Aku terbangun dan mendapati diriku sudah berada di kamar. Aroma minyak angin menerpa penciumanku. Sementara kulihat ibu duduk di tepi tempat tidur. Matanya sembab, terlihat seperti bekas menangis yang tidak sebentar. Entah sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri.
“Senja, kamu sudah siuman, Nak? Syukurlah.”
“Bapak… Bapak… kenapa, Bu? Apa yang sudah terjadi?” Aku sesenggukan dipelukan Ibu. Tangisku tidak terbendung lagi. Aku merasa bersalah. Kenapa meninggalkan Bapak untuk pergi kuliah dan pergi sampai jauh menyebrang pulau ke NTB sana. Mestinya aku selalu disisi Bapak. Bahkan dihari terakhirnya aku tidak sempat melihat wajahnya apalagi memandikannya. Seandainya aku tidak pergi, seandainya aku merawat Bapak sampai sembuh.
***
Aku kembali kuliah setelah 1 semester cuti sejak kepergian Bapak. Aku dirumah menemani ibu hanya beberapa minggu saja, membungkus rasa bersalahku kepada Bapak karena menunda lamaran Romi. Awalnya aku tidak berniat menyelesaikan kuliahku. Aku stres, aku frustasi. Anak yang dari kecil digadang-gadang menjadi kebangaan orangtua justru menjadi salah satu sebab kematiannya.
Menurut cerita Ibu, malam dimana Bapak kumat sakitnya itu, Mbah Parjo pamit pulang karena istrinya sedang sakit. Mbah Parjo hanya pergi semalam. Tapi disaat lengah itulah lemparan santet kembali masuk dan tidak ada yang mampu menahannya. Bapak mengerang kesakitan semalaman hingga pagi menjelang hingga tidak kuat menahannya. Memang seperti diluar nalar tapi seperti itu yang dilihat Ibu langsung di depan matanya. Bagaimana Bapak menjerit, memegangi perutnya kadang memukulkan kepalanya sendiri ke dinding.
***
Sejak malam pertama Bapak meninggal, Romi selalu datang bersama keluarganya. Juga mas Deni, Jono, Yanto, Yadi dan Tono. Mereka semua menguatkanku. Memberi semangat dan menghiburku dari rasa bersalah. Bahkan Romi menawarkan bantuan yang tak terduga.
“Aku punya kenalan seorang Ustadz di Jogja. Beliau sering membantu orang-orang yang terkena ilmu hitam. Ini memang nyata dan metode yang digunakan insya Alloh tidak menyimpang dari tuntunan agama. Rukyah, dibacakan ayat-ayat Al Qur'an biasanya begitu beliau menyembuhkan. Nanti saya ajak beliau kesini, semoga ada waktu kosong.” perhatian Romi yang semakin membuka mataku tentang sifat aslinya. Ringan tangan dan baik.
Tak berselang lama seorang Ustadz datang bersama Romi. Sebelum masuk ke rumah aku lihat beliau berhenti di tengah pekarangan depan. Memandang sekeliling dan melihat rumahku cukup lama. Begitu masuk, apa yang diucapkannya membuat hatiku was-was dan kengerian tiba-tiba menyelimuti seluruh hidupku.
“Dari depan hingga masuk rumah ini saya merasa dan melihat sesuatu yang tidak biasa. Auranya gelap. Apakah selama ini ada hal-hal aneh yang terjadi?”
“Iya, pak Ustadz. Sering terdengar bunyi seperti ledakan diatas rumah. Kadang seperti ada bunyi pasir yang dilempar. Kadang suara orang berjalan di genting. Yang sering itu ada ular di dalam rumah” jelas Ibu.
“Ibu dan putrinya tidak pernah meninggalkan salat 5 waktu dan mengaji, kan?”
“Kalau saya selalu salat 5 waktu, pak Ustadz. Tetapi kalau mengaji tidak pernah. Saya tidak bisa membaca huruf Arab. Anak saya Senja yang sering mengaji kalau pas pulang. Salat tahajud juga rajin. Puasa Senin Kamis tidak pernah tertinggal. Almarhum Bapaknya yang masih bolong-bolong salatnya. Maklum pak Ustadz, kadang kalau capek dari sawah, terlewat salatnya.”
“Iya, saya paham. Jadi memang sihir atau santet itu ada. Kalau orang imannya tidak kuat, setiap kejadian atau keinginan yang tidak sesuai harapannya akan lari ke hal ghaib yang dilarang agama, meminta bantuan setan melalui sihir atau santet. Biasanya menyerang orang yang dianggap pesaing atau pernah membuat sakit hati. Orang-orang yang hatinya dipenuhi penyakit hati akan mudah terjerumus perbuatan seperti ini. Apa kira-kira anggota keluarga disini pernah berselisih paham atau tidak sengaja membuat sakit hati dengan orang lain?”