Sinar matahari menyelinap lancang melewati celah jendela, membelai punggung tangan Sora yang kulitnya sensitif terhadap perubahan suhu. Kehangatan tipis itu seperti alarm alami yang menyeretnya untuk terjaga, meski kantuk masih menggelayuti kelopak mata.
Jemarinya yang panjang dan kurus perlahan terangkat, merayap naik ke arah wajah dengan gerakan lemah, meraih ujung penutup mata satin merah muda yang senada dengan warna rambutnya. Begitu kain itu tersingkap, terlihat kelopak mata yang sembab karena lelah terjaga semalaman mengerjap, sulit dibuka, kesilauan oleh cahaya yang menyelusup dari jendela yang hanya ditahan oleh gorden tipis.
Tubuhnya mulai bergerak, gesekan halus piyama sutranya terdengar merdu saat ia menggeliat, melakukan peregangan di badannya yang terasa kaku akibat tidur yang jauh dari kata nyaman. Ia menarik napas dalam, melenguh kencang, dan menekuk telapak kakinya ke arah luar demi mencapai titik lentur yang paripurna sembari tangannya diluruskan disamping kepala. Namun, alih-alih rasa rileks yang datang, otot betisnya mendadak mengeras, terkunci seperti mesin karatan.
“Au, au, auuu!” Ia mengerang. Refleks meringkuk sambil memegangi betis dengan kedua tangan, wajahnya langsung merah padam menahan sakit.
Lalu seolah semesta tak sudi memberinya waktu barang sejenak untuk pulih dari siksaan kram itu, sebuah gedoran keras menghantam pintu. Nyaring, memekakkan, dan bergema kasar di penjuru ruangan.
Inilah konsekuensi tinggal di bangunan petak yang luasnya tak sampai lima belas meter persegi berdinding tipis. Di situ, setiap bunyi dari luar terasa seperti serangan langsung ke gendang telinga. Dari dalam pun sama. Tak ada privasi. Jadi percuma saja jika Sora berpikir untuk pura-pura tak dengar kedatangan orang diluar, orang itu sudah pasti menangkap suaranya yang tadi memekik kesakitan.
Ia mengangkat tubuhnya bangun sambil menahan nyeri, duduk di tepi tempat tidur, sebuah tempat yang sebenarnya tak layak disebut kasur. Benda itu hanya ongokan kardus-kardus bekas yang ditumpuk asal, dilapisi selimut tipis sebagai penyamar kehinaannya. Satu-satunya benda yang membuatnya tampak seperti tempat istirahat adalah bantal bulu angsa yang tergeletak pasrah. Keberadaannya menyedihkan, sama sekali tak cocok dengan kontrakan bobrok yang berbau apek itu.
“Mbak Sora! Buka pintunya!” Seruan dari luar terdengar mulai hilang kesabaran.
Sambil meringis, Sora bangkit. Menyeret kakinya melangkahi lantai keramik putih yang gagal memberi kesan bersih dan lapang pada ruangan itu. Retakan-retakan tipis yang menjalar tak beraturan di berbagai sudutnya terlihat menyedihkan, serupa dengan garis takdir Sora yang kini tak jelas arahnya.
Kakinya melangkahi tumpukan baju bekas yang telah kehilangan warna dan bentuk, disusun asal di pojok-pojok ruangan demi menyerap rembesan air yang tak kunjung usai saat hujan semalam. Kain-kain dingin dan berbau pengap itu, disebut sebagai "kompensasi" oleh sang pemilik tempat atas kebocoran yang terjadi. Namun bagi Sora, benda itu tak ayalnya ejekan nyata, terhadap hidupnya yang sedang jatuh ke titik terendah.
Selama tiga puluh dua tahun usianya, Liliana Soraya hanya mengenal penderitaan macam ini lewat layar kaca, di melodrama televisi yang ia tonton tanpa benar-benar menyimak ceritanya. Selama sepuluh tahun terakhir, kesehariannya bisa digambarkan seperti jalan tol panjang sunyi di malam hari; lurus, stabil, dan cenderung membosankan. Segalanya berlimpah, meski tak benar-benar bernyawa untuk membuatnya bersemangat menyongsong esok.
Selama itu pula ia hidup dengan berpegangan pada api dendam menyala untuk ibunya, sosok yang ia tuding sebagai penghancur masa muda dan kewarasannya, orang yang sudah sepatutnya menerima ganjaran atas perbuatan jahatnya selama sisa hidup.
Ia awalnya gadis normal seperti kebanyakan seusianya, tapi mulai sepuluh tahun lalu, ia mengubah dirinya menjadi sosok yang sepenuhnya tak berguna. Tumbuh menjadi wanita dewasa yang hanya tahu cara menikmati kenyamanan dengan setengah hati, menjelma bak parasit memuakkan, menguras harta dan menghamburkan pundi-pundi perusahaan media milik ibunya tanpa pertanggungjawaban. Tujuannya memang melihat ibunya menderita lewat angka di tagihan kartu kredit yang menggulung, sambil menutup telinga dari setiap keluhan yang ia terima lewat telepon.
Namun api dendam itu, akhirnya membakar dirinya sendiri.
Ibunya, Sherly, perempuan yang memerankan sosok antagonis nyata dalam dunianya itu dipanggil Tuhan. Sosok yang menurut Sora seharusnya panjang umur karena terlalu kejam, justru tumbang, dijemput malaikat maut dengan cepat.
“Benar-benar ibu yang tega sampai akhir,” maki Soraya di makam ibunya kala itu.
Tak sampai disitu, permusuhan antara anak dan ibu ini bahkan tetap berlangsung meski Sherly sudah berada di liang kubur. Seolah-olah melakukan serangan balik terakhir lewat kematiannya, Sherly membuat Sora terjerembab kehilangan segalanya dalam satu kedipan mata.
Alih-alih warisan, Sherly justru meninggalkan tumpukan hutang dengan angka mencengangkan. Sora tak punya pengalaman kerja apalagi pengetahuan bisnis, jadi dia hanya bisa mengikuti arahan dari Yordan, sekretaris pribadi ibunya, untuk melakukan ini dan itu. Tanggung jawab yang sama sekali tak pernah siap untuk ia emban.
Sebulan pertama, setelah menjual rumah ibunya untuk menutupi pengeluaran, ia masih tinggal di hotel bintang lima. Dibuai harapan kosong kalau dirinya masih berada di jalur aman dan badai itu akan segera berlalu. Menghamburkan uang dengan keyakinan buta bahwa solusi akan turun dari langit sebelum segalanya benar-benar runtuh. Namun, perkiraannya jelas meleset. Uangnya menipis, peluang tak kunjung tampak, dan sikap abainya perlahan berubah menjadi jerat yang menenggelamkan. Ia menyaksikan sendiri bagaimana perusahaan yang serupa perahu bocor itu tak bisa ditambal lagi. Semua uang yang tersisa, terkuras tanpa terasa, dan sampailah Sora pada momen dimana ia harus mengorbankan miliknya.