“Haaaah… sialan!” gerutu Sora sambil mengenyakkan punggungnya ke sofa. Tubuhnya yang kurus hampir tenggelam di antara bantalan empuk dan besar itu. Mata sayunya menatap lurus ke jendela di seberang, di mana matahari mengintip malu-malu dari balik gumpalan awan yang mulai kelabu. Ia melemparkan tatapan mengutuk ke arah kaca jendela, seperti benda itu adalah sumber dari kekesalan yang ia rasa. “Sialan!” umpatnya lagi, kali ini berupa bisikan yang terasa seperti desis kebencian.
Alex, yang baru keluar dari area dapur, mendengar dengan jelas suara helaan napas Sora. Tanpa aba-aba, ia mendekat dan menjatuhkan tubuhnya tepat di samping Sora. Ikut menyandarkan kepalanya di bahu sofa. Dan menatap ke arah kaca.
“Sora,” panggil Alex, sambil melirik Sora.
Sora menoleh cepat, menatap Alex dengan pandangan bengis. Padahal dia sendiri yang bersikeras meminta Alex untuk memanggil namanya tanpa embel-embel ‘Mbak’, tapi sekarang dia yang kesal tiap kali Alex memanggilnya begitu, sejak pria itu selalu sopan memanggil Livi dan Lidya dengan panggilan yang pantas.
Jarak mereka terlalu dekat; wajah mereka berhadapan hanya berjarak beberapa sentimeter. Dengan tatapan Sora yang menguncinya tanpa penghalang. Tanpa sadar Alex menahan napas. Bukan karena takut betapa galak sorot mata wanita itu, melainkan karena isi kepalanya mendadak kosong. Ia lupa apa yang hendak ia katakan begitu manik mata itu menyergapnya tanpa ragu.
“Kenapa?” tegur Sora, dahinya berkerut dalam saat melihat Alex tiba-tiba membuang muka.
Alex tak menyahut. Matanya menerawang ke luar jendela, namun tak ada satupun pemandangan yang benar-benar sedang ia lihat di sana.
“Ih! Kenapa?” desak Sora sambil mengangkat kepalanya dari sandaran sofa, memutar tubuh atasnya menghadap ke Alex. Ia paling pantang dengan orang yang bicara setengah-setengah, apalagi jika sudah mengganggu waktu tenangnya.
“Kamu…” Alex menoleh pelan, menatap lurus ke bola mata Sora. “Mikirin apa?”
Sora berkedip dua kali, alisnya terangkat tipis. “Hm? Aku?”
Alex menatap Sora lagi, mengedip sekali, kelopaknya bergerak teramat lambat seperti orang yang tengah menahan kantuk. Sorot matanya tampak lebih teduh dari biasanya, menanggalkan kesan ketus dan sombong yang selama ini ia pasang.
Sora mengamati wajah Alex dengan alis turun sebelah, matanya menyipit penuh penilaian. Kenapa orang ini? batinnya heran. Ia mencoba mencari tanda-tanda ejekan di wajah pria itu, tapi yang ditemukan hanya ketenangan menunggu jawaban. Nampaknya kali ini Alex sungguh-sungguh dengan pertanyaannya. Mungkin ia hanya bosan dan coba membuka topik pembicaraan? Pikir Sora, berusaha untuk merenggangkan sedikit waspadanya pada pria ini.
Dan sebenarnya pertanyaan Alex sederhana, tapi masalahnya Sora tak bisa mengatakan apa yang dia keluhkan lewat umpatan tadi.
Beberapa saat sebelum Lidya berangkat kerja, Sora sempat mencuri celah dan bertanya, alasan Livi tinggal di rumah itu. Namun, di luar dugaan, Lidya menutup rapat mulutnya. “Gue nggak bisa jawab,” katanya. Sambil menyunggingkan senyum tipis yang penuh wibawa dan ketegasan menggigit.
Sora pun langsung membeku, lidahnya kelu. Ke mana perginya Lidya yang dulu berbagi segala hal, bahkan rahasia paling memalukan sekalipun? Lidya yang berdiri di hadapannya tadi tampak begitu lihai menyimpan informasi, membuat Sora merasa asing di hadapannya. Tiba-tiba saja ia merasa melankolis, seperti kehilangan sahabat lama; seperti Lidya yang sekarang adalah orang yang berbeda, dan dia merasa kesal pada dirinya sendiri yang merasa kesal akan hal itu.
Dan jelas tak ada alasan baginya untuk menceritakan pikiran menyedihkan itu ke Alex. Jadi, ia hanya menjawab singkat, “Nggak ada.”
“Kalau gitu, aku boleh nanya?” ucap Alex lagi, masih dengan suara mendayu yang janggal.
Sudut mata Sora berkerut saat matanya memicing penuh selidik, mencoba menebak-nebak ke mana arah pembicaraan pria ini sebelum ia akhirnya mengangguk pelan.
“Kamu nikah sama Evan karena suka sama dia?” tanya Alex.
Ketegangan di wajah Sora luntur selama beberapa detik, “Kenapa, kamu tanya begitu? Aku kira… Livi cerita semuanya sama kamu.”
Alex menggeleng, “Nggak, dia cuma bilang kamu mantan istri Evan.”
“Oh.” Sora memandang Alex beberapa detik, menyelami kejujuran pria itu dari ekspresi wajahnya. Entah apa yang dicari pria ini, entah apa alasan dia tiba-tiba bertanya hal yang begitu personal ini, tapi untuk saat ini, Sora tak ingin menutupi masa lalunya, ia lelah bersembunyi. “Karena dijodohin,” ungkapnya kemudian.
Tubuh Alex langsung tegak. Matanya terbuka lebar, reaksi yang terlalu cepat untuk sempat ia sembunyikan. Untuk pertama kalinya, Sora melihat pria ini tak mengendalikan emosinya.
“Jadi, bukan karena cinta? Kalian menikah sampai cerai setahun kemudian, tanpa saling cinta?” cecarnya antusias.
Sora terdiam. Tak bisa langsung menjawab.
***
Takdir yang gemar bermain-main, jika hal semacam itu memang ada, mungkin menjadi gambaran yang paling tepat untuk menjelaskan hubungan antara Sora dan Evan.