Rumah itu, Kita selalu

Arisyifa Siregar
Chapter #15

14. Distorsi Memori

Evan memejamkan mata rapat-rapat, membiarkan alunan musik instrumental dari earphone membasuh pikirannya yang penat. Di luar jendela, pemandangan jalan tol melesat seperti garis panjang yang tak berujung. Tengah berpindah lokasi, untuk mengejar kesempurnaan visual film bertema pedesaan yang sedang mereka kerjakan.

Ia nyaris terlelap ketika suara denting notifikasi sosial media memotong sunyi. Alisnya tersentak. Evan sangat membatasi akses notifikasi di ponselnya; hanya hal-hal krusial, atau orang-orang tertentu, yang diizinkan menembus ketenangan ponselnya untuk membunyikan pemberitahuan seperti itu.

Dengan gerakan malas, ia meraih ponselnya di jok sebelah. Matanya yang mengantuk terbuka lebar saat membaca notifikasi di layar.

“Alex... posting foto?” gumamnya heran.

Jemarinya segera membuka kunci ponsel, mengetuk pemberitahuan itu, dan detik berikutnya, napasnya seperti berhenti. Punggungnya yang semula bersandar santai langsung menegak kaku, otot lehernya tegang hingga terasa nyeri. Tangannya yang bebas langsung melepas kedua earphone-nya.

“Sora?” seru Evan tanpa sadar. Suaranya cukup keras hingga membuat Kalif, sang manajer yang sedang fokus menyetir, melirik waspada melalui spion tengah.

Ia menatap layar intens. Rambut merah muda yang ada di foto itu. Ia ingat betul wanita yang sempat digendong dan dibawa Alex masuk ke kamar beberapa waktu lalu memiliki rambut seperti itu. Jadi, itu benar-benar Sora? Bagaimana mungkin? Kenapa Sora ada di sana, dan sejak kapan Alex mengenalnya?

Ia menurunkan ponsel, mengalihkan pandangannya ke jalanan di luar yang bergulir cepat, mencoba menyusun potongan teka-teki yang berserakan. 

Alex tidak akan melakukan ini tanpa motif. Ia cukup mengenal adik tirinya itu, seorang bocah pendiam yang jarang menyentuh media sosial, tiba-tiba mengunggah foto wanita, dan tak lain adalah masa lalunya. Hanya ada dua kemungkinan: Alex benar-benar terlibat hubungan khusus dengan Sora, atau, dia sedang memasang umpan. Meski yang kedua jelas provokasi mengesalkan, ia benar-benar ingin kemungkinan pertama tak benar adanya.

“Ah, sial! Apa-apaan ini!” gerutunya dengan emosi tertahan.

“Lif!” panggilnya tajam pada sang manajer. “Putar balik. Pulang ke rumah sekarang!”

Kalif mengerutkan dahi, bingung setengah mati. “Ke apartemen? Kenapa? Syuting kita—”

“Bukan ke apartemen! Ke rumah, sekarang!” potong Evan dengan nada dingin yang tidak menerima bantahan.

Kalif tertegun. Ia melirik bosnya lewat spion dan mendapati wajah Evan merah padam, dengan tatapan yang memancarkan aura berbahaya. Saat itu juga ia paham bahwa dirinya tak punya pilihan lain.

Meski nanti harus menghadapi amarah besar seluruh kru produksi karena membatalkan jadwal di detik terakhir, melawan Evan sekarang jelas jauh lebih fatal. Tanpa berkata apa-apa lagi, Kalif langsung memutar kemudi, mengambil jalur keluar terdekat, lalu mengubah arah menuju tempat dimana badai sesungguhnya telah menunggu.

***

“SORA!”

Suara Evan menggema di ruang tamu, memantul di dinding-dinding tinggi, memecah sisa kendali yang masih tersisa di antara mereka.

Sora tersentak, namun alih-alih mundur, matanya justru makin menyala. Emosi yang ia pendam selama sepuluh tahun: bingung, marah, luka yang tak pernah kering, pecah begitu saja tanpa bisa ia bendung. Dadanya naik turun dengan deru napas yang panas dan kasar.

“Apa hak kamu bentak aku kayak gitu!” Sora melayangkan telunjuknya, mendorong bahu Evan dengan satu hentakan penuh amarah.

Refleks, Evan menangkap tangan Sora dengan cekatan.

Melihat gerakan itu, Alex bergerak maju, namun Evan langsung melempar tatapan tajam yang mematikan. “Jangan ikut campur. Ini urusan gue sama mantan istri gue!” desisnya penuh penekanan.

Langkah Alex terhenti. Ultimatum itu menghantamnya seperti tembok baja. Sebuah fakta yang tak bisa ia debat. Sora masih memelototi Evan dengan mata merah dan basah, tangannya masih terperangkap dalam genggaman pria itu. Evan pun mengalihkan pandangan lagi, menatap mata Sora yang bergetar menahan amarah.

Lihat selengkapnya