Rumah itu, Kita selalu

Arisyifa Siregar
Chapter #11

10. Si Paling Keras Kepala

Perasaan cinta sering kali tumbuh dengan cara yang paling tidak masuk akal; ia menyelinap diam-diam tepat saat otak sedang sibuk menyangkal. Ketika pikiran bersikeras menampik sesuatu yang dianggap tabu, rasa itu justru mengkristal di balik mulut yang sibuk melakukan bantahan.

Terbukti dari hubungan Sora dan Ken, sepupu sekaligus cinta pertama satu sama lain, hubungan yang ibarat benang kusut paling sulit diurai di antara semua orang dalam foto di kamar Evan. Ironisnya, Ken kini menjadi suami sahabat baik Sora sendiri. Memperjelas bahwa takdir memang bisa bergulir liar dan menentang logika.

Kerumitan itu bermula di tahun kedua SMA Sora, saat Livi yang baru duduk di kelas sepuluh bergabung dengan Klub Karya Ilmiah. Gadis itu kerap kali datang ke hadapan Lidya dan Sora dengan wajah tertekuk, mengeluhkan betapa sulitnya menandingi kemampuan anggota lain yang jauh lebih cemerlang. Namun, di balik rasa payah dan keluhannya, matanya berbinar semangat. Tidak terlihat sedikitpun untuk menyerah. 

“Aku pengen minta bantuan sama senior kelas dua belas, si ketua klub, tapi nggak berani soalnya orangnya pendiam banget,” curhat Livi sambil mengaduk-aduk kuah bakso di kantin, suaranya teredam bisingnya obrolan siswa lain di sekeliling mereka. Lidya yang duduk di sebelahnya hanya mengangguk-angguk prihatin, sementara Sora yang berada di seberang meja langsung menaikkan sebelah alis.

“Siapa namanya?” tanya Sora, otomatis merasa perlu turun tangan melihat adik dari sahabatnya itu kesulitan. ‘Insting kakak’-nya yang protektif langsung terpancing. Langsung berniat menemui orang itu untuk membantu Livi.

Siang itu, di bawah bayang pohon rindang di sudut lapangan sekolah, Sora akhirnya bertemu dengan sosok yang dimaksud.

Ia mengira itu pertemuan pertamanya dengan Kenaan. Pria bermata kecil dengan tatapan yang memancarkan ketenangan. Sora langsung terpesona pada penampilannya; rambut Ken yang hitam lurus jatuh seperti sutra, kontras dengan bibir kemerahan yang tampak seolah memakai pelembab berwarna. Saat pria itu mengangguk pelan sebagai sapaan, Sora merasa seperti direngkuh aura ramahnya.

Baru belakangan ia tahu bahwa Ken adalah sepupu dari pihak mendiang ayahnya.

Sementara itu, Ken sebenarnya langsung mengenali Sora. Mereka memang seumuran. Ken masih ingat, dulu saat pertemuan keluarga besar, pamannya, ayah Sora, sering memintanya menemani gadis kecil itu bermain. Mereka sepantaran, bahkan dibilang akan masuk sekolah dasar di tahun yang sama. Namun setelah sang paman meninggal, Ken tak pernah lagi melihat sepupu perempuannya itu. Hubungan kedua keluarga seolah terputus begitu saja, tertelan duka dan kesibukan masing-masing. Kalau saja Ken tidak begitu mengingat namanya, mungkin ia tak akan pernah sadar bahwa gadis di hadapannya adalah kerabat yang lama hilang dari ingatannya.

Anehnya, setelah tahu mereka sepupu dan pernah dekat saat kecil, Sora justru jadi terus memperhatikannya. Setiap kali Ken masuk dalam jangkauan pandang, fokusnya otomatis tertarik ke sana. Ada rasa menggelitik dalam dirinya, saat otak dan hati saling berdebat tentang sikap yang seharusnya ia tunjukkan.

Lalu, ketika Sora sibuk menyembunyikan gejolak asing itu, Lidya nyeletuk.

“Lu suka kan, sama dia?”

“Enggak lah, gila!” bantah Sora keras, suaranya sedikit meninggi. “Lagian dia sepupu gue!”

Namun justru saat itu perasaannya yang masih samar malah terkonfirmasi dan tak bisa ditampik lagi, dipicu oleh lelucon sahabat, ditolak mentah-mentah oleh logika, dan dimulai saat dia pura-pura tak tahu keberadaan percikan rasa asing itu, dan mengabaikan ketertarikannya.


Bagi Ken, sosok Sora yang sering merengut dan bicara ketus justru punya daya tarik magnetis. Saat gadis itu berdiri di hadapannya, memblokir langkahnya tepat di depan tiang ring basket, lalu dengan percaya diri mengulurkan tangan untuk berkenalan sebelum meminta bantuan untuk adik sahabatnya, sesuatu dalam diri Ken jatuh tanpa perlawanan. Sejak saat itu, ia tahu, ia tidak akan pernah melihat Sora dengan cara yang sama lagi.

Namun, Ken bukan pria gegabah. Ia mengenal Sora jauh sebelum gadis itu menyadarinya. Sejarah keluarga mereka pun cukup kelam dan kompleks; ibu Ken dan ayah Sora adalah saudara tiri yang hubungannya jauh dari kata akur. Ken tahu betul akan hal itu, meski dari sorot mata Sora yang polos, gadis itu sama sekali tak memiliki gambaran tentang ketegangan yang terpendam di antara keluarga mereka.

Saat Sora bahkan belum sadar akan perasaannya, Ken sudah lebih dulu menahan badai pergolakan di dalam kepalanya. Ia sadar, tidak wajar baginya untuk mendekat secara terang-terangan sebagai seorang pria. Kalau ia terlalu frontal, Sora pasti akan mundur, mungkin merasa geli atau risi karena ikatan keluarga di antara mereka.

Meski begitu, Ken tak sanggup menjaga jarak. Ia enggan menjauh dari gadis yang diam-diam telah memenuhi seluruh ruang di kepalanya. Ia akui itu adalah bentuk ketamakan seorang pria yang tak mau maju, tapi juga tidak rela melepas.

Maka, saat Sora mendatanginya lagi dan meminta lebih banyak waktu untuk membimbing Livi, Ken melihat celah emas. Ia bisa tetap dekat, mengawasi setiap gerak-gerik Sora, dan memantau apakah ada pria lain yang berani mengusik hati gadis itu, semuanya, sembari berlindung di balik topeng sepupu.

“Aku mau ke museum sains weekend ini, kalian mau ikut?” tanyanya pada suatu Kamis yang tak mungkin ia lupakan seumur hidupnya.

Sebelumnya, Ken sudah menyiapkan sesuatu. Ia sadar akan terlalu mencolok jika dirinya menjadi satu-satunya pria di tengah tiga gadis. Ia butuh tameng. Karena itu, ia memutuskan mengajak satu pria lain, anggota klub yang memenuhi kriteria “aman” di matanya; seseorang yang tak ia anggap sebagai saingan.

Lihat selengkapnya