Rumah Impian Senja

Kusnawati
Chapter #25

Bab 25

Aku akan menempuh perjalanan yang sangat panjang menuju Lombok. Kira-kira pukul satu siang berangkat dari terminal Tirtonadi Solo menuju jurusan terminal Surabaya. Aku berangkat bersama 3 orang teman aktivis Pabelan Pos yang baru aku kenal. Alvian dari fakultas Geografi, Rian dan Nandito dari fakultas teknik. Hari sudah gelap ketika kami tiba di terminal Surabaya kemudian berganti bus arah pelabuhan Ketapang, Banyuwangi. Letih terasa dibadan setelah beberapa jam diatas bis. Menjelang pukul enam pagi kami sudah berada di pelabuhan Ketapang untuk menyebrang ke Gilimanuk. Ini pertama kali aku melihat sibuk dan padatnya suasana pelabuhan. Truk, mobil, motor antri dengan rapi menuju kapal ferry yang membawa kami melintadi selat Bali. Tidak sampai setengah jam kami naik kapal tepat saat sunrise muncul dan aku sudah berada di jalur waktu Indonesia bagian tengah. 




Suasana terasa sangat berbeda ketika kami menginjakkan kaki di pelabuhan Gilimanuk. Sejuk dan damai rasa dihati. Seolah-olah berada di negeri entah berantah. 



“Kita jalan kaki saja menuju terminal. Tidak terlalu jauh kok. Sekalian melihat suasana dan pemandangan Bali di pagi hari. Setelah dari terminal kita akan menuju pelabuhan Padangbai. Kamu masih kuat kan, Senja?” kata Nandito. 



“Masih. Tidak apa-apa jalan kaki saja” jawabku santai. Udara pagi cukup sejuk menerpa wajah kelelahan kami berempat. 




Sepanjang jalan yang kami lewati, kanan kiri jalan terlihat rumah-rumah yang cukup mewah. Yang membuat berbeda dengan rumah-rumah di Jawa adalah adanya taman bunga di depan dan terlihat ada banten-sesajen- berupa aneka rupa bunga. Pohon-pohon besar menjulang tinggi yang tumbuh di sepanjang jalan. Seperti berada di dunia lain, dunia yang penuh kedamaian dan ketenangan. 



Ternyata di terminal kami harus menunggu mobil elf penuh dulu sebelum mobil yang mengantar kami ke pelabuhan Padangbai menuju pelabuhan Lembar, Lombok. Cukup lama juga menunggu penumpang yang searah dengan kami ke Padangbai. Setelah hampir 2 jam , mobil akhirnya berangkat perlahan. Aku sengaja duduk dibelakang sopir, dekat kaca samping agar bisa melihat pemandangan keluar. Melihat dari dekat pulau Dewata yang selama ini hanya aku dengar ceritanya dari teman SMA yang liburan sekolah ke Bali. Waktu itu hanya kelas kami yang tidak mengadakan study tour ke Bali melainkan hanya memilih study tour jarak dekat, Kaliurang Yogyakarta. 



Bus melewati pinggiran kota, entah apa namanya. Disamping kiri deretan bukit dengan pohon rimbun sedangkan sebelah kanan garis pantai yang sangat indah. Ternyata kami melewati Tabanan. Hampir satu jam terguncang di jalan yang menawarkan keindahan alam yang tak pernah kudapatkan di Solo dan sekitarnya. 



Tak lama kemudian tengah kota Denpasar kami lalui. Kalau daerah Tabanan lebih sepi, terlihat sejuk dan rindang aneka pepohonan, Denpasar kebalikannya. Hiruk pikuk mobil memenuhi jalan. Banyak turis asing yang terlihat di beberapa tempat, ada juga yang mengendarai motor sewaan. Suasana tampak hidup dan terkesan modern dengan bangunan-bangunan tinggi menjulang. Hanya sebentar melewati kota Denpasar, kami pun menuju pelabuhan yang makin sepi jalanannya. Karena terlalu lama dan capek, aku tertidur di mobil. Hingga tepat pukul empat sore, kami tiba di Padangbai.




Sejauh mata memandang kami melihat laut biru nan luas. Antrian penumpang yang akan menyeberangi juga lebih padat. Mobil pribadi dan bus pariwisata  lebih banyak. Penumpang pun juga terlihat antri di pintu masuk. Ketika akan membeli tiket, kami berpapasan dengan rombongan pers mahasiswa dari Unibraw Malang dan Udayana Bali. Ada 8 orang yang ikut acara kongres. Akhirnya kami berbarengan dalam kapal fery. Tepat pukul 5 sore, kapal pun mulai berlayar. Menempuh jarak kurang lebih 6 jam, jauh lebih lama daripada penyeberangan dari Ketapang-Gilimanuk yang tidak sampai setengah jam.


Meskipun ombak sedikit tinggi dibanding pelabuhan Gilimanuk, laju kapal tetap stabil. Aku yang baru pertama kali naik kapal jarak jauh, merasa cukup kaget ketika badan terombang- ambing gelombang. Apalagi kami hanya mendapatkan tempat duduk digeladak, diterpa angin malam yang cukup kencang membuat kepalaku pusing dan perut terasa mual. Sementara teman-teman dari Bali dan Malang dengan santai berbincang bersama Alfian, Rian dan Nandito. 



Dan benar, tepat pukul sebelas malam kami tiba di pelabuhan Lembar, Lombok. Karena menjelang dinihari, suasana terlihat sepi. Hanya ada beberapa petugas yang berjaga. Beruntung masih ada mobil yang bisa mengantar kami ke Universitas Mataram, satu jam perjalanan. Rasa kantuk yang masih tersisa membuat aku sedikit malas untuk mengobrol dengan teman-teman satu rombongan. Aku lebih memilih diam sambil melihat sekeliling. Deretan rumah-rumah penduduk, lampu-lampu jalan dan juga jalanan yang tidak terlalu lebar. 

Lihat selengkapnya