“SORA!” Lidya terlonjak dari sofa, seperti baru melihat pelangi di malam gelap. Ia langsung menghambur, menabrak Sora dengan pelukan yang begitu erat hingga napas Sora nyaris tersengal.
Tangisnya pecah seketika, diiringi isak yang terdengar begitu dramatis di tengah kesunyian rumah. “Gue kira... gue kira lu nggak akan balik lagi!”
Tangan Sora yang semula mematung kaku di samping badan karena syok oleh sambutan seheboh itu, perlahan mulai terangkat, mendarat di punggung Lidya, menepuk-nepuknya dengan gerakan menenangkan. Di belakang mereka, Alex masih berdiri mematung, bertingkah bak petugas pengamanan yang mengawasi situasi dengan waspada.
Perpaduan antara energi Alex yang mendominasi dalam diam dan isakan Lidya yang meluap-luap membuat tenaga Sora seperti tersedot habis.
“Iya, iya, udah, Lid. Gue di sini,” ucap Sora pelan. Tepukannya di punggung Lidya berubah sedikit bertenaga, isyarat halus yang akhirnya berhasil membuat Lidya melepas pelukannya dan mundur.
“Maafin gue, Sora... tolong maafin gue,” ratap Lidya dengan wajah memerah padam. Matanya yang bulat tampak sembab dan basah oleh sisa tangis.
Meski Sora tidak tahu persis untuk apa Lidya meminta maaf sesenggukan seperti itu, ia memilih untuk mengangguk-angguk kecil demi meredakan suasana. Di saat yang sama, dari sudut matanya ia menangkap sebuah pergerakan. Alex maju selangkah, bergeser ke sampingnya.
Sora melirik tajam. “Kenapa?”
Alih-alih terbebani oleh respons dingin itu, Alex justru tersenyum ringan. Ia mengulurkan tangan, lalu menepuk puncak kepala Sora dengan lembut. Sora refleks sedikit menundukkan kepala. Lehernya menegang, tubuhnya kaku menahan sentuhan mendadak itu.
“Aku ke kamar dulu. Kalau perlu aku, panggil aja,” ucap Alex rendah. Ia sempat mengusap rambut Sora sebelum akhirnya berbalik dan melenggang pergi dengan langkah ringan.
Wajah Sora seketika menegang. Apa-apaan bocah itu! batinnya berteriak geram.
“Apa itu barusan?” Lidya menyuarakan kebingungan yang sama. Ia mengusap sisa air mata yang masih menggenang, menatap punggung Alex dengan dahi berkerut.
“Bukan apa-apa!” Sora buru-buru menoleh ke arah Lidya, mencoba menetralkan ekspresinya. “Cuekin aja, dia emang nggak jelas,” imbuhnya diselingi tawa canggung yang terdengar dipaksakan. “Ayo, kita ngobrol di kamar!”
Ia langsung merangkul bahu Lidya, menggiring sahabatnya itu ke lantai atas untuk menghindari interogasi lebih lanjut. Saat kakinya menapak di tengah anak tangga, ia menoleh ke pintu kamar Alex yang sudah tertutup. Diam-diam menghela napas pendek, semakin sadar bahwa pria muda memang memiliki sisi tak terduga yang berbahaya.
Di dalam kamar, Alex langsung merebahkan tubuhnya asal. Menatap langit-langit selama beberapa saat, lalu tiba-tiba saja ia tertawa.
Ia mendadak teringat sesuatu.
Waktu kecil, kakaknya pernah membawa pulang seekor kucing hitam yang katanya ditemukan di depan gerbang rumah. Bulu kucing itu hitam dan mengkilap. Matanya selalu waspada, setiap kali Alex mendekat, tubuh kecil itu langsung menegang, mendesis pelan, menampakkan taring mungilnya, lalu mundur ke sudut tergelap yang bisa ia temukan dan meringkuk di sana.
Ia jarang terlihat makan. Air di mangkuknya hampir tak pernah berkurang. Kucing itu begitu tenang, hanya diam, seringkali mengkeret di balik bayang-bayang, seperti berharap tak ada yang menyadari keberadaannya.