Tak pernah terbayang oleh Alex, rumahnya bisa seramai ini dalam waktu kurang dari seminggu. Kamar-kamar yang berbulan-bulan kosong sejak awal ia memutuskan untuk menyewakannya kini terisi satu per satu, bersama alur cerita yang terasa lebih dramatis daripada sinetron kejar tayang.
Sejujurnya dia masih belum sepenuhnya beradaptasi dengan invasi ini. Di dapur yang adalah wilayah kekuasaannya, kini bercokol sepasang suami istri yang bergerak seluwes penari latar. Ken dan Lidya bekerja dengan koordinasi presisi yang nyaris menyebalkan. Jika biasanya Alex merasa seperti chef tunggal, hari ini ia merasa seperti pesuruh yang hanya bertugas mengambilkan ini dan itu karena kedua "tamu" itu tak tahu di mana letak panci atau penggorengan.
Sementara itu, ada pemandangan lain yang tak kalah aneh. Untuk pertama kalinya sejak lima hari lalu Sora tinggal di rumah itu, ia berada di ruangan yang sama dengan Livi.
Meski begitu, keduanya tetap menjaga jarak. Livi duduk di sofa dengan punggung tegak, sementara Sora memilih kursi makan sambil menutupi separuh wajahnya dengan buku, secara tidak langsung membelakangi satu sama lain. Tak ada obrolan, tak ada tatapan. Namun panas dari emosi mereka tahan terasa cukup untuk membuat udara di rumah itu mendidih.
Lidya, yang tengah khusyuk memotong wortel, menyikut rusuk Ken yang sedang memilah telur. Ken menoleh ke istrinya yang mengedikkan dagu ke arah Sora dan Livi, lalu segera berpaling ke Alex. Ia mendesis ke arah pria yang sedang memunggungi mereka sambil mengelap mangkuk dengan gerakan malas-malasan.
“Sst! Sst!” Ken memanggil.
Alex menoleh, dahinya berkerut dalam. Ia terdiam sesaat, memastikan apakah ia benar-benar dipanggil. “Kenapa?” sahutnya dengan bibir yang hampir tak bergerak.
“Suruh mereka bantu!” bisik Ken dengan nada memerintah yang sangat tidak tahu diri bagi seorang tamu.
Bibir Alex mengerucut semetara tangannya menunjuk dirinya sendiri, “Kenapa aku?”
Lidya memajukan kepala dari balik bahu suaminya, menatap Alex dengan intensitas yang lebih menyeramkan daripada guru matematika. “Soalnya kamu tuan rumah!” desisnya, lengkap dengan mata melotot yang membuat nyali Alex ciut. “Buruan!”
Alex bergidik. Langsung menyimpulkan, begini rasanya kalau ada sosok kakak perempuan di dalam rumah. Melihat mata bulat Lidya yang siap menelan orang hidup-hidup itu membuatnya merasa terintimidasi. Ia sempat berpikir untuk mengabaikan permintaan menyebalkan itu dan pura-pura sibuk dengan piringnya lagi, tapi saat ia melirik, Lidya masih memelototinya.
Jadi dengan cepat ia memutar tubuhnya, “Mbak... Mbak sekalian!” panggilnya.
Sora menoleh lebih dulu, disusul Livi dengan gerakan yang nyaris serempak. Ekspresi keduanya sama-sama datar dan dingin, bagi Alex, sama mematikannya dengan tatapan Lidya tadi.
“Tolong bantu dong, jangan diam aja!” sambungnya dengan seringai tipis yang lebih mirip gerak refleks menahan takut daripada senyuman ramah yang biasa ia tunjukkan.
Livi bangkit dari sofa dengan gerakan patah-patah yang angkuh dan berjalan menuju dapur. Sementara Sora lebih santai; ia menyelipkan pembatas halaman, menutup buku, lalu berdiri dengan anggun. Sialnya, perbedaan kecepatan itu membawa mereka ke satu titik temu di ambang pintu dapur, di mana bahu mereka nyaris bersentuhan.
Seketika, atmosfer di ruangan itu memadat. Lirikan pedas yang mengandung kebencian beranak pinak mencuat dari mata keduanya. Alex, Ken, dan Lidya secara otomatis membeku. Ketiganya berhenti bekerja, napas mereka tertahan, menunggu apakah ini akan berakhir dengan perkelahian fisik atau ledakan bom nuklir.
“Ck!” decak Sora dan Livi secara bersamaan, sebelum keduanya membuang muka dengan serempak dan berpisah jalur. Sora melipir ke arah bak cuci piring dimana Alex berada, sementara Livi merapat ke Lidya dengan suara dingin, “Apa yang perlu dibantu?”
Ketiga saksi mata di dapur itu diam-diam membuang napas lega secara bersamaan, seolah baru saja lolos dari maut.
Alex kembali mengelap mangkuk yang sudah bersih berkali-kali hanya untuk menyibukkan diri. Dalam hati, pria itu mulai menghitung sisa umur. Kalau setiap hari rumahnya harus setegang ini, dia yakin tidak perlu waktu lama sampai dirinya mati muda karena serangan jantung.