Rumah itu, Kita selalu

Arisyifa Siregar
Chapter #24

23. Bias Penilaian

Mungkin karena Sora terlalu lama berkelana, bertemu banyak orang, melihat beragam wajah, sifat, dan karakter. Di antaranya, ia sempat menjalin beberapa hubungan romantis yang singkat; kebanyakan berakhir saat ia merasa sudah waktunya berpindah, menolak terikat pada satu tempat atau satu orang terlalu lama. Kini sulit baginya untuk berdebar hanya karena satu pernyataan cinta.

Lucunya, mungkin karena sudah cukup tua. Sora merasa sisi romantis dalam dirinya sudah mengering. Puncaknya adalah sekarang, ketika ia membuka mata dan menyadari orang-orang seusianya telah berkeluarga atau mapan secara karier. Lidya memimpin Talent Management yang mengesankan, Livi menjadi Account Manager berpengalaman di perusahaan investasi ternama, sementara dia, baru merangkak, memikirkan cara mencari kerja demi bertahan hidup dengan uang sendiri. Dalam kondisi sepayah ini, pernyataan cinta Alex sama sekali tak mampu menggetarkan hati.

Biasanya, mudah bagi Sora menghindari orang yang akan ia tolak: cukup pergi dan menghilang. Ia tak akan pernah kembali ke tempat itu. Dunia terlalu luas, menyimpan ribuan titik yang bisa ia datangi tanpa harus berpapasan lagi dengan orang yang sama.

Ia juga kerap memakai rahasia kelamnya sebagai tameng untuk memukul mundur para pria yang mendekat. “Aku punya suami dan satu anak,” ucapnya dingin, sengaja tanpa menyertakan kata ‘dulu’ agar terdengar masih terikat. Cara itu selalu ampuh.

Namun kali ini berbeda.

Ia telah berkomitmen untuk tidak melarikan diri lagi. Pun, tak punya uang untuk itu. Lalu yang paling menjadi masalah, ia tinggal di rumah pria itu, orang yang tahu persis latar belakangnya. Alex bahkan tampak tahu lebih banyak dari yang ia kira, termasuk usianya, yang tak pernah ia sebutkan. Bagaimana ia harus menghindar? Jelas tak bisa.

Padahal, ini bukan waktu yang tepat menambah kerumitan hidup dengan kisah cinta bersama pria yang lebih muda. Masa lalunya saja belum benar-benar rampung. Ia bertahan di rumah itu untuk menyelesaikan apa yang mengganjal, terutama urusannya dengan Evan dan Livi. Namun kini, daftar masalahnya bertambah satu lagi.

Makin berat perasaan itu, karena dia juga mulai makin mengenal sosok Alex.

Saat Alex keluar membeli keperluan rumah, Oma Naria mendekati Sora dengan secangkir teh melati yang harumnya menenangkan, lalu perlahan membuka kotak pandora tentang masa lalu cucunya.

“Oma titip Alex, ya.” Pembicaraan itu langsung dibuka dengan permintaan yang membebani. Sebelum Sora sempat mencerna alasan di baliknya, dan mengapa harus dirinya yang menerima, Naria sudah melanjutkan.

“Alex itu sebenarnya anak yang baik. Dari kecil, bicaranya selalu lemah lembut. Dia nggak pernah bentak orang lain; kalau marah pun, dia paling cuma diam.”

Meski Sora belum menangkap arah pembicaraan sang nenek, dalam hati ia setuju. Alex memang memiliki nada bicara rendah yang cenderung mengayun, menunjukan sisi tenang yang konstan.

“Tapi setelah dewasa, ucapannya sering kali pedas dan cenderung blak-blakan,” lanjut Naria, bibirnya tersenyum tipis mengenang perubahan itu.

Tanpa sadar, Sora mengangguk pelan. Makin setuju. Bagi orang yang belum berhadapan langsung dengan Alex, mereka pasti akan bingung jika harus dijelaskan betapa kontradiktifnya antara nada suara yang hangat dengan pilihan kata dan ekspresinya yang tajam. Pria itu membuat lawan bicaranya bertanya-tanya: apakah sedang dipuji atau justru dihina?

“Itu semua karena dia kurang dapat perhatian saat tumbuh dewasa,” sambung Naria.

Sora menatap wanita tua itu lebih lekat, memberikan perhatian penuh.

“Alex sebenarnya punya kakak laki-laki yang usianya terpaut tujuh tahun. Waktu dia umur sepuluh tahun, kakaknya meninggal, kecelakaan motor. Setelah kejadian itu, ibunya sangat terguncang, sakit-sakitan, dan akhirnya menyusul pergi.” Senyum pilu terselip di bibir Naria, matanya menerawang jauh. “Ibu Alex, anakku. Saking hancurnya dia berduka atas kematian anak pertamanya, sampai lupa kalau masih ada anak kedua yang butuh dia.”

Naria menoleh, menatap Sora lekat. “Jadi, tolong maklumi Alex ya.”

Tanpa perhitungan matang, Sora langsung mengangguk.

Cerita itu terus terngiang-ngiang di telinga Sora, sepanjang perjalanan pulang mereka membelah jalanan Puncak. Di atas motor, di tengah hembusan angin dingin, ia berusaha menarik sebuah kesimpulan logis untuk menanggapi sikap Alex di pinggir kolam ikan tadi; mungkin Alex hanya salah mengartikan perasaannya.

Usianya persis sama dengan usia mendiang kakak Alex jika masih hidup. Kedekatan mereka selama beberapa waktu ini mungkin telah memicu kerinduan Alex terhadap sosok saudara yang hilang, sebuah ikatan emosional yang ia sangka sebagai cinta.

Lihat selengkapnya