Rumah itu, Kita selalu

Arisyifa Siregar
Chapter #8

7. Sang Penengah

Selama ini, Lidya selalu merasa memiliki dua saudara perempuan: Livi, adik kandung yang hanya terpaut delapan belas bulan darinya, dan Sora, sahabat yang kadang bahkan lebih ia sayangi daripada Livi sendiri.

Di masa SMP, Lidya bukan tipe remaja yang menonjol. Ia lebih sering berada di sudut kelas, tenggelam dalam pikirannya sendiri, dengan rambut bob ikal yang tak pernah benar-benar rapi, kacamata berlensa tebal yang nyaris menutupi wajahnya, serta kawat gigi yang membuat senyumnya terasa asing bahkan bagi dirinya sendiri.

Karena nilai ujian SD yang memukau, Lidya berhasil masuk kelas unggulan di SMP, semacam “akuarium” bagi empat puluh siswa terpintar. Di sana, ia menempati peringkat ke-40. Di mata murid kelas lain, ia mungkin jenius, tapi di kelasnya sendiri, ia dipandang yang paling bodoh.

Statusnya itu awalnya hanya gurauan kecil, perlahan melebar menjadi celaan, lalu berubah menjadi perundungan. Lidya tak pernah mengadu pada siapa pun. Ia menelan semua malu dan luka itu sendirian selama setahun penuh, tetap berpura-pura baik-baik saja di depan orang tuanya, sambil diam-diam menyusun rencana untuk mengubah jalur nasibnya.

Sekolahnya memang gemar mengotak-ngotakkan murid berdasarkan prestasi. Lidya yang menyadari hal itu sengaja membuat nilainya jeblok selama kelas tujuh. Ia bertaruh dengan angka cukup rendah agar tak masuk kelas unggulan lagi di kelas delapan, namun tetap aman agar tak tinggal kelas atau memancing panggilan orang tua.

Strategi itu berhasil. Di kelas delapan, ia masuk ke kelas yang dipenuhi murid-murid dengan peringkat terbawah saat ujian kenaikan kelas. Namun perhitungannya meleset. Perundung tak selalu datang dari mereka yang merasa pintar. Anak-anak dengan nilai akademik di bawahnya justru mengejeknya bodoh hanya karena ia tak paham bahasa gaul atau topik obrolan mereka.

Suatu hari, saat tekanan itu kembali datang, teman sebangkunya yang selama dua bulan pertama terlihat acuh, hingga Lidya yakin gadis itu bahkan tak mengingat namanya, tiba-tiba menggebrak meja begitu keras sampai suaranya menggema di ruang kelas.

“Sekali lagi lu ganggu Lidya, gue bikin gigi lu rontok semua!”

Ancaman itu terdengar lugas dan tajam. Diucapkan bukan dengan tatapannya menyala oleh emosi meledak-ledak, tapi dengan sorot lelah penuh keengganan. Namun justru di situlah letak kekuatannya. Ia tampak berani, mendominasi, tanpa perlu memamerkan kemarahan berlebihan.

Itu adalah pertama kalinya Lidya menyandarkan nasibnya pada Sora. Dan tanpa ia sadari, sejak saat itu ia mulai menggantungkan seluruh dunianya pada bahu sahabatnya tersebut.

Sora bukan tipe sahabat yang manis dengan tutur kata lembut. Ia sering terlihat seolah tak peduli apakah ucapannya menyakiti orang lain, padahal jauh di dalam kepalanya, ia selalu tahu persis apa yang harus dikatakan dan kepada siapa kata-kata itu ditujukan. Sora adalah api yang hangat dan penuh perhatian, hanya saja dibungkus rapi dalam cangkang cuek yang dingin.

Ia selalu ada untuk Lidya, menjaga sahabatnya itu dari berbagai kesulitan, termasuk saat keluarga Lidya terpuruk secara finansial. Sora membantu tanpa pamrih, karena dari semua hal yang ia miliki dalam hidup, uang adalah satu-satunya yang paling berlebih padanya.

Bagi Lidya, Sora bukan sekadar sahabat. Ia adalah penyelamat, saudara kedua, sosok yang seperti dikirim Tuhan untuk mengisi kekosongan dalam dirinya. Lidya menyayangi Sora, merasa berhutang budi, dan diam-diam berjanji pada dirinya sendiri bahwa apapun yang terjadi, ia akan tetap berdiri di sisi sahabatnya itu, tak peduli siapa atau apa yang harus ia hadapi.

Karena itu, ketika Sora memilih memendam lukanya dan menghilang selama sepuluh tahun, Lidya tak pernah benar-benar marah atau kecewa. Yang ia rasakan justru penyesalan yang jauh lebih besar terhadap dirinya sendiri. Ia membenci kenyataan bahwa saat sahabatnya berada di titik paling hancur, ia tidak ada di sana, hanya karena malu pada tindakan adiknya sendiri.

Selama menunggu, Lidya berjanji bahwa jika Sora kembali, ia akan menjadi orang pertama yang berdiri di garis depan untuknya, persis seperti yang dulu Sora lakukan untuknya.

Itulah sebabnya, saat mendengar dari Livi bahwa Sora berada di rumah itu, rumah yang dulu milik Sora, namun entah bagaimana kini berpindah tangan ke Evan dan ditempati bersama Livi, Lidya tak berpikir panjang. Ia langsung meminta bertemu. Bukan karena permintaan Livi, melainkan murni karena kekhawatirannya pada sahabatnya itu.

Di sebuah kafe kecil dengan lampu hangat kekuningan dan suara mesin kopi yang tak pernah benar-benar berhenti, Sora duduk di hadapannya. Namun ia hanya menanggapi rentetan saran dan kekhawatiran Lidya dengan datar.

“Gue tahu apa yang lagi gue lakuin.”

Lidya tak terkejut dengan respons dingin Sora. Begitulah Sora yang ia kenal, reaksinya minim, seolah tak benar-benar peduli dengan masalah yang tengah ia hadapi. Padahal ia tak pernah benar-benar mengabaikan apapun, saat menetapkan pikiran, langkahnya akan maju terus. Tak ada yang bisa menghentikan, kecuali dirinya sendiri.

Keteguhan itulah yang membawa Lidya ke momen ini.

Klik.

Lidya berdiri tegak di ambang pintu, jemarinya mencengkram gagang koper di samping badan. Matanya langsung mengunci Sora, yang membeku setelah membukakan pintu. Di belakangnya, Livi maju dengan tatapan tak percaya, sementara Alex yang duduk di sofa hanya terpaku, alisnya sedikit terangkat, menyaksikan adegan yang belum sepenuhnya bisa ia cerna.

“Ngapain?” sela Livi, melangkah cepat hingga berdiri di samping Sora. Nada suaranya naik, syok yang tak sempat ia tahan.

Tatapan Sora turun pada koper Lidya. “Serius, Lid?” gumamnya lirih, terdengar lebih lelah daripada bertanya.

Lihat selengkapnya