Rumah Impian Senja

Kusnawati
Chapter #29

Bab 29

Hampir setahun aku terbelenggu rasa bersalah atas kematian Bapak. Tidak bisa memberikan sedikit kebahagiaan disaat terakhir hidupnya bahkan membuatnya kecewa menjadi beban pikiranku yang cukup mendalam. Seandainya waktu bisa diputar, aku akan menerima perjodohan itu. Dan mungkin saja akan segera dilangsungkan pernikahan setelahnya. Membuat Bapak selalu tersenyum adalah bagian dari impian besarku setelah kegagalan menjadi seorang calon Camat. Suatu hal yang terlambat aku yakin bahwa yang bisa menukar kekecewaan itu hanyalah dengan memenuhi permintaan Bapak. Tapi ternyata, penyesalan memang selalu datang belakangan. Malang tidak bisa ditolak. Semoga Tuhan mengampuni dosaku, masih memberi kesempatan untuk memberi kebahagiaan kepada Ibu. 



“Tidak ada salahnya kita mencoba. Perjodohan itu tidak buruk juga. Orangtua kita pasti juga sudah mempertimbangkan semua kenapa kita baiknya harus menikah. Aku memang pernah mempunyai perasaan kepada seseorang di Jogja, teman organisasi. Tetapi selama ini aku menyimpannya dalam diam karena aku pikir belum waktunya. Begitu Bapakku mengatakan soal kamu, aku mulai berpikir ulang. Mungkin inilah saat yang waktu itu, meski bukan pada perempuan pilihanku tetapi justru datangnya dari orangtuaku. Kecewa, sedih? Manusiawi lah. Tapi minimal aku tidak separah kamu dengan Dastan. Ibarat nungguin jodoh orang. Jadi juga belum, dosa iya. Bapakku telah banyak berkorban untuk kuliahku. Tidak ada salahnya memberi sedikit kebahagiaan kepada beliau dengan menerima perjodohan ini. Karena bagiku restu orang tua itu sangat penting untuk kelangsungan kehidupan berumah tangga nanti. Toh kamu tidak mengecewakan bagiku. Berbagai even di Lombok itu telah membuka mata hatiku tentang siapa sosok perempuan pilihan orangtuaku. Jadi ini bukan semata-mata balas hutang Bapakmu saja” ungkap Romi setelah lebih jauh ketika aku tanya pandangannya soal perjodohan dan bagaimana sosok perempuan dimatanya. Ternyata dia tidak mempunyai problem pilihan rumit seperti diriku.  



Akhirnya aku tersadar untuk kembali meneruskan kuliah yang sempat  terbengkalai. Mengejar ketertinggalan nilai dan juga aktifitas di organisasi kampus. Diantara ketatnya jadwal kuliah disemester akhir, dunia jurnalistik ternyata mampu menyedot perhatianku dibanding kegiatan lain. Kebiasaan menulisku sejak kecil, membaca berbagai majalah remaja hingga aktif di mading saat SMA menjadi salah satu pemicu semangat untuk terus aktif berkarya dan  fokus dipersma. Di kampus Muhammadiyah inilah aku akhirnya menemukan nilai diriku, potensi terpendamku disaat masa krusial dalam perjalanan kehidupan masa remaja menjelang dewasa . Aku tidak tahu akan seperti apa jika aku dulu tidak kuliah disini. Dimana ada persma Pabelan Pos itu berada.  Media tingkat universitas dengan jam terbang layaknya pers umum menjadi pilihan utama dan aku putuskan berhenti dari semua aktifitas fakultas, mulai dari organisasi kejuruan, senat mahasiswa maupun persma fakultas. Aku berfikir inilah duniaku, tempat aku mengasah ilmu life skill selain tumpukan diklat tebal ekonomi. Aku tidak ingin hanya mengandalkan selembar ijasah sarjana ekonomi tanpa mempunyai portofolio lain untuk bekal lulus nanti. Karena dunia luar sana tidak hanya membutuhkan nilai tinggi dan lulus cepat tetapi bagaimana seseorang itu mempunyai keahlian yang layak untuk diperhitungkan diantara jutaan lulusan lainnya. Harus punya pembeda. Selain itu aku ingin terus menjadi kebanggaan Bapak di alam sana. Berprestasi di akademik maupun di kegiatan kemahasiswaan. 



“Sayang sekali kalau menjadi mahasiswa itu hanya kuliah saja. Kau harus aktif berorganisasi, Senja. Temukan bakatmu, pilih mana yang sesuai minatmu. Disana kamu akan lebih berkembang, secara kepribadian maupun keilmuan diluar bidang jurusan kuliah” begitu kata mas Deni sebelum aku memutuskan ikut menjadi aktivis kampus diawal semester dulu. 




“Jurnalistik itu menyenangkan, Senja. Bidang yang membuatmu banyak mendapatkan ilmu kehidupan. Bagaimana menghadapi semua jenis karakter manusia lewat wawancara dengan orang tidak dikenal, membangun team yang kokoh kalau sedang menghadapi jadwal mau terbit dan disiplin diri untuk mematuhi deadline yang disepakati dengan tepat waktu. Meski nanti setelah lulus kamu tidak ingin menjadi wartawan, minimal ilmu tadi membentuk karaktermu lebih mumpuni dibandingkan hanya mendengar dosen menyampaikan materi” Romi tak kalah mengompori agar aku fokus di persma daripada kegiatan lain. 

Lihat selengkapnya