Tatapan Alex bergerak cepat dari satu wajah ke wajah lain. Bola matanya menangkap setiap perubahan ekspresi, sementara kepalanya tetap diam. Tangannya terus mengorak-arik telur di atas wajan.
Ketegangan di antara kedua wanita itu terasa jauh lebih pekat dari yang ia bayangkan.
Livi, yang baru masuk sambil menenteng tas kulit sintetisnya, langsung berhenti di balik pintu. Tubuhnya kaku, bahkan lebih kaku dari jaket raw denim yang melekat di badannya. Mata besarnya membulat, nyaris membelalak. Ekspresinya mirip Sora beberapa jam lalu saat melihat foto Evan.
Sebaliknya, Sora justru duduk diam di sofa. Jaket kulitnya tergeletak santai di samping bantal, namun tubuhnya tampak siaga. Dagunya terangkat, kedua tangan terlipat rapat di dada, matanya menatap lurus ke arah Livi. Ia nyaris tak bergerak, tapi auranya terasa menekan.
Melihat itu, hawa dingin merayap di tengkuk Alex hingga ia refleks bergidik. Keheningan di seberang sana terasa seperti tenang sebelum badai, seperti laut yang surut sebelum tsunami menggulung daratan.
Lalu Sora membuka suara lebih dulu.
“Ternyata bener… seorang Livi tinggal di sini.”
Alis Livi terangkat tinggi. “Kenapa lu ada di sini?” balasnya lebih sinis.
Ia menginjak bagian belakang sepatu mary jane coklatnya, melepasnya tanpa perlu membungkuk, lalu menggantinya dengan sandal rumah berbulu warna senada. Gerakannya rapi, nyaris otomatis, tubuhnya jelas sudah hafal rutinitas itu.
Tanpa menoleh, ia langsung melintasi ruang tamu. Dagunya sedikit terangkat, bahunya tegak. Langkahnya jatuh mantap dengan ritme stabil, tampak santai tanpa jeda sedikit pun. Tak ada tanda bahwa ia benar-benar menunggu jawaban dari Sora.
Di sofa, Sora kembali diam. Ia tahu pertanyaan itu memang tak sungguh-sungguh meminta jawaban. Meski begitu, matanya tak lepas sedetikpun dari sosok Livi, mengikuti setiap geraknya seperti predator yang mengawasi mangsa.
“Alex!” panggil Livi, memecah keheningan.
Alex yang sedari tadi pura-pura sibuk sambil memasang telinga lebar-lebar langsung menoleh. “Eh, Kak Livi, udah pulang?” sapanya dengan keterkejutan palsu yang terdengar meyakinkan.
“Aku mau ngomong bentar,” ucap Livi sambil mengedikkan kepala ke arah tangga, memberi isyarat agar Alex mengikutinya ke lantai atas.
“Oh, oke.”
Alex segera memutar kenop kompor. Api padam seketika, menyisakan desis singkat. Ia langsung berbalik dan keluar dari dapur, mengikuti Livi yang sudah lebih dulu menaiki tangga tanpa ragu sedikitpun.
Dari sofa, Sora mengawasi keduanya. Ia bisa menebak apa yang akan mereka bicarakan di atas sana. Tangannya mengepal di sisi tubuh, menahan sesuatu yang belum sempat ia lepaskan.
Di lantai atas, Alex mengekor masuk ke kamar Livi.
“Kenapa dia ada di sini?” protes Livi begitu pintu tertutup.
Ketenangan yang tadi ia tampilkan di depan Sora langsung runtuh. Matanya bergetar tipis, panik yang gagal disembunyikan. Tas di tangannya dilempar sembarangan ke atas kasur, jatuh dengan bunyi tumpul.
“Siapa? Sora?” Alex menanggapi ringan, pura-pura tak mengerti.
“Kamu sudah tahu dia siapa?” Alis Livi terangkat tinggi.
“Teman Evan.”
Mulut Livi terbuka, lalu berhenti bergerak, menelan kembali kata-katanya untuk merespon ucapan polos Alex. Ia menarik napas singkat, memaksa pikirannya tetap jernih. Terlalu banyak yang harus dijelaskan jika ia ingin meluruskan pengetahuan pria itu. Ada yang lebih mendesak untuk ditangani.