Rumah itu, Kita selalu

Arisyifa Siregar
Chapter #3

2. Pulang Tak Direncanakan

Tatapan rapuh Lidya menempel lama di wajah Sora. Otot-otot wajahnya kaku, menahan sesuatu agar keluar dari matanya. Ia berkedip cepat, namun kilap basah itu tetap terlihat.

Mereka duduk berdampingan di bangku kayu tua yang permukaannya kasar dan berlubang di sana-sini. Di bawah naungan pohon beringin rimbun yang terselip sampah-sampah plastik di sela akarnya, di taman kecil yang tak jauh dari hiruk-pikuk perkampungan kumuh tempat Sora tinggal dua bulan terakhir.

Pandangan Lidya turun perlahan. Rambut merah muda yang kusut, kaos merah lecek, jeans yang aus di lutut. Tubuh yang tampak lebih ringkih dari yang ia ingat. Ia berhenti di sana, terlalu lama.

"Jangan ngeliatin kayak gitu!" Desis Sora dingin, matanya terpaku lurus ke depan, canggung menghadapi Lidya setelah satu dekade mengabaikannya.

Wanita berambut bob coklat bergelombang, dengan mata bulat yang jadi cekung karena prihatin itu, menghela napas berat. "Lu kenapa bisa sampai kayak gini sih, Sora?"

"Ya, lihat saja sendiri," Sora tetap menatap cakrawala kosong di depannya. "Gue bahkan gak punya baju bagus buat dipakai. Besok, harus angkat kaki dari kontrakan bobrok yang gue tempati karena nunggak sewa," Paparnya datar, seperti sedang menceritakan kemalangan orang lain.

Lidya membisu. Binar matanya kian meredup, tenggelam dalam pengakuan gamblang yang tak pernah ia bayangkan akan keluar dari mulut seorang Sora, yang dulu tak pernah kekurangan.

"Lu..." ucap Sora lagi, untuk pertama kalinya menoleh ke wajah Lidya.

 Mereka sempat bertatapan dalam hening beberapa saat, momen yang terasa asing untuk ukuran persahabatan yang sedekat nadi.

"Kirimin gue uang," sambungnya sambil kembali membuang muka. Ucapannya meluncur tegas, nyaris seperti perintah. Namun jemarinya mencengkram kain jeans-nya erat. Menunjukkan betapa banyak harga diri yang harus ia telan bulat-bulat untuk mengucapkan hal itu.

Lidya mendengkus sebal. "Kenapa buat ngomong begitu saja lu harus ragu, sih?!"

Baginya, kalau Sora tiba-tiba meminta ginjalnya pun, ia akan langsung mengiyakan tanpa bertanya. Ia sudah menunggu momen ini terlalu lama, saat Sora akhirnya mau membuka hati dan kembali. Ia sudah bertekad, jika kesempatan itu datang, ia akan memeluk Sora erat-erat dan tak akan pernah melepaskannya lagi.

"Kirim nomor rekening lu, gue transfer sekarang.” Tanpa bertanya berapa yang dibutuhkan atau menjelaskan berapa yang sanggup ia beri. Lidya langsung membuka mobile banking di ponselnya. Baginya, angka tak pernah punya kuasa dalam sejarah panjang persahabatan mereka.

Sora menunduk, mengetik nomor rekeningnya ke pesan singkat pertamanya ke Lidya dalam satu dekade ini.

"Terus, lu mau tinggal di mana nanti? Mau gue bantu cari tempat baru? Atau tinggal di apartemen gue aja? Ken pasti senang banget ketemu sama lu," cerocos Lidya dengan semangat meluap-luap, ingin segera menjadi pelindung utama bagi Sora.

Tapi begitu nama suami Lidya disebut, ekspresi Sora kosong seketika. Jemarinya terhenti di atas layar. Tatapannya masih tertuju kesana, tapi tak lagi melihat. Hening merayap. Bola matanya bergeser pelan, kanan-kiri, seolah mencari celah untuk kabur.

Lidya menangkap perubahan ekspresi itu. Detik berikutnya ia tersadar.

Waktu yang telah lama bergulir membuatnya nyaris lupa bahwa Ken, suaminya, dan Sora adalah cinta pertama satu sama lain. Meski begitu, setelah ingatannya terpantik, yang menyusul bukan cemburu apalagi kesal. Bibir wanita bertubuh sintal itu mengatup sesaat, menatap Sora lebih lekat.

“Lu gak mau Ken tahu keberadaan lu?” Suaranya turun, kehilangan ujung tajamnya.

Napas pendek keluar dari hidung Sora tanpa ia sadari. Tatapannya terlepas dari layar, kembali ke Lidya. “Jangan sampai lu ngomong apapun ke dia!”

Lidya mengedip lambat. “Iya, gue janji!”

Lihat selengkapnya