Rumah itu, Kita selalu

Arisyifa Siregar
Chapter #4

3. Pria Muda Menyebalkan

Ruang tamu tempat Sora mendinginkan tubuh, sepenuhnya tak ia kenali.

Ia kira kenangan di tempat itu akan langsung menyerbu begitu ia melangkah masuk. Namun tak ada yang ia rasa. Rumah yang ia ingat kolot, dipenuhi ukiran kayu jati berat dan marmer dingin, serta banyak sekat yang modelnya hampir mirip seperti rumah tradisional jepang telah bermetamorfosis menjadi sepenuhnya modern.

Begitu pintu terbuka, ia disambut ketenangan megah. Konsep open space memadukan modernitas dengan kehangatan halus, langit-langit menjulang, dan dinding kaca membentang yang membiarkan cahaya masuk tanpa saring, menyepuh ruangan dengan rona keemasan yang nyaris menyilaukan. Palet krem, putih tulang, dan cokelat tanah meredam silau itu. Lantai kayu gelap menopang tiga sofa modular putih empuk dengan bantal karamel yang tampak mengundang untuk direbahi. Di tengah-tengah, ada meja kayu rendah, di atas karpet tenun warna pasir, sederhana, tapi presisi.

Ia menatap sekeliling, mencoba mencocokkan dengan ingatan, dan gagal. Semua benar-benar berbeda.

Beberapa dinding telah lenyap. Ruang diperluas, bahkan lantai atas nampak dipangkas demi menciptakan langit-langit tinggi itu. Di seberang pandangannya, dapur bersih terlihat. Sebuah pilihan berani untuk rumah mewah yang biasanya mengikuti standar tata letak yang wajar. Meski yang paling terlihat adalah meja bar, namun kitchen set putih berdiri di belakangnya, dipisahkan hanya oleh meja makan kayu sederhana terlihat mempesona. Di sampingnya ada tangga menuju mezzanine, ke sebuah kamar dengan jendela besar. Ada lukisan abstrak besar tergantung di tengah ruangan itu, diam, tapi mencuri pusat perhatian. Tanaman hijau di sudut-sudutnya memberi napas pada garis-garis modern yang rapi.

Secara keseluruhan rumah ini memancarkan kemapanan yang tak berisik. Semua nampak sempurna, Namun bagi Sora, semua itu terasa… salah. Terlalu rapi. Terlalu tenang. Terlalu… asing.

Ia tak tahu harus merasa lega atau kehilangan. Rumah yang pernah ia sumpah untuk ditinggalkan kini benar-benar menjadi jiwa yang sama sekali baru.

“Kenapa mau sewa di sini?”

Suara pria itu memecah hening. Lembut, hampir hangat, namun datar, tanpa empati.

Sora yang semula sibuk menyapu sekeliling, langsung beralih ke sumber suara. Dahinya berkerut, matanya menyipit bukan karena silau, tapi karena sesuatu meletup dalam dirinya yang tak suka melihat sikap pria di hadapannya.

Pria itu duduk terlalu santai dengan tangan terlipat di dada, satu kakinya menyilang hingga ujung celana hitam gombrongnya naik ke tengah betis, dagunya sedikit terangkat: gelagat yang memancarkan keangkuhan alami, bukan buatan. Seperti menunjukkan dia penguasa di tempat ini.

“Nggak ada alasan khusus,” jawab Sora sambil tetap menatap lurus.

Pria itu menyipit, tatapannya menelusuri tiap detail tanpa tergesa. “Kamu tahu siapa yang tinggal di sini?”

Dahi Sora mengeras. “Maksudnya?”

Pria itu tak menjawab. Ia menegakkan punggung, lalu condong ke depan, sikunya bertumpu di lutut. Tatapannya menahan Sora lama; kepalanya bergeser pelan ke kanan-kiri, seperti coba mengurai sesuatu yang tak kasatmata. “Kamu tahu rumah ini punya siapa?” tanyanya lagi. Suaranya turun, halus, tapi menekan.

Bibir Sora mengerucut, satu alisnya terangkat tipis. “Punya siapa?” 

Pria itu kembali diam. Tatapannya tetap menahan Sora, tak berkedip, seperti tengah menakar sesuatu di sana. “Maaf, Mbak nggak bisa sewa kamar di sini,” putusnya kemudian.

“Loh, kenapa?” Bahu Sora menegang, nadanya naik setingkat.

Ia memang bukan datang untuk menyewa, bahkan langkahnya terus terasa keliru sejak melewati pintu. Tapi penolakan barusan, dengan nada yang tak memberi ruang, meninggalkan goresan tipis yang terasa jauh lebih dalam dari seharusnya.

“Karena Mbak perempuan,” sahutnya enteng, seakan hal itu sepele.

Sora membeku sekejap. Rahangnya mengencang, napasnya tertahan.

“Begini, Mas…?” Ia melepas kacamata hitamnya dalam satu gerakan rapi, lalu meletakkannya di meja, pelan, terukur.

“Alex,” timpal pria itu cepat.

Sora mengangguk kecil. “Oke, Mas Alex—”

Lihat selengkapnya