Keluarga, betapa jauh kaki melangkah, pada akhirnya akan pulang. Pulang ke tempat dilahirkan dan dibesarkan.
Jika adalah ada salah satu yang terasa sakit, semua ikut merasakan. Perih luka yang ditutupi, tidak bisa menyembuhkan hanya dalam kedipan mata. Dan ditengah kegembiraanku di kampus dengan segala aktivitasnya, ada kabar yang menyentak dalam keheningan malam.
“Senja, Bapakmu sakit. Kemarin waktu mas Deni pulang, ibumu menyampaikan kabar itu dan menitip pesan untukmu. Kamu disuruh pulang” Mas Deni ke kosku malam ini. Berita yang tidak pernah aku duga. Sebulan lalu Bapak masih tampak sehat ketika aku pulang. Tidak sekalipun periksa ke mantri desa sejak aku kecil.
“Sakit apa, Mas? Dirumah atau dibawa ke rumah sakit?”
“Sebelumnya dibawa ke rumah sakit tetapi sekarang sudah ada di rumah. Pulanglah sebentar, mungkin ada hal penting yang ingin disampaikan.”
“Iya, Mas. Besok pagi saya akan pulang.”
“Kalau mau pulang malam ini, Mas Deni antar juga tidak apa-apa.”
“Apa tidak merepotkan Mas Deni?”
“Tidak, lebih cepat pulang lebih baik daripada menunggu besok. Khawatir terjadi apa-apa dengan Bapakmu.”
“Memangnya sakitnya Bapak serius, Mas?”
“Kamu nanti lihat sendiri saja” jawaban Mas Deni yang pada akhirnya membuatku harus pulang malam ini.
Secepat kilat aku berkemas, menitip pesan kepada Mayasi untuk teman-teman organisasi yang besok ada agenda bersamaan. Tidak tenang hatiku memikirkan Bapak, ada apa? Kenapa mas Deni juga memintaku harus malam ini pulang? Sementara besok sore aku juga sudah ada janji ketemu dengan Dastan, teman SMA yang kuliah di kedokteran UNS. Kami berteman dekat ketika sama-sama ikut les di lembaga pendidikan meski beda kelas di SMA. Hanya ketika les saja kami bertukar kabar, saling support untuk impian kami pasca lulus SMA. Dastan terobsesi menjadi dokter sedangkan aku psikolog yang berbelok arah menjadi pejabat negara lewat STPDN walaupun pada akhirnya terdampar di UMS. Tetapi komunikasi kami terus berjalan hingga saat ini. Kami punya jadwal pertemuan pada hari tertentu di belakang kampus UNS, disalah satu warung hik. Warung gerobak yang hanya buka menjelang sore hingga malam. Ada berbagai makanan yang tersedia. Nasi kucing-nasi dalam porsi kecil seperti porsi untuk makan kucing. Nasi kucing dibungkus daun pisang dengan lauk berbagai varian: ikan teri beberapa ekor, ikan bandeng sesuwir, oseng tempe, potongan telur dadar atau sesendok mi goreng. Sedangkan lauk dengan porsi besar dijual terpisah. Ada sate telur puyuh, ati ampela, ayam bakar, tahu tempe bacem dan goreng, tahu isi, sate usus, sate ceker. Selain itu juga jadah bakar- ketan yang ditumbuk halus, dibentuk kotak atau bulat kecil-kecil. Sedangkan minumannya ada berbagai jenis juga: teh manis, jeruk manis dan yang menjadi andalan utama jahe bakar.
Setelah kurang lebih 45 menit berkendara, aku tiba di rumah yang sudah dimatikan lampu ruang depan. Aku ketuk pintu perlahan agar tidak menimbulkan kebisingan. Tidak lama terdengar derap kaki melangkah ke arah pintu.
“Senja? Akhirnya kamu pulang, Nak… ayo masuk. Deni mampir sekalian” Ibu membuka pintu, terlihat lelah. Kedua kantung matanya menghitam menandakan pemiliknya telah begadang untuk waktu yang lama.
“Saya langsung saja, Bulik. Mau istirahat dulu soalnya pagi-pagi balik ke Solo lagi.” ujar Mas Deni.