Alex mengendap keluar dari kamar Sora, langkahnya ditahan setipis mungkin, seperti lantai di bawahnya lebih rapuh daripada kaca retak. Ia menarik pintu perlahan, berhenti sejenak saat bunyi klik halus terdengar, napasnya ikut tertahan.
Bahunya merosot turun, lega luar biasa karena Sora, yang tadi susah payah ia gendong dari teras dalam keadaan lemas, tidak terusik dari tidurnya. Ia mematung sejenak, memastikan tak ada suara dari dalam pertanda Sora bangun, sebelum akhirnya berbalik badan dan nyaris tersentak mundur.
Seseorang sudah berdiri tepat di belakangnya.
“Oma!” pekik Alex tertahan, satu tangannya spontan menekan dada. “Ngagetin aja!”
Naria menyunggingkan senyum puas. Tanpa memperdulikan keterkejutan cucunya, ia melingkarkan lengannya ke lengan Alex. “Sini ikut Oma.”
Alex ditarik kembali ke teras rumah, tempat dimana, beberapa waktu lalu ia mendekap Sora yang terisak hebat hingga akhirnya jatuh tertidur karena lelah.
Sebenarnya, tadi Naria mengawasi mereka dari balik tirai ruang tamu. Rasa penasarannya membuncah melihat interaksi tak biasa antara cucunya dengan wanita asing itu. Jadi dia sengaja menunggu Alex sendiri, untuk mencecar dengan segudang pertanyaan.
“Sejak kapan kalian pacaran?” Mata Naria berbinar, penuh antusias, seperti sedang menunggu kelanjutan drama favoritnya.
Alex mengerjap. “Hah? Siapa?”
“Ya kamu, sama Sora. Emang belum?”
Alex langsung mendengkus, kepalanya menggeleng cepat. “Nggak, Oma! Bukan begitu. Hubungan kita nggak kayak gitu.”
Naria mengerutkan hidung, jelas tak puas. “Kenapa belum? Kamu kan suka sama dia.”
Alex nyaris tersedak ludahnya sendiri. “Siapa? Aku?”
“Iya.” Naria bersedekap, gayanya seperti penyidik yang tak mau kalah. “Emang nggak?”
“Nggak, Oma!” sanggah Alex cepat, nadanya naik sedikit, tak habis pikir.
“Benar, nggak?” Naria menyipitkan mata, mengulang dengan nada menekan.
“Uh-huh!” Alex ikut bersedekap. Ia memejamkan mata sebentar, lalu mengangguk mantap, menunjukkan kesungguhan jawabannya. Tapi ketika membuka matanya lagi, ia malah mendelik ragu.
Naria masih belum yakin. Tatapannya turun-naik, memindai wajah Alex mencari celah. “Terus… kalau nggak suka, kenapa dia dibawa ke sini?”
Alex terdiam. Napasnya keluar lebih berat. Tatapannya melunak sedikit, lipatan tangannya terlepas. “Dia… lagi punya masalah.”
Naria menyipit lagi. “Bener kamu nggak suka dia?”
“Omaaaaa…” keluh Alex panjang, bahunya jatuh pasrah. Ia mengusap wajahnya sekilas sebelum akhirnya menyerah. “Dia itu mantan istrinya Evan.”
Mendengar nama itu, Naria tak langsung bereaksi. Wajahnya berubah serius, pikirannya bekerja pelan, mencoba merangkai ingatan yang terasa setengah hilang. Nama itu familiar, terlalu familiar untuk diabaikan.
“Evan? Saudara tiri kamu? Yang aktor itu?” Matanya langsung membesar. “Dia pernah nikah? Sora mantan istrinya?!” Suaranya melonjak tanpa kendali.
Telapak tangan Alex refleks menutup mulut Naria, matanya membulat panik. “Ssh!” desisnya, menahan suara itu sebelum sempat sampai ke dalam.
Naria mengangguk cepat, kedua telapak tangannya terangkat seolah menyerah. Alex pun perlahan melepaskan tangannya dari mulut sang nenek, napasnya masih sedikit tersengal oleh panik.
“Oke, oke,” gumam Naria pelan begitu bebas. Ia menatap Alex dengan kening berkerut, tanda tanya besar jelas tergambar di wajahnya. Bibirnya sempat terbuka, tapi tak jadi bersuara. Kepalanya miring sedikit, mencoba menyusun sesuatu, kedipan matanya yang cepat menunjukkan ia belum menangkap semuanya.
Alex melihat itu. Ia menghembuskan napas panjang, lalu menjatuhkan tubuhnya ke kursi rotan, posisi yang sama seperti saat bersama Sora tadi.