“Untuk acara berikutnya adalah perkenalan dari pengurus PPMI. Nanti setelah itu perkenalan dari seluruh peserta yang hadir, dari Papua hingga tanah rencong Aceh. Kita berkumpul untuk saling menyapa, menguatkan barisan sebagai insan pers mahasiswa- persma. Kepada Sekjen PPMI, Romi Pradigta Putra, saya persilahkan” suara MC terdengar sangat jelas di telingaku. Romi ternyata pengurus PPMI? Kenapa aku tidak mengetahuinya sejak membaca surat undangan itu? Aku tidak menyangka kalau
sosok seperti Romi adalah aktivis pers mahasiswa yang sangat identik dengan anak semau gue, penampilan sembarangan, kata-kata asal nyeplos. Tapi Romi? Dia jauh berbeda. Santun, tenang, rapi dan tidak ada celah sedikitpun yang mirip anak persma.
“Perkenalkan nama saya Romi Pradigta Putra. Saya dari Fakultas Ilmu Komunikasi UGM dan saat ini diamanahi sekjen PPMI yang dalam beberapa hari ke depan akan selesai tugas saya. Saya berharap dalam Kongres kali ini akan terbentuk pengurus yang solid, yang hebat, mampu membawa organisasi kita makin diperhitungkan dalam kancah pers mahasiswa, yang mampu merespon isu-isu intern kampus maupun nasional” suara Romi terdengar lantang dan berwibawa. Kontras sekali saat datang kerumah bersama keluarganya. Romi yang penurut, patuh sekali dengan apa yang diomongkan Bapaknya. Tetapi saat ini? Dia seolah menguasai audiens dan semua terdiam mendengarkan dengan takzim setiap kata yang keluar dari pengurus utama PPMI ini.
“Si Romi itu sudah jadi wartawan magang di harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta, sejak awal menjadi Sekjen dua tahun lalu. Dia hebat, media Balairung yang dia pegang selama 2 periode juga aktif terbit. Ulasannya bernas” Rian yang duduk disampingku menceritakan kehebatan Romi.
“Kamu kenal Romi?”
“Ya pasti kenal lah. Kita kan sering ketemu di forum diskusi persma se-Jawa&DIY. Insan pers mahasiswa seluruh Indonesia juga tahu soal dia. Makanya kamu nanti aktif lah di Pabelan Pos, media universitas kita. Jangan cuma aktif di fakultasmu saja.”
“Iya, nanti dipertimbangkan.”
Aku menyimak apa yang disampaikan Romi dengan gelisah. Sesekali mata kami bertemu pandang, tapi hanya sepersekian detik. Dan Romi seolah-olah tidak mengenalku, dia bersikap biasa saja dan terus melanjutkan beberapa capaian dan program kerjanya selama ini. Aku ingin buru-buru meninggalkan forum ini agar bisa terbebas dari pandangan Romi. Atau paling tidak aku tidak duduk di barisan depan, barisan yang setiap gerakan sedikit saja bisa terdeteksi dengan mudah dari area panggung di depanku.
Setelah Romi selesai berbicara, giliran pelaku pers umum yang diundang sebagai pembicara tunggal dan diskusi jelang pembukaan esok hari.
Hingga pukul sebelas malam acara perkenalan antar persma baru selesai. Aku bergegas setengah berlari menuju ruang istirahat begitu MC menutup acara. Aku tidak mau bertemu langsung apalagi ngobrol dengan Romi disini. Ketika aku bersiap untuk tidur, Dayu tiba-tiba mendekat.
“Senja, ada yang mencarimu diluar. Mau ngobrol sebentar katanya.”
“Siapa? Ganggu orang mau tidur saja.”
“Surprise… Gak nyangka, baru sehari di Lombok kamu sudah punya penggemar” Dayu tertawa sambil mencolek punggungku.
Penggemar? Siapa? Baru kenal dan akrab juga dengan teman-teman Malang dan Bali karena satu rombongsn sejak menyeberangi dari Padangbai. Dengan malas aku keluar dan betapa terkejutnya setelah tahu siapa yang ada di depan ruang istirahatku.