Rumah itu, Kita selalu

Arisyifa Siregar
Chapter #27

26. Tak Nyaman Diinginkan

Tak tertarik? Sora diam-diam merutuki dirinya sendiri.

Gara-gara obrolannya dengan Livi semalam, ketenangannya pagi ini hancur total.

Ia tahu seharusnya mengabaikan semua yang terjadi di depan matanya. Ia tidak tertarik pada Alex, sudah menolaknya juga, dan sama sekali tak peduli jika Livi mengejarnya. Namun kenyataannya, sejak pagi ada semacam magnet yang terus menarik pandangannya ke arah mereka berdua.

Sabtu pagi itu dipenuhi keributan agenda bersih-bersih rumah. Alex, dengan otoritas mutlak sebagai pemilik rumah, membagi tugas agar ketiga wanita itu punya wilayah kerja masing-masing. Sora, yang sejak awal sudah mengeluh dalam hati karena rumah sebesar ini tak memiliki asisten rumah tangga, mau tak mau ikut berkeringat. Ia mendapat bagian membersihkan ruang keluarga, laundry room, hingga halaman belakang.

Sementara itu, Lidya dengan sukarela mengasingkan diri di lantai dua, bersih-bersih sambil mengobrol di telepon dengan Ken yang sedang berada di luar kota. Alex dan Livi justru bekerja berdua di area depan dan samping rumah, mulai dari ruang tamu, dapur, sampai kamar Evan.

Kenapa juga mereka harus bersih-bersih bersama?

Pertanyaan itu tiba-tiba melintas di kepala Sora, memicu rasa tak nyaman di dada. Ia segera menggeleng kuat-kuat, berusaha mengusir bibit penasaran yang mulai mengganggu fokusnya.

“Ugh!” Sora mengerang pelan sambil berjinjit, mencoba mengangkat keranjang berisi sabun cuci dan pelembut ke rak paling atas. Lengannya mulai gemetar; beban yang seharusnya ringan itu terasa menyiksa di ujung ototnya.

Keranjang itu nyaris terlepas saat sepasang tangan tiba-tiba muncul di sisi tubuhnya.

Belum sempat Sora menoleh, kepalanya sudah lebih dulu terdorong oleh dada Alex. Bahunya refleks menegang ketika tangan pria itu melewati samping tubuhnya, mengambil alih keranjang itu dengan mudah.

Dengan satu dorongan ringan, keranjang rotan itu meluncur sampai ke pojok rak paling dalam.

Sora buru-buru menarik tangannya turun. Tubuhnya langsung bergeser setengah langkah menjauh. Ia membuang muka cepat-cepat, lalu asal meraih kemoceng di dekatnya dan mulai mengibaskan benda itu ke rak sebelah dengan gerakan acak.

Alex memperhatikannya dari samping. Sudut bibirnya perlahan terangkat, menahan geli melihat kepanikan yang terlalu kentara itu.

“Kenapa?” godanya santai. “Kok bete gitu?”

“Siapa yang bete?” balas Sora cepat tanpa menoleh. Namun nada bicaranya yang sedikit meninggi justru membongkar semuanya.

Alex tertawa kecil, nyaris tanpa suara. Ia melangkah sedikit lebih dekat sambil merogoh saku celananya, lalu mengangkat ponsel tepat di depan wajah Sora. “Lihat, deh,” bisiknya.

Sora yang tadinya masih berusaha pasang wajah jual mahal langsung membelalak. “Alex!” pekiknya tertahan.

Refleks menyambar ponsel itu dengan kedua tangan. Gerakannya terlalu cepat sampai jemarinya ikut menggenggam tangan Alex yang masih memegang benda itu. Begitu sadar, Sora langsung melepaskannya seperti tersengat. Wajahnya seketika panas.

“Apaan, sih!” desisnya pelan, berusaha menekan suara. “Ganti nggak!”

Alex justru makin cekikikan. Tatapan panik Sora saat melihat fotonya dijadikan wallpaper ternyata jauh lebih lucu dari bayangannya.

“Ganti aja, kan?” godanya santai. “Berarti fotonya jangan dihapus, ya?”

Rahang Sora langsung mengeras. Tangannya mengepal di sisi tubuh, menahan gemas yang mulai naik sampai ke ubun-ubun. “Hapus juga!” balasnya sengit.

Tangannya kembali bergerak cepat hendak merebut ponsel itu, tapi Alex sudah lebih dulu menarik tangannya ke belakang sambil mundur satu langkah dengan santai.

“Nggak boleh, tuh,” ujarnya ringan sambil menyeringai puas.

Ekspresi jahil di wajahnya entah kenapa terlihat menyebalkan dan manis sekaligus.

“Aduh!” Sora memukul dahinya sendiri frustasi sebelum buru-buru mengejar.

Namun langkahnya langsung terhenti begitu mencapai ambang pintu. Di ruang tamu seberang sana, Livi berdiri diam sambil menatap lurus ke arahnya. Matanya menyipit tajam. Pelan-pelan wanita itu mengangkat dua jarinya, menunjuk matanya sendiri, lalu mengarahkannya ke Sora. Isyarat yang langsung Sora tangkap maknanya dan membuat bahunya langsung menegang.

Sial. Nyalinya mendadak ciut di bawah tatapan penuh curiga itu.

Sora buru-buru membatalkan langkahnya mengejar Alex. Putar balik masuk lagi ke ruang laundry dengan langkah lesu, sambil diam-diam berharap Livi tidak melihat wallpaper ponsel sialan itu. Tangannya asal mengusap permukaan mesin cuci dengan lap seadanya.

“Begini amat hidup kalau nggak punya duit,” gerutunya pelan penuh nestapa.

Andai uangnya masih sebanyak dulu, Sora pasti sudah masuk kamar, mengemasi koper, lalu pergi dari rumah itu. Masa bodoh dengan apa pun yang akan terjadi setelahnya antara Livi dan Alex. Yang penting, drama picisan ini berakhir segera.

Namun isi rekeningnya sekarang terlalu menyedihkan untuk dipakai bertindak impulsif. Apalagi uang itu pemberian Lidya. Sora sampai harus berkali-kali menghitung pengeluaran kecil di kepalanya supaya bisa bertahan hidup sampai mendapat pekerjaan dan gaji pertama. Menyewa tempat baru sekarang terasa semewah mimpi.

Belum lagi alasan yang harus ia jelaskan ke Lidya nanti. Dia sendiri yang keras kepala ingin tinggal di rumah ini. Kalau sekarang tiba-tiba kabur, Lidya pasti langsung curiga. Membayangkan sahabatnya panik karena tahu dirinya dan Livi kembali terjebak dalam kerumitan baru saja, sudah cukup membuat Sora pusing.

“Sora!” Suara Lidya menggema.

Sora langsung tersentak keras sampai bahunya ikut terangkat. “Aduh!” keluhnya sambil memegangi dada. “Ngagetin banget, sih!”

Lidya yang sudah berdiri di ambang pintu langsung mengernyit khawatir. “Kenapa?” tanyanya sambil mendekat. “Muka lu pucat banget.”

Tuh, kan. Mulai lagi. Sora menahan napas pendek sebelum buru-buru menarik sudut bibirnya membentuk senyum tipis. “Nggak ada apa-apa,” jawabnya cepat. “Kenapa manggil?”

Lihat selengkapnya