Rumah Impian Senja

Kusnawati
Chapter #27

Bab 27

Setelah hari pertama Kongres, acara cukup padat dari pukul tujuh pagi hingga menjelang maghrib. Terkadang lewat isya' juga tergantung pemateri yang datang. Panitia mengundang praktisi dari Persatuan Wartawan Indonesia- PWI- maupun dari Aliansi Jurnalis Independen-AJI. Ada juga wartawan dari koran lokal Mataram. Saling berbagi ilmu dunia pers yang sesungguhnya, yang jauh berbeda dari pers mahasiswa. Selain itu materi dari para mantan persma yang sudah meniti karier di dunia jurnalistik, Romi salah satunya. Dia menceritakan jalannya menjadi wartawan di pers umum berkat aktif di persma. Jadi kalau ingin berkarier di media cetak, harus fokus sejak dari kampus. Menjadi pribadi yang tangguh, ulet dan tentu saja pantang menyerah dalam mengejar nara sumber hingga menyajikan berita sampai ke meja redaksi hingga enak diminati para pembaca. Begitu penjelasannya panjang lebar. Pantas saja dia cukup tangguh mencari berita segala tentang diriku. 



Setelah berhari-hari cukup lelah menerima materi dan diskusi, panitia mengumumkan kalau jelang berakhirnya Kongres akan diadakan Laporan Pertanggungjawaban-LPJ- Sekjen PPMI. Dan juga pembentukan formatur untuk kepengurusan berikutnya. Aku tidak begitu tertarik untuk acara ini karena lebih pada pemilihan Sekjen. Karena inilah momen paling krusial diantara acara sebelumnya. Entah mereka sudah lobby-lobby sebelum acara Kongres atau bagaimana, yang  jelas ada pergolakan cukup alot. Sebagian peserta tetap memilih PPMI sebagai payung organisasi bersama persma. Sedangkan sebagian lainnya memilih forum komunikasi persma seluruh Indonesia sebagai ikatan emosional pesertanya tanpa disertai AD/ART organisasi yang rumit. Karena tidak ada titik temu, akhirnya masing-masing persma dipersilahkan memilih, tetap bergabung dalam PPMI atau memilih keluar dan bersama FKPI. 



Diantara perdebatan dua kubu yang saling bersikeras pada pilihannya itu kulihat Romi duduk dengan wajah tegang. Akhir masa baktinya ternyata tidak bisa menyatukan persma dalam wadah organisasi bersama. Tapi minimal sudah terpilih Sekjen baru PPMI dari utusan koran Manunggal Undip, Dika Prasetya. 




“Senja, besok hari terakhir Kongres acaranya mengunjungi beberapa tempat wisata di Lombok. Kuta, Lombok, Desa Sade- perkampungan khas suku Sasak- dan terakhir ke pasar tradisional yang menjual aneka souvenir khas Lombok. Kalau kamu mau mencoba kemampuanmu menulis bisa menembus  artikel wisata di koran Kedaulatan Rakyat, tulislah tentang perjalanan besok. Dan kirimkan hasilnya padaku. Aku bagian editor di rubrik itu. Kalau ada kesulitan cara menulisnya, ada konsultasi gratis buatmu. Tapi syaratnya, selama tour wisata besok kamu tidak boleh jauh-jauh dariku. Biar gampang aku mengawasi kamu juga. Bahaya kalau disini sampai ada yang naksir” kata Romi dengan cueknya dan 

sontak membuatku hampir tersedak minuman yang baru aku teguk ketika dia sudah berada di kursi sampingku. Mulai deh usilnya. Kapan juga dia duduk, tahu saja aku berada dimana. 



“Memangnya kalau nulis di media gitu banyak ya amplopnya” tanyaku

 to the point tanpa menoleh pada Romi. Aku sibuk menenangkan hatiku, mengalahkan rasa gugupku jika berdampingan dengan Romi. Tuhan, kenapa makhluk ini seolah-olah selalu ada di sekitarku?



“Tertarik juga dengan honor penulis lepas? Lumayan sih buat jajan anak kos. Minimal gak minta orangtua. Kalau tulisan perdananya bagus, tanpa banyak proses editing dariku, kamu bisa aku rekomendasikan sebagai kontributor tetap. Tapi ingat, deadline di media umum sangat ketat, beda dengan persma yang suka molor semaunya. Gimana, deal?”



Aku masih menimbang-nimbang, apa aku ambil saja ya peluang ini?  ada relasi yang membawaku. Siapa tahu nanti menjadi jalan suksesku setelah lulus. Tidak melulu mengandalkan ijasah sarjana ekonomi untuk meraih masa depan. Skil diluar perkuliahan bisa menjadi tumpuan hidup. 



“Boleh,  aku mau mencobanya. Kebetulan kemarin sebelum acara mulai juga sudah mengunjungi beberapa lokasi wisata disini.”




“Bagus kalau gitu. Ok, sampai ketemu besok pagi. Jangan lupa mimpi indah, mimpi jalan bareng Mas Romi” terdengar tawa kecil yang menyebalkan  di telingaku. Masih sempat-sempatnya menggodaku. Dasar wartawan amatiran, gak punya adab. 




Pagi-pagi semua peserta terlihat sibuk. Berebut mandi di kamar mandi yang terbatas untuk menampung hampir dua ratus lima puluh peserta. Aku yang sejak sebelum subuh sudah mandi tinggal menunggu sarapan sebelum breafing keberangkatan. Saat sedang memberesksn tas, Dayu menghampiriku. 




“Ada Romi di luar. Katanya penting.”



Lihat selengkapnya