Rumah Impian Senja

Kusnawati
Chapter #23

Bab 23

Nduk, kamu pikirkan lagi ya permintaan Bapakmu? Ibu juga berharap kamu mau menerima Romi sebagai calon suamimu” kata Ibu yang sedang memasak di dapur. Aku membantunya mumpung Bapak sedang tidur. Aku masih belum bisa memutuskan, pikiranku kacau. Memikirkan Bapak yang sedang sakit, tawaran perjodohan. Dastan. Penuh sekali rasanya kepalaku. 




“Apa ada alasan lain kenapa Bapak sangat berharap Senja menerima perjodohan ini, B? Tidak seperti biasanya Bapak agak memaksa. Senja maunya seperti apa, Bapak biasanya merestui. Nah ini, sampai Bapak sakit segala.”



Nduk, kamu mau membahagiakan Bapak dan Ibu, kan? Sebelum kami meninggal, sebelum kamu menyesal? Kata pak Kyai, orang tua itu salah satu pintu surga bagi seorang anak. Tidakkah kamu ingin memasukinya dari pintu itu? Sebelum pintu itu tertutup.”




“Ibu, Senja sayang Bapak dan Ibu. Selama ini Senja sekolah sampai kuliah, Senja berusaha untuk menjadi yang terbaik, semua untuk membahagiakan Bapak dan Ibu. Tapi kalau untuk urusan jodoh, Senja berat, Bu. Senja sudah punya calon sendiri dan sudah mengenalnya dengan baik. Tolong ibu mengerti” suaraku lirih menahan air mata yang hampir jatuh. Aku merasa diujung persimpangan. Apakah jalan berbakti itu harus mengorbankan diri sendiri? Mengorbankan mimpi dan segala keinginan hati? 



“Minggu depan keluarga Romi mau kesini. Sebagai pertemuan awal, mengenalkanmu pada Romi. Bersiaplah, Nduk. Bapak dan Ibumu tidak mau membuat mereka kecewa. Mudah-mudahan setelah bertemu dengan Romi dan mengenalnya lebih jauh, kamu nanti berubah pikiran untuk menerimanya.”



Aku semakin tak berdaya. Ternyata aku disuruh pulang selain karena Bapak sakit, mereka sudah merencanakan pertemuan dengan Romi. Apa aku kabur saja, balik ke Solo?  Meminta Dastan untuk melamarku. Tapi Dastan kan belum koas,  apa dibolehkan orang tuanya untuk melamarku? 




Hari-hari menjelang Romi mau ke rumah, aku lebih banyak di kamar. Bapak sudah mulai membaik meski perutnya terkadang masih kambuh terutama jika malam menjelang. Gejalanya persis dengan yang aku alami dulu. Mbah Parjo setiap malam datang menjenguk dan begadang disamping Bapak sampai menjelang subuh. Kata Mbah Parjo, Bapak harus dijaga agar kiriman santet itu tidak makin menjadi. Kadang aku dengar suara- suara aneh di atas atap. Suatu waktu seperti suara ledakan, kadang suara pasir yang dilempar. Pernah juga tiba-tiba ada ular besar diruang tamu, di balik foto yang dipasang ditembok. Aku bergidik ngeri. Siapa orang yang tega melakukan itu pada keluarga kami? 



Nduk, besok juragan Sardi mau kesini. Kamu bersiaplah. Ini permintaan Bapak terakhir kali. Bapak harap kamu tidak menolaknya. Bapak hanya ingin kami bahagia, Nduk.”



“Iya, Pak. Senja mengerti. Tapi tolong Pak, jangan paksa Senja untuk menerima Romi. Kalau hanya untuk berkenalan saja, Senja tidak menolak. Tetapi kalau besok harus segera memutuskan menerima Romi sebagai calon suami, Senja minta maaf, Pak. Senja tidak bisa. Senjasudah mempunyai pilihan sendiri, Pak.”



“Besok mereka hanya ingin bertemu dan memperkenalkan Romi kepadamu, Nduk. Soal nanti kamu setuju dengan perjodohan itu, nanti biar juragan Sardi yang memutuskan. Bapak… “ suara Bapak menggantung, seperti ada sesuatu yang disembunyikan. Tatapan matanya dialihkan ke arah jendela dan aku dengar  hembusan nafas pelan tapi tertahan. Seperti ada beban yang dirasakan. 



Lihat selengkapnya