Rumah itu, Kita selalu

Arisyifa Siregar
Chapter #14

13. Celah Terbuka

Sora tumbuh besar dengan satu doktrin mutlak ibunya yang tertanam kuat di balik tulang rusuknya: selalu siaga, jangan pernah lengah, dan jangan berikan celah pada siapa pun. Baginya, kewaspadaan adalah satu-satunya pelindung. Meski di luar ia tampak ramah, Sora sebenarnya adalah benteng dengan gerbang yang terkunci rapat. Jika seseorang berhasil masuk ke hatinya, itu bukan karena orang tersebut piawai membuka kunci, melainkan karena Sora sendiri yang mengizinkannya, sebuah izin yang sangat langka.

Namun, baik dulu maupun sekarang, satu variabel selalu luput dari perhitungan strateginya: Evan. Pria itu punya kemampuan aneh untuk bergerak di luar prediksi, menyerang tepat di titik buta saat Sora merasa semuanya aman dan menurunkan kewaspadaan.

Pria itu sekarang berdiri di tengah ruang tamu. Entah sudah berapa lama dia berada disitu, tapi dari tatapannya yang sedingin es dan tak terkejut sama sekali saat Sora dan Alex masuk, jelas pria itu memang menunggunya.

Ia terlihat lebih dewasa, lebih rapi, dan terkendali. Setelan jas yang ia kenakan jatuh sempurna di tubuhnya, rambutnya tertata penuh perhitungan, dan aroma parfumnya yang samar namun tegas memenuhi ruangan. Sosok yang selama ini hanya Sora lihat lewat iklan layar televisi, kini berdiri beberapa langkah darinya. Nyata. Terlalu nyata. Dan memuakkan.

Senyum yang sejak tadi awet bertengger di wajah Sora karena lelucon-lelucon Alex menguap tanpa sisa. Ia berdiri tegak, meremas helm sepeda di tangannya hingga buku-buku jarinya memutih dan telapaknya terasa kebas.

“Sampai kapan kamu mau diam di situ? Bukannya seharusnya kita basa-basi tanya kabar?”

Suara itu: dalam, berat, dan familiar, memecah keheningan, menggema di ruang tamu yang luas, menghantam langsung ke dada Sora yang ternyata belum siap menghadapi pria itu sampai detik ini.

Meski tubuhnya gemetar halus, Sora memaksa bahunya tetap rileks. Ia menghembuskan tawa pendek yang terdengar kering. “Emangnya kita punya seakrab apa buat saling tanya kabar?” balasnya, tajam.

Mata Evan bergerak, iris tajamnya mengunci posisi tangan Alex yang masih melingkar santai di bahu Sora sejak mereka masuk sambil tertawa tadi.

“Alex, pergi dulu. Gue perlu ngomong sama Sora!” perintahnya dingin.

Alex tidak langsung merespons. Ia melirik Sora yang masih menempel di lengannya. Seolah bisa membaca pikiran satu sama lain, Sora mengangkat wajah, menatap Alex dengan isyarat tegas.

“Nggak usah,” ucap Sora sambil menyentuh punggung tangan Alex yang masih bertengger di bahunya.

Wajah Evan memerah padam. “Kamu yakin mau orang lain dengar apa yang kita omongin?”

“Cih!” Sora mencibir sinis. “Emang kamu pikir aku punya niat buat ngomong sama kamu? Ayo, Alex!” Sora menarik lengan Alex, hendak melenggang melewati Evan.

Tiba-tiba, tangan Evan terulur kasar, menepis tangan Alex dari bahu Sora hingga jatuh ke sisi tubuh pria itu. Tubuh besarnya memblokir jalan mereka, matanya menghujam manik mata Sora dengan emosi tertahan. “Kenapa kamu tinggal di sini? Kamu udah tahu ini rumah aku, kan?”

Sora bersedekap, matanya menyipit dingin. “Yang aku tahu, rumah ini juga punya Alex.”

Rahang Evan mengejang, urat-urat di lehernya mencuat. Ia mengepalkan tangan sampai pembuluh darah di lengannya menonjol. “Alex!” geramnya dengan gigi terkatup. “Pergi dari sini.” Ulangnya.

Nama Alex yang disebut, tapi matanya tak bergeser sedikitpun dari tatapan menantang Sora.

“Nggak usah, Alex!” seru Sora, tak mau kalah.

“Pergi!” suara Evan naik satu oktaf.

“Nggak usah!” sela Sora tajam.

“SORAYA!”

Bentakan Evan menggelegar, memecah kesunyian rumah hingga dinding seolah bergetar. Seluruh penghuni lantai atas tersentak. Ken yang sedang melipat baju bersama Lidya langsung melompat turun dari kasur. Livi yang sedang menelepon, memutus sambungan dengan kasar dan berlari keluar kamar. Dari ujung tangga, ketiganya membelalak kaget. Situasi di bawah sana terlalu panas, terlalu bergejolak; sekali lihat saja mereka tahu, kalau bisa-bisa tak berapa lama lagi mereka perlu memanggil pemadam kebakaran sebelum rumah hangus oleh emosi mantan suami-istri itu.

Beberapa jam sebelumnya…


Morning, Kakak Cantik!” bisik Alex genit saat Sora melintas di depannya di area dapur.

Sora hanya bisa mengernyit dengan bola mata berputar. Lucunya, setelah sesi obrolan kemarin, ia mulai terbiasa dengan gaya bercanda dan keisengan pria itu. Rasa risih yang biasanya membentengi dirinya perlahan terkikis, berganti dengan toleransi yang tak terduga.

Lihat selengkapnya