Aku lulus kuliah tepat waktu, empat tahun, dengan nilai akademik yang cukup memuaskan. Bahkan sebelum acara wisuda dilangsungkan, aku sudah diterima bekerja disebuah perusahaan asing di daerah Sukoharjo sebagai accounting. Meskipun jalur jurnalistik tidak aku lanjutkan sebagai karier ke depan tetapi sebagai kontributor tetap rubrik wisata diharian Kedaulatan Rakyat tetap aku jalani. Sekdear untuk mengobati kerinduanku akan masa indah di Pabelan Pos dan juga menjaga semangat literasi agar tidak pernah padam. Pernikahanku dengan Romi juga sudah ditentukan tanggalnya, sebulan setelah aku wisuda.
Begitu juga dengan keempat sahabat kecilku, mereka sudah settle dengan pilihan profesi masing-masing. Jono membuka usaha bengkel di pusat keramaian kota Sragen. Yadi dan Yanto masih konsisten di perusahaan tekstil tetapi sudah menanjak posisinya menjadi supervisor. Sementara Jono lebih memilih resign dan menekuni usaha dengan membeli ruko yang menjual aneka makanan ringan skala rumahan. Pusat oleh-oleh tagline tokonya. Setiap sebulan sekali kami masih meluangkan waktu bertemu, bertukar kabar dan bercerita tentang impian masa depan masing-masing. Mereka berempat belum menikah. Mereka sepakat menunggu aku yang menikah duluan baru satu persatu mereka akan menyusul. Kedengaran konyol memang tapi itulah bentuk persahabatan kami.
“Senja apakah kamu sudah tahu kalau Sangiran sekarang direnovasi total? Kamu akan terkejut kalau melihatnya” Yadi melontarkan kalimat yang membuatku mengernyitkan dahi ketika malam itu kami berkumpul dirumahku.
“Oh, ya? Wah, jadi penasaran pengen melihat kesana. Besok kalian libur tidak? Kalau bisa, bolehlah kita kesana. Yadi dan Yanto, kalian ada shif ? Kalau Tono dan Jono kan suka-suka saja mau libur kapan. Toh sudah ada yang menghandle. Iya, nggak?” kataku penuh semangat.
“Tenang, kami besok jatah libur. Dengan senang hati menemanimu. Iya, Jono dan Tono juga harus ikut. Namanya bos tidak melulu harus ada dan menunggui pekerja. Sesekali absen tidak masalah” Yanto meyakinkan.
“Ok, aku dan Jono ikut. Nanti kita ajak sekalian Romi dan Deni. Mobilnya Romi kan bisa kita dimanfaatkan daripada naik motor' Tono menimpali.