“Lebih baik sekarang lu beresin baju lu, pulang ke rumah!” tegas Lidya, suaranya bergetar menahan amarah yang meluap. Di dalam kamar Livi yang gelap tanpa lampu.
“Kenapa?” tuntut Livi, dagunya terangkat menantang. Terlihat jelas oleh sedikit sinar yang masuk lewat jendela.
“Kenapa lu bilang? Lu masih nggak sadar juga? Gimana bisa lu tega bertindak kayak gitu di belakang Sora dulu? Apa yang sebenarnya lu lakuin sampai Sora bungkam selama sepuluh tahun? Kenapa lu senekat itu mau milikin pria yang udah jadi suami orang lain!” bentak Lidya, semua pikiran yang ia tekan dalam dirinya meledak.
“Emangnya kenapa? Emangnya nggak boleh? Baik dulu, atau sekarang, gue cuma mau memiliki apa yang gue mau!” teriak Livi tak mau kalah.
Plak!
Tamparan nyaring mendarat di pipi Livi, membuat wajahnya terpelanting ke samping. Lidya terengah, dadanya naik turun, terbakar oleh emosi yang tak lagi bisa ia bendung.
Namun, di hadapannya, Livi justru menyunggingkan tawa hampa.
“Kakak nggak akan pernah ngerti apa yang gue rasa. Kakak nggak akan pernah paham, karena Kakak lahir dengan punya segalanya,” ucap Livi pelan, suaranya datar namun dingin. Ia mengangkat wajah perlahan, menatap langsung ke mata Lidya tanpa takut. “Sedangkan gue? Gue nggak punya apa-apa.”
Lidya tercekat. “Apa maksud lu?” Alisnya berkerut.
“Emangnya Kakak pikir gue nggak tahu? Kakak itu anak yang ditunggu-tunggu. Anak yang kehadirannya didambakan Papa dan Mama selama sepuluh tahun. Sementara gue? Gue cuma anak yang nggak diharapkan, lahir tanpa direncanakan, sosok yang merusak keadaan.”
Lidya membatu. Lidahnya kelu, kehilangan kata-kata. Dihantam kenyataan pahit bahwa di balik sosok adiknya yang selalu haus perhatian dan menginginkan cinta, ada luka menganga yang dikuasai oleh hasrat akan penerimaan. Amarah yang tadi membakar matanya seketika padam, berganti oleh gelombang rasa bersalah yang menyesakkan. Tangannya yang tadi baru saja melayangkan tamparan, kini bergerak bingung di udara, ingin meraih dan memeluk Livi, namun seketika merasa tak pantas untuk melakukannya.
Ia kesal setengah mati karena berpikir, gara-gara ulah adiknya lah hidup sahabatnya hancur sepuluh tahun silam. Namun kini, ia justru membenci dirinya sendiri. Selama ini, ia terlalu terang-terangan menunjukkan bahwa ia lebih menyayangi Sora daripada adiknya sendiri. Ia lupa, bahwa adiknya pun manusia yang bisa haus akan sosok yang merangkulnya dengan tulus.
Sementara itu di lantai bawah, Ken yang duduk berhadapan dengan Evan menoleh sekilas ke arah lantai atas. Suara pertengkaran Livi dan Lidya sayup-sayup terdengar, namun ia tahu, ia harus membiarkan kakak beradik itu menyelesaikan urusan mereka sendiri. Fokusnya kembali beralih pada pria di hadapannya, sosok yang kini mematung bagaikan raga tanpa jiwa, setelah ditampar oleh fakta yang tak siap ia terima.
“Lu tahu, kan? Hal pertama yang seharusnya lu lakuin waktu ketemu Raya tuh harusnya minta maaf sama dia,” tutur Ken dengan nada dingin yang menusuk.
Meskipun mendengar ucapan itu, Evan masih bergeming. Bahunya merosot turun, pandangannya menerawang kosong ke lantai, setiap kata yang keluar dari mulut Ken terasa seperti cambuk di lukanya yang masih basah.
“Lu juga pasti tahu, kalau dulu gue suka sama Raya,” lanjut Ken. “Meskipun status keluarga kita yang membuat gue ragu buat lanjut, tapi gue benar-benar cinta sama dia dulu. Dan gue, harus menyerah saat dia bilang kalau dia suka sama lu, kalau dia merasa bahagia banget bisa hidup sama lu dan Navid.”
Untuk pertama kalinya sejak kepergian Sora, Evan mengangkat wajahnya.