Rumah Impian Senja

Kusnawati
Chapter #21

Bab 21

Mengenal dunia kampus lewat ospek cukup memberikan gambaran kepadaku seperti apa kuliah itu. Di bulan Agustus, awal perkuliahan akan dimulai, hampir seminggu kami mahasiswa baru UMS, ditempa pengetahuan dasar  oleh dosen didampingi kakak-kakak tingkat tentang seluk beluk perkuliahan di bawah naungan organisasi Muhammadiyah. Bagaimana sistemnya yang sangat jauh berbeda dengan sekolah SMA, hingga kegiatan diluar perkuliahan alias organisasi kemahasiswaan yang ada didalamnya. 




Tetapi dari acara ospek itu, perhatianku justru tertuju pada kakak-kakak tingkat yang menjadi panitia ospek. Mereka begitu lihai dalam berbicara dan diskusi dengan kami para mahasiswa baru. Belakangan aku ketahui bahwa semua yang terlibat dalam kepanitiaan itu adalah para aktivis kampus- senat mahasiswa, dewan pertimbangan mahasiswa, organisasi pencinta alam, organisasi jurusan, penelitian, ikatan mahasiswa muhammadiyah hingga pers mahasiswa. Seperti halnya mas Deni yang aktif di Senat, aku mulai tertarik untuk ikut salah satu diantaranya. Tetapi karena sifatku yang sedikit tertutup dan tidak lancar untuk bicara di depan umum, semua hanya tinggal angan-angan. 




Sampai ketika jeda waktu menunggu kuliah berikutnya, aku memilih perpustakaan untuk menenangkan diri sekaligus tempat refresing. Seperti saat SMA jika sedang pusing dengan Fisika aku menjadikan perpustakaan tempat pelarianku. Membaca buku sastra dan banyak lagi koleksinya. Tetapi di kampusku, deretan buku-buku memenuhi rak di kampus, mulai dari buku sastra, kepribadian, buku skripsi dan tentu saja buku kuliah dari berbagai fakultas. Sangat jauh berbeda dengan perpustakaan SMA yang minimalis. Ketika sedang asyik memilih buku-buku sastra di rak-rak yang menjulang tinggi, mataku tertuju pada satu buku yang seolah-olah menuntunku untuk mengambil dan meminjamnya. Judulnya luar biasa- Bagaimana Mencari Kawan dan Mempengaruhi Orang Lain karya Dale Carnegie. 




Setiap kata yang tertulis dibuku Dale itu ibarat mantra ampuh yang mampu mengubah seluruh gen yang diturunkan oleh kedua orang tuaku. Aku yang dulunya pemalu, menghindari keramaian dan mudah gugup jika bertemu orang asing. Apalagi berbicara dalam diskusi kelas, aku menjadi yang terakhir berbicara kecuali aku sangat tertarik dengan topik yang dibicarakan. Selebihnya, berpura-pura mencoret-coret buku seolah mencatat bagian-bagian terpenting. Hampir seminggu buku Dale Carnegie aku resapi setiap kalimatnya. Perlahan aku mulai mempraktekkan sekaligus uji coba apakah benar yang dituliskannya itu. Ajaib, aku seperti terlahir kembali. Menjadi diri yang lebih berbeda. Lebih ramah, lebih sering tersenyum, lebih berani membuka ruang diskusi meski dengan kakak kelas yang baru aku kenal. Dan akhirnya, aku berani mendaftar untuk ikut bergabung di pers mahasiswa fakultas, Balans namanya. Keseimbangan, filosofi yang keren sekali. Seimbang dalam kuliah, seimbang dalam berorganisasi. Mungkin begitu kira-kira harapan pendiri pers mahasiswa fakultas ekonomi ini dibentuk dulunya. Doa yang sangat agung. 




“Senja, namanya seperti hari menjelang malam. Itu saat kamu dilahirkan, ya?” Damian, sang ketua umum Balans saat membaca biodataku, ketika aku berniat bergabung dengan Balans. 



“Iya, Mas. Bapak saya bilang kalau nama Senja mudah diingat setiap orang” jawabku ramah, mencoba mempraktekkan ajaran Dale Carnegie.




“Kalau Senja sendiri, suka waktu senja, tidak?”




“Kurang begitu suka, mas.”

Lihat selengkapnya