Rumah itu, Kita selalu

Arisyifa Siregar
Chapter #5

4. Nama yang Tak Seharusnya

Secara keseluruhan, Sora mengakui segala tentang ruangan itu mengesankan. Namun anehnya, terasa steril. Tak ada satupun jejak foto keluarga atau pajangan dokumentasi pribadi yang menunjukkan identitas pemilik rumah. Terlalu bersih, nyaris tak ada jejak kehidupan nyata. Semua perabotan tertata rapi, bersih, terlalu sempurna hingga terasa tidak manusiawi. Seolah sosok pemiliknya benar-benar disembunyikan identitasnya.

Karena tak menemukan apapun di sekitar, rasa penasaran Sora menuntun pandangannya ke lantai mezzanine di atas. Kamar siapa itu? Kamar Alex, atau kamar pemilik rumah?

“Mau lihat-lihat ke atas?”

Suara Alex memecahkan lamunan. Pria itu mendekat sambil membawa gelas goblet berisi es teh. Ia menyodorkan minuman dingin itu, lalu memberi isyarat menuju tangga kayu yang menanjak sunyi. “Ayo!”

Sora bergeming. Gagal memahami perilaku pemuda itu.

Meski rasa ingin tahu membakar dadanya, tawaran pria itu jelas janggal, seperti ada maksud terselubung. Kenapa juga dia harus diajak ke atas sana? Bagaimana juga ini tempat asing, meskipun tak sepenuhnya asing, belum lagi di luar sedang hujan deras, suara hujan jelas akan meredam suara dari dalam rumah ini kalau-kalau dia berteriak meminta tolong. Pikirannya yang paranoid sudah melalang buana, tergambar jelas dari ekspresi wajahnya yang mengkerut siaga.

Menyadari Sora tak bergerak, Alex menoleh dari tengah anak tangga. “Ayo! Mau lihat lukisan itu, kan?” ajaknya dengan nada serius.

Dia pikir begitu? Gumam Sora dalam hati. Memang wajar sih kalau pria itu berpikir Sora tertarik dengan lukisan yang kelihatan dari ruang tamu itu, tapi masa iya niatnya mengajak ke lantai atas cuma karena merasa tamunya tertarik pada lukisan yang jelas-jelas terkurung rapat di dalam kamar? Sora yakin pria ini punya niat lain, entah apa, ia tak bisa menebak.

Tapi rasa penasaran Sora lebih besar dari rasa takutnya.

Otaknya mulai merencanakan gerakan perlawanan, dan cara kabur kalau-kalau pria itu macam-macam. Sepatu dengan hak runcingnya pasti lumayan sakit jika dilemparkan ke wajah, bukan? Tanpa sadar ia mengangguk. Merasa cukup punya senjata untuk menjaga diri.

Ia pun mulai bergerak, menaiki tangga. Bunyi ujung stiletto-nya berderap mantap di atas permukaan kayu, berpacu dengan detak jantungnya sendiri yang makin siaga. Pria itu sudah sampai di depan pintu, dengan gerak santai membuka benda yang ternyata tak terkunci itu lebar-lebar. Lalu menepi mengikuti arah pintu, hingga akses ke ruangan itu terbuka lebar.

Begitu Sora menginjak anak tangga terakhir, langkahnya terhenti mendadak. Tubuhnya kaku, seperti tertancap di lantai. Warna wajahnya luruh dalam sekejap. Matanya melebar, terkunci pada sebuah foto besar yang tergantung di sisi lukisan abstrak, tepat di seberang tempatnya berdiri.

Alex mengerling, memang ia punya tujuan mengajak Sora ke ruangan itu. Untuk mengecek bagaimana ekspresinya ketika melihat foto aktor terkenal terpajang di sana.

“Kenapa?” ia mendekat, wajahnya berubah heran ketika ekspresi yang Sora tunjukkan berbeda dari ekspektasinya.

“Itu... kenapa foto orang itu ada di situ?” Suara Sora tercekat. Jari telunjuknya terangkat ke arah dinding dengan gemetar halus yang tak bisa ia tekan. Bukan penasaran biasa apalagi kekaguman seorang penggemar, wajahnya terlihat ketakutan, seperti baru saja melihat hantu alih-alih artis terkenal.

Bukannya menjawab, Alex malah terpaku pada wajah Sora.

Sesaat kemudian matanya menyala, seolah kabel putus di kepalanya mendadak tersambung. “Ah!” serunya, kaget sekaligus takjub.

Ia berbalik cepat ke meja kerja di sudut kamar bernuansa monokrom itu. Tangannya menyisir deretan bingkai foto dengan gerakan terburu-buru. “Ketemu!” gumamnya puas.

Sebuah bingkai kecil ia angkat. Matanya bolak-balik antara foto itu dan Sora yang masih mematung di ambang pintu. Bibirnya menarik membentuk seringai tipis. “Bingo,” ucapnya ringan. “Pantes aku ngerasa pernah lihat kamu.”

Ia melangkah kembali, menyodorkan bingkai itu ke Sora. “Ini kamu, kan?” tunjuknya pada salah sosok di dalam foto, di antara empat sosok lainnya.

Sora meraih bingkai itu dengan tangan yang terasa berat, seperti bukan miliknya sendiri. Jemarinya menyentuh pinggirannya dengan ragu. Matanya mengunci gambar di dalamnya. Dahinya mulai basah, satu tetes keringat mengalir pelan di pelipis, meninggalkan rasa dingin yang tak nyaman. Ia menatap lebih lama. Foto itu. Bingkai itu. Sesuatu yang terlalu akrab untuk disebut asing, dan terlalu jauh untuk disebut miliknya lagi.

Benda yang pernah ia tinggalkan. Saat ia pergi dari rumah ini.

Kenapa benda ini ada disini?

Seperti kilat menyambar, sebuah kesimpulan ekstrem mendadak terbentuk di kepalanya.

Apa mungkin… pemilik rumah ini…?

“Mbak? Kak? Soraya? Sora?” Suara Alex mengalun putus-putus, berusaha menembus kabut tebal yang mendadak mengurung kesadaran Sora. Panggilannya terdengar jauh, seperti datang dari dimensi lain bukan dari pria yang menepuk pundaknya. Sora menatap Alex dengan pupil mata melebar, memantulkan bayangan pemuda itu dengan tatapan ngeri yang tak tersamarkan.

Alex memajukan tubuhnya, mencoba menangkap sisa-sisa fokus di mata Sora. “Kamu... temannya Evan?”

Lihat selengkapnya