Rumah itu, Kita selalu

Arisyifa Siregar
Chapter #10

9. Pemain Tambahan

Setelah rentetan kembang api yang mereka nyalakan, yang mungkin saja sudah membuat tetangga menggerutu dalam diam, keduanya berakhir duduk di lantai teras. Membelakangi dinding kaca yang biasanya dipandangi dari ruang tamu. Malam terasa jauh lebih sunyi sekarang, hanya menyisakan aroma tipis bekas mesiu di udara dan sisa-sisa asap yang perlahan larut bersama angin malam yang dingin.

Kedua lutut Sora ditekuk, dipeluknya erat di depan dada sementara dagunya bertumpu di atasnya. Rambut merah mudanya yang tergerai sedikit berantakan tertiup angin. Cahaya lampu taman jatuh lembut, membelai garis wajahnya yang tampak lebih rileks. Sementara itu, Alex meluruskan kakinya di atas rumput, duduk condong ke belakang dengan kedua telapak tangan bertumpu di lantai. Terlihat santai, seperti seseorang yang tak memiliki beban dunia di punggungnya, yang padahal penuh luka.

Thanks udah diajak main yang seru,” ucap Sora sambil menoleh ke Alex. Suaranya ringan, ada sisa tawa yang belum benar-benar hilang dari matanya.

Sudut bibir Alex menekuk ke bawah, pura-pura meremehkan. “Ini sih belum apa-apa.” Sorot matanya yang jenaka berkilat di kegelapan.

Mata Sora bergerak ke arah punggung Alex yang nyaris membentur dinding saat pria itu sedikit bergeser. Tangannya refleks terulur, jemarinya melingkar di lengan Alex sebelum menariknya pelan mendekat ke arahnya.

“Sinian sedikit! Nanti lukanya basah lagi kalau kena tembok,” tegurnya dengan nada protektif yang tak disengaja.

Alex tertegun. Tak langsung mengikuti tarikan itu, melainkan mematung sejenak. Matanya menatap Sora lekat-lekat, mencoba mencari sesuatu di balik sorot mata wanita yang biasa tak acuh pada keberadaannya di rumah itu.

“Emangnya kita boleh dekat-dekat?” tanyanya kemudian.

Kerutan muncul di tengah dahi Sora. “Kenapa nggak boleh?” tanyanya spontan. Terlalu fokus pada kata ‘tidak boleh’ yang terdengar seperti larangan baginya, ketimbang menyadari konotasi ‘dekat-dekat’ yang dimaksud Alex.

Senyuman tipis bin licik muncul di bibir pria itu. Sebelum Sora sempat bereaksi, Alex bergerak dengan sentakan cepat, memangkas habis jarak di antara mereka sampai bahu mereka beradu.

“Jadi boleh dekat-dekat begini?” bisik Alex dengan nada rendah yang mendominasi, matanya mengunci pandangan Sora dari jarak yang hanya terpaut beberapa inci.

Saking terkejutnya, Sora sempat membeku selama beberapa detik. Jantungnya berkhianat, berdegup lebih kencang saat menyadari posisi mereka yang terlalu dekat. Namun, dengan cepat otaknya kembali mengambil kendali logis. Tangannya langsung terangkat, ujung jari telunjuknya mendarat pelan di pipi Alex sebelum ia mendorong wajah pria itu dengan tekanan yang cukup kuat untuk membuatnya berpaling.

“Yang sopan sama yang lebih tua!” tegurnya, suaranya berusaha terdengar tegas meski ada sedikit nada gugup yang terselip.

Alex terkekeh, suara tawa yang renyah dan jujur. “Jadi sekarang ngaku tua, nih?” ejeknya. Ia kembali bergeser, memberikan ruang napas di antara mereka.

Mata Sora memicing curiga, mengunci setiap kerutan halus di wajah Alex. Selama beberapa hari terakhir, melalui pengamatan, Sora sampai pada satu kesimpulan: Alex adalah tipe orang yang gemar pura-pura tak tahu hanya untuk memancing reaksi lawan bicaranya. Pria ini seperti penikmat ekspresi.

Mulai dari caranya memancing Sora untuk masuk ke kamar Evan, keputusannya menerima sewa kamar secara mendadak, hingga dengan sengaja membenturkan Sora dan Livi. Puncaknya kemarin, saat dengan wajah tanpa dosa, ia langsung memberikan kamar pada Lidya, yang padahal jelas-jelas Sora dan Livi memberikan isyarat agar dirinya menolak. Alex jelas bukan pria lugu yang kebetulan berada di tengah badai rumah itu; ia adalah pengamat yang memahami situasi dengan kecepatan luar biasa.

“Kamu tahu sesuatu, kan?” tebak Sora tajam. Menyimpulkan tindakan menggoda Alex barusan bukan sekadar iseng, tapi sinyal kalau pria ini sudah memegang kepingan informasi.

Lihat selengkapnya