Setelah keributan kemarin, rumah itu terbilang kelewat tenang. Bukan ketenangan yang membawa nyaman, melainkan seperti jenis hening yang mengisi jeda sebelum adegan jumpscare di film horor. Atmosfernya membuat was-was, pengap oleh sesuatu yang tak terlihat namun terasa.
Sora memilih berdiam diri seharian di dalam kamarnya, sengaja mengasingkan diri, tak keluar untuk sarapan atau makan siang.
Kini, waktu sudah bergulir lebih dari dua puluh empat jam sejak terakhir kali ia menginjakkan kaki di ambang pintu. Akhirnya menarik diri keluar, dan langsung disambut oleh kegelapan lorong yang lebih pekat daripada keremangan di dalam kamarnya sendiri.
Rumah ini kosong. Benar-benar sepi. Kesunyiannya terasa begitu absolut hingga suara detak jantungnya sendiri terdengar seperti dentuman. Jelas, tak ada siapa pun di dalam bangunan ini selain dirinya. Namun ia justru lega. Energinya belum pulih untuk menghadapi siapapun setelah berdebat dengan Lidya dan insomnia setelahnya. Ia tak ingin berbicara dengan siapa pun.
Ia mulai berjalan menyusuri lorong dengan langkah yang diseret pelan. Tangannya meraba pegangan tangga, jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan kayu yang dingin itu secara ritmis, perwakilan dari otaknya yang tengah menerka-nerka keberadaan penghuni lainnya.
Livi sudah pasti berada di kantor. Lidya pun kemungkinan besar sedang bekerja; Sora sangat berharap begitu. Apapun yang sahabatnya itu lakukan, Sora hanya ingin satu hal: Lidya tidak bertemu dengan Ken dan mulai membahas tentang dirinya. Meski terbilang mustahil, mana mungkin si suami tak tahu kalau istrinya disini sibuk siap-siap melerai pertikaian antara sahabat dan adiknya yang belum tentu terjadi.
Lalu Alex. Entah ke mana pria itu. Selama beberapa hari tinggal di sana, Sora menyadari bahwa kalau pria itu bekerja tanpa jam yang jelas. Kadang ia berangkat di tengah malam dengan motor besarnya yang menderu kencang, kadang pergi sebelum fajar menyingsing, dan di lain waktu, hanya keluar sebentar lalu muncul kembali di dapur.
Sora tak pernah bertanya apa pekerjaan pria itu, juga tak memiliki ketertarikan untuk mencari tahu. Baginya, Alex hanyalah variabel lain yang sebaiknya tidak ia utak-atik lebih jauh, meski pria itu adalah orang yang paling bisa ia korek tentang Evan dan Livi. Namun martabatnya menahan untuk melakukan hal memalukan seperti itu.
Ia sampai di lantai bawah, lampu ruang tamu yang mati membuat bayangan perabotan terlihat seperti siluet monster yang mengintai. Sora menghela napas panjang, mencoba mengusir beban yang kembali merayap di tengkuknya karena masih mengingat omelan Lidya kemarin. Di tengah kekosongan itu, ia merasa seperti sedang berada di dalam perut paus, terperangkap, gelap, dan menunggu untuk dicerna oleh masa lalunya sendiri.
Ia hendak berbelok ke arah dapur, berniat membasuh tenggorokan yang terasa gersang dengan air dingin, saat ujung matanya menangkap sesuatu yang janggal. Sebuah siluet manusia duduk membeku di ruang tamu. Satu-satunya yang menerangi sudut itu hanya cahaya bulan yang masuk dari dinding kaca besar di seberangnya.
Langkahnya langsung terkunci. Jantungnya berdegup kencang, memukul-mukul rongga dadanya hingga mendadak sesak. Matanya menyipit, mencoba menembus kegelapan untuk menegaskan pandangan. Di sana, di atas sofa, benar-benar ada seseorang yang duduk. Bahunya lebar dan… Sora menahan napas, pria itu tampak tidak mengenakan baju.
Ketakutan langsung merayap ke seluruh sarafnya. Pikirannya langsung melompat ke skenario terburuk: perampok? Orang gila mesum yang menyelinap masuk?
Insting bertahan hidupnya mengambil alih. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia meraba permukaan meja di sampingnya. Jemarinya menyentuh kaca yang dingin, sebuah gelas besar. Ia langsung menggenggamnya kuat-kuat, mengangkatnya setinggi bahu, siap untuk melempar jika bayangan itu bergerak.
"Siapa?!" pekik Sora, suaranya melengking tajam, mencoba menutupi getaran ketakutan yang nyata. Tubuhnya tegang, kakinya memasang kuda-kuda untuk lari atau menyerang.
Siluet itu bergerak, menoleh perlahan, memecah kesunyian dengan gerakan yang santai, kontras dengan ketegangan yang dialami Sora.
"Sora?"
Suara hangat itu, disertai serak khas orang yang meringis menahan sakit, meski awalnya ragu, ia cukup yakin.
Cahaya bulan yang menyusup dari celah jendela kini jatuh tepat di wajah pria itu. Batang hidungnya yang tegas menangkap pendar keperakan, sebelum ujungnya berkerut pelan, menampilkan ekspresi heran yang belum familiar di mata Sora.
Itu Alex.
Dengan satu helaan napas berat, Sora menurunkan gelas di tangannya perlahan. Ketegangan di bahunya sepenuhnya luruh, tergantikan oleh rasa kesal yang mulai mendidih karena hampir saja ia melempar gelas itu ke kepala tuan rumahnya sendiri.
“Kenapa gelap-gelapan, sih!” Ia meletakkan gelasnya lagi, langsung bergerak ke sisi lain ruangan, jemarinya meraba saklar di dinding. Lampu ruang tamu menyala, memuntahkan cahaya putih hangat yang membedah kegelapan.
Begitu cahaya cukup bagi matanya untuk melihat jelas, Sora langsung mengerjap. Matanya jatuh pada tubuh Alex yang tanpa penghalang. Dari tempatnya berdiri kini terlihat luka di bagian tulang belikat pria itu. Merah dan basah.