur dirumah. Kalau otakmu yang encer itu dibiarkan bengong selama setahun, kamu pasti menyusul kami di pabrik, jadi kuli” Yadi ikut memprovokasi. 




“Entahlah, aku masih bingung. Kemana lagi mau daftar, tidak ada yang menarik” aku duduk dibawah pohon asam kebanggaan kami dimasa kecil. Menyelonjorkan kaki, sesekali mataku menatap ke atas rimbunan pohon yang sedang berbuah banyak. Kubiarkan wajahku diterpa sorot matahari yang menerobos kebawah. 




“Kuliah ditempatnya mas Deni saja, di Solo. Katanya dia jadi ketua apa gitu. Berbeda sekali dengan mas Budi waktu kecil, sekarang pinter ngomong. Apa kalau sudah kuliah seperti itu? seperti anggota DPR saja” Tono ikut bersuara. Tangannya sibuk mengupas ubi rebus yang berada di tengah kami berbincang. 




Mas Deni anaknya pamanku. Dia kuliah sudah 2 tahun yang lalu. Yang aku tahu dia kuliah di Solo, universitas apa, jurusan apa, aku kurang paham. Sejak teman-teman meminta agar aku kuliah tahun ini, aku mulai berpikir lagi, Tetapi dimana mau kuliah? Aku tidak punya ekstra plan jika ada keadaan darurat seperti ini. 




“Mas Deni kuliahnya dimana, jurusan apa?” tanyaku saat berkunjung ke rumah Paman. Untunglah mas Deni sedang libur semester. Aku jarang sekali bertemu mas Deni. Maklum, selama kos di kabupaten dan jarang pulang, aku tidak pernah ke rumah paman kecuali saat Lebaran. Ketika mas Deni pulang pun juga tidak berbarengan dengan libur sekolahku. 



Lihat selengkapnya