Rumah itu, Kita selalu

Arisyifa Siregar
Chapter #6

5. Nama Lain yang Tak Seharusnya

Sora setahun lebih tua dari teman-teman seangkatannya. Katanya, ia sengaja ditunda masuk sekolah dasar demi mengikuti les pembangunan karakter, jawaban yang selalu diberikan ibunya ketika ada yang bertanya. Padahal, alasan sebenarnya jauh lebih kompleks.

Dalam hidup Sora, cinta terasa seperti konsep asing. Ia bahkan tak yakin bisa memahaminya, karena tak pernah benar-benar tahu rasanya dicintai sepenuh hati.

Satu-satunya sosok yang terlintas di benak Sora ketika memikirkan cinta yang tulus adalah mendiang ayahnya. Tapi yang tersisa hanya potongan-potongan samar, kenangan yang tak pernah utuh. Meski begitu, setiap kali bayangannya lewat, dada Sora menghangat. Membuktikan ada sesuatu yang pernah tinggal di sana, meski ia tak yakin apa.

Setelah ayahnya meninggal dalam kecelakaan, ibunya langsung sibuk kerja mengambil alih perusahaan, sementara Sora langsung dikirim ke berbagai akademi dari pagi sampai petang. Tindakannya seperti tak memberi kesempatan anaknya semata wayangnya itu untuk bersedih. Terlalu sibuk berkegiatan agar tak sempat menangis di luar, dan terlalu lelah untuk berduka ketika sampai di rumah. Hal itu terjadi terus menerus selama hampir dua bulan, hingga Sora kecil tak mampu menghadapi dirinya sendiri. Awalnya kelelahan itu terlihat normal, sebatas fisik, sampai akhirnya mulut Sora benar-benar terkunci. Ia tak menyahut atau bersuara sama sekali.

Sherly melakukan berbagai cara agar anaknya mau bicara lagi, diburu waktu harus segera mengirimnya ke sekolah dasar. Namun Sora tetap diam hampir setengah tahun lamanya, bungkam itu menjadi perlawanan pertama Sora yang lebih nyaring dari apapun. Dan dirinya yang berusia enam tahun itu mengalahkan ibunya, Sherly menyerah, menghentikan semua kegiatan Sora, mengikuti saran dokter agar mengistirahatkannya, memberi waktu berkabung yang semestinya.

Meski pada akhirnya Sora pulih sendiri, dan masuk sekolah dasar di usia yang lebih tua. Pengalaman itu meninggalkan satu pelajaran yang tertanam kuat di kepalanya: saat menginginkan sesuatu dan tidak tahu harus berbuat apa, diam dan mengikuti arus adalah pilihan paling aman.

Maka ketika perasaan asing mulai menyusup dalam kehidupannya, saat ia mulai menyukai sosok Evan dan mempertahankan keseharian mereka, tapi ragu dengan perasaan pria itu, Sora memilih diam dan mengikuti arus. Sayangnya, arus itu justru membawanya pada rangkaian rasa sakit yang mengubah hidupnya selamanya.

Pilihan yang sejak awal, memang sudah salah.

***

Tok! Tok! Tok!

Sora membenci suara itu. Suara ketukan pintu.

Kemarin, ia benci mendengar gedoran Mpok Mirah yang menagih sewa. Sekarang, mendengar suara itu, rasanya jauh lebih buruk. Karena dibalik sana berdiri orang yang paling ia hindari di dunia ini: Evan Arbor.

“Alex!” panggil Evan dari luar.

Sora menciut. Suara berat yang terdengar ramah itu membangkitkan kenangan masa lalu yang ia kira sudah terkubur rapi.

“Alex Ezra, keluar sebentar, kita perlu ngomong!” desak Evan sambil mengetuk pintu sekali lagi.

Alex bersiap bangkit dari tepi kasur, namun tangan Sora reflek menyambar lengannya. Cengkeramannya tidak seberapa kuat, namun tekanannya terasa mendesak, hingga Alex berhenti, menatap jemari Sora yang melingkar di lengannya.

Mulut Sora setengah terbuka, jelas-jelas ingin bicara, namun lidahnya kelu tertahan ragu. Bibirnya tertutup lagi, dengan rahang yang mengatup lebih erat dari sebelumnya. Ia sendiri tak tahu permintaan apa yang hendak ia lontarkan setelah menahan tangan pria itu, perlindungan macam apa yang ia harapkan dari pria yang mengaku adik tiri mantan suaminya. Tapi yang jelas, ia belum siap kalau pintu kamar itu dibuka. Ia tak mau menghadapi Evan. Tidak untuk sekarang.

Alex tetap diam, tak menyela. Tatapannya bertahan beberapa detik di wajah bingung Sora, menduga-duga apa yang ada di dalam pikiran wanita itu. Sebelum akhirnya mengangguk tipis. “Tenang,” ucapnya rendah. “Aku bakal bikin dia pergi. Dia biasanya nggak tinggal di sini, paling cuma mampir.”

Mata Sora langsung menyala, hampir terpana karena pria ini seolah bisa membaca isi pikirannya yang bahkan ia sendiri tak pahami. “Serius?”

“Iya.” Alex menepuk punggung tangan Sora, sebelum mendorong dari lengannya dengan gerakan pelan yang teramat sopan. "Tenang aja," bisiknya menenangkan.

Sora terdiam sejenak, menimbang keadaan.

Kalau Evan pemilik suara berat, dingin, namun setiap katanya justru terasa hangat, meninabobokan logikanya. Alex kebalikannya: sejak awal, Sora menangkap kata-kata dingin yang terbungkus suara hangat. Membuatnya langsung waspada. Jadi saat Alex tiba-tiba melunakkan kata-katanya, kecurigaan Sora justru melonjak.

Namun ingatannya beralih pada apa yang baru saja terjadi. Alex telah menolongnya, tanpa banyak tanya, tanpa menuntut penjelasan, tanpa menghakimi kekacauan yang ia buat. Setidaknya, itu terasa nyata. Jadi setelah menarik napas pelan, Sora memutuskan menekan ego dan kecurigaannya dalam-dalam. Memilih percaya pada pria itu kali ini.

"Oke," ucapnya pelan, “Aku minta tolong sekali lagi.”

Lihat selengkapnya