Rumah itu, Kita selalu

Arisyifa Siregar
Chapter #16

15. Keluarga Kecil

11 tahun lalu...


Setelah menikah, Evan dan Sora tinggal di rumah Sora. Alasannya sederhana, lokasinya lebih dekat ke kampus mereka. Kehidupan nikah muda itu pun dimulai dengan canggung, kikuk, dan kadang konyol. Bagaimana dua orang yang tak sepenuhnya mengenal satu sama lain, tiba-tiba harus berbagi hidup lewat sebuah prosesi tertutup, harus bertindak di hadapan satu sama lain?

Belum lagi, saat itu Sora masih dalam proses move on. Ken, yang langsung berangkat ke Amerika untuk kuliah tepat setelah lulus SMA, mulai jarang mengontaknya dalam beberapa bulan terakhir. Memang, sejak awal Sora tahu hubungannya mereka memang tak akan pernah berhasil, namun setidaknya sebelum jarak memisahkan, ia masih menyimpan secercah harapan akan adanya keajaiban.

Selain fakta bahwa Ken mulai menjauh, kenyataan bahwa ia secara legal adalah istri orang lain membuat Sora merasa harus benar-benar mengakhiri perasaannya pada sang sepupu. Padahal tak ada yang menuntutnya untuk setia di dalam hati, saat Evan pun tak ada di dalam sana, tapi tetap ia lakukan itu demi moralnya sendiri.

“Kamu bilang ke siapa aja tentang pernikahan kita?” tanya Sora suatu malam, menjelang hari pertama Evan masuk kuliah. Mereka duduk berdua di sofa ruang keluarga, baru saja menghabiskan makan malam. Suasana temaram dan ruangan dengan furniture serba kayu itu memberikan kehangatan dalam kecanggungan mereka.

Sora mengenakan gaun tidurnya yang bertali renda, rambut hitam pekatnya tergerai dan masih sedikit basah sehabis keramas. Sementara di hadapannya Evan hanya mengenakan kaos oblong warna putih dan celana pendek di atas lutut.

“Cuma ke teman dekat aku, si Dimi,” jawab Evan.

Sora mengangguk sambil bersila, jemarinya menarik ujung gaun tidurnya ke tengah lipatan kaki, gerakan asal yang tak ia pertimbangkan.

Sambil menyandarkan bahu, Evan melirik ke kaki putih Sora sebelum akhirnya menatap wajahnya lagi. “Tapi Kak Lidya pasti kasih tahu Livi, kan?”

Mata Sora bergeser ke sudut, sejenak tak lagi menatap lawan bicaranya. “Semestinya gitu, tapi…” Ia berhenti, alisnya mengerut tipis. “Nggak tahu kenapa Livi kayak menjauh. Mungkin lagi sibuk persiapan kuliah.”

Evan mengangguk singkat. Tatapannya tak benar-benar menetap, pikirannya sudah bergerak ke hal lain. “Jadi…?” ucapnya kemudian, merasa Sora belum sampai ke inti pembicaraan.

“Ah, iya!” Sora menepuk tangan sekali. “Gimana kalau di kampus kita status kita?”

Evan langsung mengiyakan. Baginya, hal itu adalah sesuatu yang tidak perlu ditegaskan lagi. Untuk apa menjelaskan status mereka kepada orang lain? Secara teknis, mereka hanyalah dua orang asing yang jadi suami istri karena terjebak dalam obsesi orang tua sendiri.

“Ada lagi yang—” Evan berhenti di tengah kalimat.

Kata itu menggantung di ujung lidahnya. Ia sempat menatap Sora, lalu mengalihkan pandangan, seperti sedang menimbang sesuatu yang terasa janggal. Panggilan yang biasa ia gunakan di sekolah tiba-tiba terdengar asing di situasi ini, terlalu kaku untuk hubungan yang seharusnya lebih dari sekadar itu.

“Boleh aku panggil Sora saja?”

Sora termangu. Pertanyaan sederhana itu, diucapkan tanpa nada khusus, tapi justru membuat pipinya menghangat. Tatapan Evan yang tadi terasa biasa, kini jadi sulit ia hadapi.

“Y-ya,” sahutnya tergagap, buru-buru memalingkan wajah.

Lihat selengkapnya