Rumah itu, Kita selalu

Arisyifa Siregar
Chapter #17

16. Pergeseran Rasa

Selama dua puluh satu tahun hidupnya, Sora selalu merasa ada sesuatu yang kurang. Ia menyadarinya, namun tak pernah benar-benar tahu apa. Hidupnya tercukupi, bahkan berlebih dalam beberapa hal. Ia memiliki semua yang, secara kasatmata, dibutuhkan seseorang. Jadi… apa yang hilang?

Kasih sayang ibunya?

Pikiran itu sempat terlintas, lalu langsung ia tepis mentah-mentah. Justru tanpa itu, Sora merasa lebih aman. Baginya, perhatian dan kelembutan dari sang ibu hanyalah cara lain untuk mengikat dan mengendalikan. Ia tak membutuhkan itu. Bahkan semakin dingin ibunya bersikap, semakin mudah baginya untuk bernapas. Jadi… apa sebenarnya yang kurang?

Jawabannya datang di saat yang sama sekali tak ia duga.

Saat itu Sora sedang disibukkan tugas kuliah tentang patriarki, konsep yang terasa asing baginya karena dibesarkan oleh figur perempuan dominan. Ia mencoba memahami dunia yang tak pernah benar-benar ia kenal itu, membaca berbagai sudut pandang, hingga sampai pada satu kesimpulan sederhana: laki-laki ideal bukanlah mereka yang menonjolkan kuasa, melainkan yang mampu hadir tanpa menekan. Dan tanpa sadar, gambaran itu justru ia temukan pada Evan.

Pria itu dua tahun lebih muda darinya dan sama-sama anak tunggal, merawat Navid dengan ketelatenan yang terasa alami. Ia menggendong, menenangkan, menyuapi, menciumi pipi bayi itu, mengangkatnya tinggi hingga tawanya memenuhi ruangan, lalu meninabobokannya tanpa keluhan. Sementara Sora hanya bisa mengamati dari kejauhan. Bukan karena tak mau terlibat, melainkan karena ia sendiri tak tahu harus berbuat apa. Baginya, bayi adalah rangkaian ujian  yang sulit ia pahami. Namun Evan tak pernah terlihat terbebani. Ia tetap tersenyum, tetap sabar, bahkan rela meninggalkan kegiatan baseball demi menghabiskan lebih banyak waktu di rumah.

Melihat semua itu, Sora akhirnya menyadari sesuatu yang selama ini tak ia sadari: ia merindukan sosok ayah, sosok laki-laki dalam hidupnya.

Kehangatan yang ia lihat pada Evan, cara pria itu hadir tanpa menuntut, tanpa mengendalikan, perlahan mengisi ruang kosong yang selama ini tak pernah ia pahami bentuknya. Saat Evan bersama Navid, ada cahaya yang tak bisa ia abaikan; hangat, stabil, menenangkan, seperti matahari pagi setelah hujan semalaman. Dan entah sejak kapan, perasaan itu berubah, dari sekadar kagum menjadi nyaman, dari nyaman menjadi kebutuhan yang diam-diam mengikatnya.


Hingga akhirnya, di bulan kedelapan pernikahan mereka, Sora sadar bahwa ia telah melangkah terlalu jauh untuk mundur. Ia tak lagi sekadar membiarkan Evan masuk ke hidupnya, melainkan telah membuka seluruh pintu hatinya untuk pria itu.


“Aku jatuh cinta sama Evan!” ungkap Sora tanpa ragu saat bertemu Ken yang pulang ke Indonesia untuk liburan kuliahnya.

Ken sempat terdiam beberapa detik. Ia sebenarnya sudah lebih dulu menelan keterkejutan saat mengetahui Sora menikah dengan Evan karena perjodohan, tetapi pengakuan itu menghantam jauh lebih dalam dari yang ia perkirakan. Meski dadanya terasa perih, ia akhirnya menarik napas pelan dan menujukkan dirinya tetap tenang.

Wajah Sora begitu sumringah. Matanya berbinar menatap langit senja yang membentang di atas mereka. “Aku rasa aku udah nemuin kebahagiaan hidup aku yang sebenarnya, Kak,” katanya, lalu menoleh pada Ken dengan senyum yang tak sedikit pun disembunyikan. “Aku seneng… punya keluarga.”

Ada jeda singkat yang menggantung kosong di antara mereka.

Sora terlalu jujur. Terlalu terang. Dan bersama pengakuan itu, ada sesuatu yang ikut selesai begitu saja tanpa perlu diucapkan: perasaan saling suka mereka.

“Aku turut bahagia buat kamu,” ujar Ken akhirnya. Suaranya stabil, meski ia sendiri tak yakin seberapa tulus hatinya saat mengatakannya. “Seneng banget, ya?” lanjutnya, berusaha mengikuti alur yang dibangun Sora.

Sora langsung mengangguk. “Tadi aku udah bilang sama Kakak, kan, kalau aku dan Evan punya anak angkat?” katanya antusias. Ia sedikit menunduk, menatap ujung sepatunya yang menyentuh rumput. “Aku sayang banget sama mereka… rasanya aku nggak butuh apa-apa lagi di dunia ini.”

“Em.” Ken ikut mengangguk sambil tersenyum tipis. “Selamat ya.”

Saat mengatakan itu, Sora dan Evan memang telah bersinergi dengan begitu alami, mengurus Navid layaknya orang tua yang terbiasa berbagi peran. Hari-hari mereka terasa seperti musim semi yang tak kunjung usai, hangat, tenang, dan terus mekar, seakan tak ada celah bagi sesuatu yang buruk untuk masuk.

Rumah tangga yang dulu canggung perlahan berubah menjadi rutinitas yang akrab. Tawa Navid di ruang tengah menjadi pengikat di antara mereka, menghapus jarak dan menutup sisa keasingan yang pernah ada.

Namun waktu selalu punya caranya sendiri untuk meruntuhkan keyakinan.

Ia tak pernah menduga bahwa di balik tawa dan kehangatan yang mereka bangun bersama Navid, ada sesuatu yang diam-diam menunggu, cukup sabar untuk tidak terlihat, tapi cukup kuat untuk menyapu bersih semuanya dalam satu waktu.


Semua dimulai pada suatu siang yang terik di kantin kampus. Gadis-gadis dari jurusan Antropologi, jurusan yang sama dengan Evan, berkumpul di meja sebelah, membicarakan sosoknya yang belakangan ini semakin jarang terlihat. Sora yang awalnya menyantap makan siangnya dengan santai, langsung melambat geraknya. Ia menggeser posisi duduknya sedikit mendekat ke arah mereka, memasang telinga sambil tetap menatap piringnya.

“Kalian perhatiin nggak sih, Evan belakangan ini jarang banget kelihatan di himpunan?” tanya salah satu dari mereka, nadanya menyiratkan kecewa.

“Iya, padahal biasanya dia yang paling rajin, kan?” sahut yang lain sambil mengaduk es tehnya dengan lesu. “Katanya sih sibuk di luar, tapi nggak tahu sibuk apa. Jangan-jangan ada yang sudah taken?”

Tawa kecil yang terdengar canggung memenuhi meja itu.

Lihat selengkapnya