Lidya mengurung diri di dalam kamar, membiarkan keheningan menyelimuti seisi ruangan.
Badai yang kemarin mengamuk hebat telah usai, meninggalkan sisa-sisa kehancuran yang kini memaksanya untuk mengulas dirinya sendiri.
Setiap kata yang Livi lontarkan kemarin menohok tepat di ulu hati, membongkar topeng yang selama ini ia kenakan. Ia terpaksa mengakui bahwa dirinya jauh dari kata berbudi luhur; ia hanyalah manusia biasa, yang tak jarang dibalut kepura-puraan dan keserakahan yang tersembunyi di balik senyum sopan.
Mungkin, jauh di lubuk hatinya, Lidya sudah lama menduga alasan Livi terobsesi mengejar cinta pria yang bahkan tak meliriknya. Mungkin ia sudah sadar sejak awal, namun keangkuhannya terlalu tebal untuk mengakui bahwa akar masalah itu sebenarnya bersumber dari dirinya sendiri.
Apa yang Livi katakan kemarin bukanlah sekadar tuduhan; itu adalah kebenaran telanjang yang begitu tajam hingga Lidya ingin melarikan diri setiap kali teringat kembali.
Kisah itu dimulai jauh sebelum mereka tumbuh dewasa. Orang tua mereka, Winona dan Toni, harus berjuang selama lebih dari sepuluh tahun, mengerahkan segala daya dan upaya, hingga akhirnya Lidya lahir saat usia orang tua mereka sudah tak lagi muda. Ia adalah anak yang dinanti, anak yang diusahakan, dan pusat dari segala harapan. Namun, saat Lidya hadir, realitas menghantam Winona dengan keras. Segala teori pengasuhan yang dipelajari dan persiapan matang yang disusun rapi ternyata tidak ada artinya dibandingkan kenyataan di lapangan.
Mengurus bayi, terutama bagi Winona yang perfeksionis dan idealis, ternyata jauh lebih berat dari bayangan. Ia sampai jatuh ke dalam lubang baby blues yang dalam, kewalahan hingga harus mengambil cuti tak berbayar dari pekerjaannya demi memenuhi standar pengasuhan tinggi yang ia ciptakan sendiri.
Melihat istrinya hancur secara mental dan fisik, Toni memutuskan satu hal tegas: mereka tidak perlu memiliki anak lagi. Winona pun sepakat. Ia berkomitmen untuk mencurahkan seluruh hidupnya bagi Lidya, berjanji pada diri sendiri untuk kembali berkarir setelah Lidya bisa melangkah dengan kakinya sendiri.
Namun, takdir memiliki rencana yang berbeda. Sebelum Lidya sempat berdiri kokoh, Winona kembali mengandung.
Rencana matang itu hancur berantakan. Perhitungan mereka yang tertata rapi seketika kacau. Dan dalam situasi yang penuh tekanan itu, kehadiran Livi dianggap bukan sebagai anugerah layaknya Lidya, melainkan seperti sebuah kesalahan yang tidak diharapkan.
Tahun demi tahun berlalu, kedua bersaudara itu tumbuh dengan jarak usia yang tipis, nyaris sepantaran. Namun, sejak kecil, Livi dan Lidya sudah menunjukkan kontras yang tajam. Lidya tumbuh menjadi anak yang kalem, tenang, serta memiliki perasaan peka dan lembut. Sebaliknya, Livi sudah memancarkan bibit-bibit pemberontak; ia hobi mengabaikan perintah, berani menyahut saat ditegur, dan memiliki keberanian untuk melawan ketika dimarahi.
Sebenarnya, perilaku Livi hanyalah fase perkembangan yang membutuhkan bimbingan. Namun, bagi Winona yang mudah stres dan sering kali kehilangan kesabaran karena mimpinya untuk kembali berkarir terhambat oleh beban domestik, hal itu menjadi pemicu ledakan. Berkali-kali, dalam puncak emosinya, ia keceplosan bergumam, “Emang benar, seharusnya punya satu anak aja.”
Ucapan yang terlontar saat emosi itu mungkin dianggap angin lalu oleh Winona. Seiring anak-anaknya beranjak besar, ia tak pernah lagi menyinggung hal itu. Namun, yang tak ia sadari, kalimat itu telah terpatri tajam dalam benak Livi.
Selama bertahun-tahun, Livi tumbuh dengan perasaan bahwa dirinya adalah "anak yang tidak diinginkan". Tidak peduli seberapa besar perhatian yang dicurahkan orang tua mereka, dan meskipun tidak ada perbedaan perlakuan yang nyata antara keduanya, Livi tidak pernah merasa bahwa ia dan Lidya berpijak di level yang setara.
Perasaan itu semakin jelas tiap kali keluarga besar berkumpul. Sering kali, kehadiran Livi yang dianggap sebagai "kejutan" menjadi topik pembicaraan yang diangkat tak bosan-bosan. Ada yang menyebutnya anugerah, keajaiban karena datang tanpa perencanaan setelah perjuangan panjang mendapatkan anak pertama, namun tak sedikit yang secara tak peka menyebutnya sebagai "cobaan" atau "tambahan beban".
Lidya pun sebenarnya mengetahui semua itu. Namun, ia memilih berpura-pura tidak tahu di depan Livi. Ia terjebak dalam kebisuan karena tidak tahu bagaimana cara menghibur adiknya, sementara Livi sendiri tidak pernah menunjukkan retakan emosinya secara terang-terangan di hadapannya. Di luar, Livi memang jauh lebih tangguh dan cuek ketimbang Lidya, sebuah mekanisme pertahanan diri yang telah ia asah sedari dini.
Di saat Livi merasa dirinya tidak pernah setara dengan Lidya, Lidya justru sering merasa minder dengan keberanian adiknya. Ia kagum sekaligus iri pada betapa vokalnya Livi dalam menyuarakan pendapat.