Rumah itu, Kita selalu

Arisyifa Siregar
Chapter #20

19. Kehancuran Sesungguhnya

Satu bulan setelah percakapan malam itu, Evan berangkat ke Jepang. Sora tidak mengantar kepergiannya; beralasan Navid memiliki jadwal vaksin, padahal keduanya sama-sama tahu bahwa tak ada lagi yang tersisa dari hubungan mereka. Kedekatan yang sebelumnya terasa seperti napas hidup, hilang perlahan, menyisakan jarak asing yang kembali seperti sedia kala.

Dalam harinya yang kembali sunyi, di rumah yang terasa dingin tanpa kehangatan sosok Evan, Navid satu-satunya pelipur lara bagi Sora. Mata bocah itu, polos, begitu bening, tanpa dosa, selalu berhasil menenangkan Sora saat menatapnya. Namun, tetap saja ada bayang-bayang sosok Evan di sana. Pria itu menghantui Sora bahkan setelah kepergiannya; jejaknya tertinggal di setiap sudut rumah, terbayang-bayang begitu nyata. 

Kadang, Sora merasa masih mendengar suara berat Evan, melantunkan nama Navid dan dirinya dengan begitu hangat. Sora tidak membenci ingatan itu, namun ia tak memungkiri penyesalannya. Ia menyesali pilihan naifnya untuk memberikan hati pada pria itu. Kini, kekosongan yang Evan tinggalkan jauh lebih luas dari ruang yang pernah ia isi.

Di kampus, di rumah, di tengah keramaian, hingga keheningan malam, Sora merasa terasing. Ia tak menceritakan duka itu kepada siapapun, termasuk Lidya yang memilih menjaga jarak karena dibebani rasa bersalah oleh adiknya yang pergi ke Jepang bersama Evan. Satu-satunya tempat bagi Sora untuk mencurahkan isi hatinya secara jujur adalah kepada Navid, bocah yang menyimak setiap kata-katanya dengan tatapan polos tanpa memahami arti penderitaan ibu angkatnya.

Hingga pada suatu hari, sepulang kuliah, dunianya runtuh dalam sekejap. Ia tidak menemukan sosok Navid di mana pun di rumah.

“Navid? Navid!” teriaknya, berkeliaran keliling rumah dengan napas memburu.

“Bi Juni!” serunya melengking penuh teror nyata. Ia mendapati pembantunya di sudut ruang tengah. “Bi, Navid di mana?!”

Bi Juni tampak gemetar. Tengkuknya menonjol, bahunya sedikit bergetar. “Ibu…” suaranya nyaris tak terdengar, putus-putus. Ia menelan ludah sebelum melanjutkan, lebih pelan, “Ibu yang bawa pergi.”

Dahi Sora mengernyit, “Ibu? Mama saya?” Ia memastikan.

Begitu Bi Juni mengangguk lemah, Sora langsung merogoh ponsel dari saku jaketnya. Jemarinya gemetar hebat saat coba menghubungi sang ibu, namun panggilannya terus-menerus diabaikan. Tanpa membuang waktu, ia berlari keluar rumah, mengendarai mobil dengan kecepatan yang membahayakan nyawanya sendiri, memacu kendaraan itu menuju kantor ibunya yang tak pernah sekalipun pulang ke rumah setelah menikahkannya dengan Evan.

Sora menunggu cukup lama di ruang tunggu. Satu jam itu terasa seperti selamanya karena jantungnya terus berdetak nyaring bak genderang perang. Ia bukan tipe orang yang mudah mengikuti naluri, namun kali itu perasaan ganjil yang menyelimutinya terasa terlalu nyata untuk diabaikan. Ia tahu… ada sesuatu yang buruk sedang terjadi.

Lalu ibunya muncul.

Sherly terlihat mengenakan pakaian yang terlalu santai, hanya blouse dan celana kulot, jauh dari penampilan kantornya yang biasanya rapi dan formal. Begitu Sora mencegat langkah wanita itu dan langsung menuntut jawaban, Sherly membalas dengan nada dingin.

“Udah sama orang tua kandungnya.” Lalu berjalan memasuki ruangannya.

“Mama benar-benar ketemu orang tua kandungnya?” Kejar Sora tepat di belakangnya.

“Di mana? Siapa namanya? Kasih aku alamatnya, aku mau pastiin sendiri kalau itu emang orang tuanya!”

Sora sangsi. Setelah sekian lama Navid bersamanya dan ibunya tidak pernah menaruh sedikitpun perhatian pada anak itu, bagaimana bisa tiba-tiba menemukan orang tua kandung Navid dan langsung membawanya pergi?

Sambil duduk di belakang meja kerjanya, Sherly melemparkan tatapan tajam. “Itu udah bukan urusan kamu lagi. Sekarang, lebih baik kamu fokus sama kuliah kamu! Bukannya kemarin kamu sendiri yang bilang mau lanjut di jurnalistik dan kerja di sini?”

Sora tertegun.

Ya, beberapa waktu sebelumnya, saat merasa tak menginginkan apa pun selain hidup bahagia bersama Evan dan Navid, Sora sempat membuat keputusan impulsif.

“Aku mau pertahanin pernikahan itu. Aku mau hidup sama Evan dan Navid. Aku nggak jadi pindah jurusan. Aku bakal lanjut studi dan ikuti kata Mama buat bantu di perusahaan nanti.”

Lihat selengkapnya