Setelah melihatnya sendiri di bawah cahaya pagi yang benderang, Sora paham mengapa rumah Oma Naria begitu memikat hati. Bukan sekadar karena lokasinya di kawasan Puncak, Bogor, melainkan karena rumah ini memang dirancang sebagai hunian pensiun yang menenangkan.
Halaman luas dengan hamparan rumput hijau segar, dipadu aneka tanaman hias serta pohon buah, membuat udara disini terasa murni, jauh dari polusi kota. Di sudut kanan rumah, kolam renang membiru jernih; di sisi kiri, kolam ikan yang tenang menyambut. Bahkan di teras belakang, deretan tanaman sayur tertata rapi, menyuguhkan pemandangan yang memanjakan mata sekaligus menenangkan jiwa.
Menurut cerita Alex, Naria sudah tinggal sendirian sejak tante Alex menikah dan pindah ke luar kota. Otak licik Sora sempat berputar, membayangkan betapa indahnya jika ia bisa memohon izin untuk tinggal di sini selamanya. Namun, ia buru-buru menampar dirinya dengan realitas pahit: ia tak punya uang untuk hidup bermalas-malasan. Ia harus segera mendapatkan pekerjaan sebelum uang dari Lidya benar-benar ludes, tidak boleh meminta lagi.
Mereka akhirnya menyudahi tur mengelilingi rumah. Alex memilih duduk di atas rumput di tepi kolam berisi ikan-ikan koi jumbo yang tampak gemuk dan sehat. Sora berjongkok di sampingnya; ia tidak terlalu suka ikan, juga bukan penggemar makan. Namun, melihat ikan-ikan itu bergerak lincah di dalam air, pikirannya justru melantur membayangkan wajan, apakah ikan segemuk ini enak jika digoreng garing?
Alex menoleh, memperhatikan Sora yang terlihat tenang, matanya sibuk mengikuti pola gerak ikan-ikan yang meliuk di permukaan air.
“Mau nginep lagi?” celetuk Alex memecah hening.
Sora menoleh, menatap Alex dengan sudut bibir yang terangkat tinggi. “Boleh?”
“Kenapa nggak?” tanggap Alex santai
Alih-alih mengiyakan, Sora justru tertawa. Ia menggeleng cepat sambil kembali memfokuskan pandangan ke permukaan kolam. Ujung telunjuknya terulur, memecah ketenangan air dengan riak-riak kecil. “Nggak, bercanda!” ujarnya kemudian. “Tolong antar aku balik hari ini, ya.”
Alex menegakkan punggung, wajahnya langsung mengeras.
“Kenapa?” tanyanya heran. “Aku kira setelah ketemu Evan kemarin, kamu nggak mau tinggal sana lagi.”
“Jadi, kamu nggak mau aku tinggal di sana lagi?” Sora membalas, sudut bibirnya ditarik turun, cemberut yang jelas dibuat-buat. Belum sempat Alex merespon, Sora langsung terkekeh garing. “Bercanda!” serunya ringan, nadanya sengaja dibuat jenaka.
Alex terdiam.
Jika baru mengenal Sora hari ini, mungkin ia akan mengira wanita di sampingnya itu sosok yang ramah dan gemar melucu. Namun mereka sudah tinggal bersama; ia tahu persis apa yang telah dilewati Sora kemarin, ingatan tentang bagaimana dia menangis hingga jatuh lemas dan tertidur karena kehabisan tenaga masih segar dalam benaknya.
Keceriaan yang sejak tadi Sora paksakan itu justru terasa janggal, dan jika boleh jujur… menyedihkan. Sora tampak seperti kaca retak yang dipaksa terlihat utuh, dilapisi senyum rapuh yang bisa runtuh kapan saja.
“Aku...gak bisa kabur lagi.” Ucap Sora lemah. Meski matanya menerawang ke permukaan kolam ikan, ia tahu Alex sedang memperhatikannya.
“Setelah kembali dan menghadapi semuanya, aku sadar kalau semua orang udah berubah, hidup dengan kerja keras. Sementara aku… masih ketinggalan sendirian, masih terjebak di masa lalu, dan justru terbawa suasana sama luka-luka itu.”
Bagaimana bisa orang setenang ini? Batin Alex.
Ia tak paham mengapa Sora kembali memaksakan diri terlihat tegar. Dia tidak menyalahkan siapapun, baik tindakan Livi, atau perlakuan Evan. Dia terus menahan dirinya sendiri, mengunci semua reaksi, padahal wajar jika dia tampak murung. Dan pada saat-saat seperti itu, Alex tahu apa yang harus ia lakukan: memberinya pelukan, seperti semalam. Namun wanita ini seolah tak memberi kesempatan siapapun untuk melihat retak di hatinya. Hingga tak ada yang benar-benar tahu seberapa hancur ia di dalam. Ia tak pernah mengatakannya.
Sora sendiri merasa tadi ia sempat keceplosan. Di samping Alex, ia merasa tenang, merasa tak perlu banyak berpikir untuk bertindak dan berucap. Bahkan, di sudut dirinya, ia mungkin telah memberi pria itu julukan ‘malaikat penyelamat’, sosok yang berkali-kali menariknya keluar dari situasi yang nyaris membuatnya runtuh di hadapan orang lain. Namun kini, pria yang biasanya menanggapi tanpa banyak pikir, bertanya tanpa tedeng aling-aling, dan luwes bermain di ambang batas, justru diam. Alex menahan diri. Sejak tadi, dia menahan diri. Dan Sora tak enak hati akan hal itu.
“Jadi—”
Ucapan mereka bertabrakan. Keduanya berhenti, saling menatap dengan ekspresi yang hampir serupa.
“Kamu dulu,” potong Sora.
Alex mengangguk tipis. “Jadi… setelah ini, kamu mau gimana?”