Sepuluh tahun kemudian…
“Kamu… tahu semuanya?” Evan terbata, suaranya serak, tatapannya goyah. “Gimana bisa?”
Melihat wajah Evan yang memucat, Sora hanya menyunggingkan senyum tipis, sinis, nyaris tak terlihat. Ia tidak menjawab apa pun. Tatapannya perlahan bergeser ke lantai atas, menyadari sejak tadi Lidya, Ken, dan Livi berdiri di sana, memperhatikan semuanya tanpa suara.
Dan saat matanya jatuh tepat pada Livi, senyum itu muncul lagi. Kali ini lebih jelas. Lebih tajam. Sengaja ia lemparkan lurus ke arah wanita itu.
Mungkin memang kekanak-kanakan. Sora tahu itu. Namun tetap saja, ada sesuatu di dalam dadanya yang terasa longgar saat melakukannya. Semacam kepuasan pahit yang akhirnya menemukan jalan keluar, setelah bertahun-tahun terkubur bersama semua hal yang tak pernah ia ungkap. Kini semuanya terbuka di depan semua orang, dan untuk pertama kalinya, bukan hanya dirinya yang harus menanggungnya sendiri.
Evan ikut menoleh ke arah yang sama. Napasnya langsung tertahan. Tak menyangka ada orang lain di rumah ini. Keberadaan Livi, dia tahu, meski nyatanya sejak memasuki rumah, ia lupa. Tapi Lidya? bahkan Ken? Sejak kapan mereka ada di sana? Dadanya mulai terasa sempit.
Sora langsung menarik balik fokus Evan dengan paksa. “Jadi,” katanya, datar, “sekarang bilang. Apa alasan sebenarnya kamu beli rumah ini?”
Tatapan Evan kembali ke Sora dengan sorot mata yang lebih kacau. Ketegasan yang tadi sempat mendominasi luruh, terganti panik yang gagal dikendalikan. “Nggak ada alasan khusus,” dustanya, terdengar tidak meyakinkan bahkan di telinganya sendiri.
“Kamu berharap aku percaya?” sindir Sora sedingin es.
“Kenapa nggak?” Evan mencoba membalas dengan nada menantang, meski tangannya sedikit gemetar. “Kamu sendiri? Alasan apa kamu tinggal di sini?”
“Nggak ada alasan khusus,” balas Sora, memutar balik kata-kata Evan. Ia bangkit dari sofa dengan gerakan tajam. Pembicaraan ini sudah terlalu alot, terlalu membuang waktu dan menguras harga dirinya. Bukan ini yang dia mau.
“Aku belum selesai, Sora!” Evan bergerak cepat, merentangkan tangan untuk menghalangi jalan Sora.
Mata Sora berkilat murka. “Aku nggak perlu bicara apa pun sama kamu!”
“Navid,” ucap Evan. “Aku mau tahu kabar Navid.”
Wajah Sora membeku. Dingin yang menusuk merambat dari ujung jari hingga ke tulang belakangnya. Rasa perih yang amat sangat menghantam dadanya, tajam dan menghancurkan, seperti tusukan paku berkarat yang diputar paksa tepat di jantung. Bibirnya mulai bergetar hebat. Namun, di tengah guncangan itu, ia justru menarik sudut mulutnya melengkung.
Ia tersenyum. Sebuah senyum pilu yang terlihat menyeramkan, sarat akan kebencian beracun yang telah ia simpan selama sepuluh tahun. Di matanya, tidak ada lagi jejak kasih sayang; yang tersisa hanya abu dari kenangan yang sudah lama ia bakar sendiri.
“Kamu pikir kamu punya hak tanya itu?” Suaranya lirih, campuran antara muak dan lelah.
Dahi Evan berkerut, “Kenapa nggak? Aku ayahnya.”
Di balik pintu kamar, napas Alex tersangkut. Tangannya refleks menarik tepi daun pintu, menahannya sedikit lebih terbuka, untuk mengintip, untuk memastikan ia tidak salah dengar.
Sora menangkap gerakan jemari besar yang mencengkeram kayu itu dari sudut matanya. Sesuatu di dalam dirinya terpicu, ia butuh pelarian, ia butuh seseorang untuk menariknya keluar dari neraka ini. “Alex!” panggilnya, suara seraknya jatuh seperti permintaan.
Baik Alex maupun Evan terperangah mendengarnya.
Tanpa ragu Alex membuka pintu dan melangkah keluar. Namun Evan justru lebih cepat. Tangannya menangkap lengan Sora. “Jawab dulu!” sergahnya, urat di leher menegang. “Gimana kabar Navid?”