Aku putuskan untuk kembali ke kampus setelah melihat perkembangan kesehatan Bapak yang semakin membaik. Meskipun setiap malam masih harus dijaga Mbah Parjo, setidaknya kiriman santet yang menurut Mbah Parjo tidak seperti awal-awal Bapak sakit. Aku mulai sedikit tenang tetapi masih mengganjal siapa pengirim santetnya. Mbah Parjo tidak mau cerita. Mungkin sudah cerita ke Bapak dan Ibu tapi tidak denganku. Selain itu, aku berhasil meyakinkan Bapak bahwa nanti setelah aku wisuda, perjodohan dengan Romi dibicarakan lagi. Bapak yang awalnya tidak setuju akhirnya mau. Aku harus bertindak cepat. Segera menemui Dastan di kosnya, membicarakan hubungan kami ke depan. Syukur-syukur kalau Dastan bersedia segera melamar ke rumah sebelum lulus sehingga perjodohan dengan Romi dibatalkan. Melamar dan tunangan dulu. Menikahnya nanti setelah Dastan selesai koas. Rencana yang tersusun rapi dalam benakku. Masalah hutang budi Bapak dengan juragan Sardi dipikir belakangan.
Pagi ini aku sengaja ke kos Dastan tanpa memberitahunya, diluar jadwal rutin pertemuan kami. Tempat kosnya sepi, kamar- kamar lain tertutup rapat seolah penghuninya tidak membuka pintu sejak kemarin. Mungkin karena ini hari Minggu. Teman satu kosnya hampir semua dari fakultas kedokteran. Hari Minggu biasanya digunakan untuk tidur, tidak keluar kecuali urgent. Kamar Dastan yang berada di ujung, terlihat sedikit terbuka pintunya. Aku melangkah pelan untuk memberi kejutan Dastan. Sambil membawa bubur ayam kesukaan kami berdua untuk sarapan, aku membayangkan wajah Dastan yang terkejut sekaligus gembira. Tetapi sebelum aku mendekat ke arah pintu, terdengar suara melengking dari dalam kamar. Suara yang aku kenal siapa pemiliknya. Dan semakin dekat, badanku bergetar. Tanganku berpegangan pada dinding agar tidak rubuh. Pandanganku nanar, mukaku terasa panas. Dada berdetak tak beraturan.
“Dastan, mama tidak setuju kamu melanjutkan hubunganmu dengan Senja. Kamu punya masa depan cerah, menjadi dokter. Dan kamu nanti akan mengambil spesialis. Keluarga kita semua berprofesi sebagai dokter. Sedangkan Senja? Entah jadi apa dia nanti setelah lulus. Nilai bagus belum tentu menjamin masa depan. Keluarganya? Hanya petani. Mana bisa membantu Senja untuk mendapatkan pekerjaan yang bagus di perusahaan ternama. Tak layak bersanding denganmu, Dastan” suara mama Dastan begitu menyakitkan, menusuk relung hatiku yang paling dalam. Mudah sekali mulutnya meremehkan orang lain berdasarkan status sosial. Dia boleh menghinaku yang tak ada jaminan masa depan cerah. Tapi kalau dia sampai menghina orang tuaku, profesi mulia Bapakku yang mengantarkan aku hingga kuliah saat ini, aku tidak terima.
“Tapi, Ma. Senja itu orangnya baik. Dastan sudah mengenalnya sejak SMA. Dia murid berprestasi sejak kecil. Mama jangan memandang rendah keluarga Arimbi hanya karena Bapaknya petani. Toh selama ini Mama juga sudah bertemu dengan Senja. Dia gak aneh-aneh.”
“Pokoknya Mama tidak setuju. Kamu tidak sederajat dengan dia. Kamu mestinya bersanding dengan dokter juga. Minimal keluarga dokter. Apa kata kolega Papamu kalau mereka tahu dokter Praditya, Direktur rumah sakit Medica, mempunyai besan seorang petani? Memalukan.”
“Mama jangan egois. Yang mau menikah itu Dastan bukan Mama. Lagipula, apa jeleknya petani, Ma? Itu juga pekerjaan mulia. Kalau tidak ada petani kita tidak bisa makan nasi.”
“Mama nggak mau tahu.