Lidya berbicara tanpa jeda, seakan-akan kalau dia membiarkan udara kosong sedetik saja, seluruh benteng keberanian yang susah payah ia bangun luruh jadi abu. Kata-katanya bertumpuk, saling menyalip, meluncur dari bibirnya yang gemetar hingga Sora harus memicingkan mata.
Awalnya, Sora masih mengangguk pelan, sesekali menyelipkan gumaman kecil sebagai tanda bahwa ia masih menyimak. Namun, semakin lama alur cerita Lidya melompat-lompat liar, bercabang ke segala arah mulai dari masa kecil hingga rasa bersalah yang tak masuk akal. Sora sempat terpaku, menatap wajah sahabatnya itu dengan kening berkerut dalam, setengah khawatir melihat kondisi mental Lidya, setengah tak percaya pada apa yang baru saja ia dengar. Hingga akhirnya, ia mulai menekan pelipis dengan ujung jari, mencoba meredam dengung yang mulai memenuhi kepalanya akibat rentetan kalimat Lidya yang kian tak terkendali.
“Tenang-tenang, Lid!” potong Sora, mengangkat kedua tangannya ke udara. Kewalahan menghadapi rentetan kejujuran tanpa tedeng aling-aling yang menghujamnya bertubi-tubi. “Lu nggak perlu merasa bersalah tentang perasaan lu ke Ken dulu.”
Barulah Lidya berhenti.
Namun Sora tak memungkiri, setelah sesi yang Lidya sebut ‘pengakuan dosa’ itu, bukan hanya Lidya yang merasa lebih ringan. Mendengar Lidya membedah isi hatinya, tentang dirinya dan Livi, tentang perasaannya, labirin pikirannya, rasa bersalah yang membusuk, hingga segala sesal dan kekhawatiran atas persahabatan mereka, membuat dada Sora penuh oleh kesadaran baru.
Ternyata, alasan ia belum benar-benar lega setelah mengungkap rahasia yang tersimpan selama satu dekade adalah karena ia belum sanggup melakukan hal yang sama. Ia belum berani jujur dan terbuka setelanjang itu.
Pemikiran itu menuntun langkahnya ke ruang tamu pukul delapan malam. Ia duduk di sofa, membiarkan tubuhnya tenggelam dalam kesunyian yang pekat sambil menunggu Livi pulang. Momen ini memicu dejavu, mengingatkannya pada hari pertama ia memutuskan tinggal disitu. Bedanya hanya satu: malam ini hatinya lebih lunak. Amarah dan rasa penasaran yang sempat membakar jiwanya hampir sepenuhnya padam, menyisakan kelelahan emosional yang samar.
Tak lama kemudian, derap sepatu pantofel beradu dengan lantai terdengar mendekat. Livi masuk sambil menjinjing tas laptop, bahunya tampak kaku oleh lelah. Di ambang ruang tamu, ia tertegun, langkahnya tertahan sejenak. Ingatan yang sama seperti menariknya kembali, namun, sama seperti Sora, hal dalam dirinya juga berubah ketimbang waktu itu. Alih-alih merasa terancam atau terkejut melihat Sora menunggunya, secercah kelegaan justru menyelinap ke relung hatinya karena Sora telah kembali, meski egonya menolak mengakui.
“Kenapa ngeliatin?” tanyanya ketus, mencoba mempertahankan topeng dingin sambil membungkuk untuk mengganti sepatu dengan sandal rumah.
Sora menghela napas pelan, sebuah lengkungan tipis muncul di sudut bibirnya yang lelah. “Kalau gak capek, ayo kita ngobrol.”
Livi merespons dengan lirikan mata yang tajam, namun alih-alih melempar argumen pedas, mulutnya justru langsung mengiyakan. “Tunggu, gue ganti baju dulu,” sahutnya sebelum berlalu menuju kamarnya, meninggalkan Sora dalam remang lampu ruang tamu yang kini terasa sedikit lebih hangat.
***
Dua kaleng soda dingin mulai meneteskan embun, membasahi permukaan meja kayu yang menjadi sekat di antara kursi Livi dan Sora. Di atas mereka, semilir angin malam menyentuh pipi dengan lembut, membawa hawa sejuk yang kontras dengan ketegangan yang menggantung. Keduanya terjebak dalam kebisuan, sama-sama menatap permukaan kolam renang yang tenang, tempat pantulan lampu taman bergoyang samar. Mereka seperti tersesat dalam labirin canggung, mencari celah untuk memulai percakapan yang tak lagi bisa dihindari.
Sora menggeser pandangannya, mencuri lihat pada profil Livi yang menyimpan gurat lelah. Ia tersadar, bocah yang dulu merengek minta les matematika itu kini telah menjelma menjadi wanita dewasa yang matang. Seketika, potongan cerita Lidya tentang perasaan terasing Livi melintas di benaknya. Hati Sora berdesir; rasa terenyuh merayap pelan. Ia tahu betul apa yang harus ia lakukan sebagai pembuka.
“Maaf.” Satu kata itu meluncur, sebuah permohonan yang tulus.
Livi tersentak. Matanya langsung melebar, kepalanya menoleh cepat, seolah ingin memastikan apa yang baru saja ia dengar.
“Kenapa… kenapa lu yang minta maaf?” tanyanya, ragu.
Sudut bibir Sora terangkat tipis. “Jadi, lu sadar kalau lu juga harusnya minta maaf?” balasnya halus, menyisakan sindiran yang tak perlu ditegaskan lagi.
Livi mendengkus, tawa tipis keluar dari hidungnya. Ia meraih kaleng soda di hadapannya, menarik kaitnya dengan satu sentakan kasar. Klik logam terdengar tajam, diikuti desis buih yang langsung memecah sunyi.
Ia meneguk isinya dua kali, cepat, seakan ingin buru-buru menelan sesuatu yang mengganjal. Lalu kaleng itu dihentakkan kembali ke meja, berdentum ringan dan, membuat butiran soda memercik keluar, meninggalkan noda lengket di permukaan kayu.
“Ya, gue minta maaf,” ucapnya kemudian. Suaranya goyah, tertahan antara gengsi dan pengakuan. “Gue juga udah dipukul Lidya kemarin gara-gara ngegoda suami orang. Gue akuin, gue salah. Tapi—” Ia menoleh perlahan. “Lu harus tahu, nggak ada yang terjadi antara gue dan Evan di Jepang. Kita emang kesana bareng, tapi Evan selalu pasang jarak sama gue. Dia nggak pernah kasih gue celah.”
Sora tertegun. “Kalau gitu, kenapa dia nggak jawab telepon gue sama sekali waktu itu?”
Dahi Livi mengernyit. Matanya bergerak cepat, seperti sedang menelusuri ingatan yang lama tertimbun. Beberapa detik ia diam, lalu ekspresinya sedikit berubah saat benang itu tersambung.
“Ah… itu,” ucapnya pelan. “Waktu itu HP dia hilang di bandara.”
Sora membeku.