Rumah itu, Kita selalu

Arisyifa Siregar
Chapter #28

27. Harus Disegerakan

Sora memijat perutnya sambil menahan rintihan pelan. Makan malam tadi jauh dari nyaman, bukan hanya baginya, tapi juga Lidya, Livi, bahkan Alex. Sepanjang makan, mereka berulang kali melirik lantai mezzanine, ke kamar Evan.

Tak ada yang secara terang-terangan mengungkapkan pikirannya, tapi setiap suapan atau teguk air, mata mereka kembali ke sana. Pintu kamar itu tertutup rapat. Tak ada suara apa pun.

Sebelumnya, Kalif datang bersama dokter. Pria itu tersenyum canggung, menunduk saat melewati mereka di dapur dan ruang tamu. Dokter turun sepuluh menit kemudian, dengan senyum profesional yang terlalu sopan, lalu langsung pergi tanpa banyak bicara. Itu justru memicu rasa penasaran mereka.

Mereka menunggu kabar dari atas, entah Evan keluar sendiri, atau Kalif yang turun memberi tahu. Livi cukup mengenal pria itu dan berniat bertanya, tapi setelah dua jam, Kalif akhirnya muncul dengan kepala tertunduk dan sorot mata kusut. Melihat itu, Livi mengurungkan niatnya.

Rasa penasaran itu akhirnya ikut duduk di meja makan. Semua diam-diam memikirkan hal sama: apa yang sebenarnya terjadi di balik pintu kamar itu?

Ken, yang diam-diam diharapkan Lidya dan Sora, tak kunjung datang. Dalam hati, Sora berpikir mungkin hanya pria itu yang cukup dewasa untuk naik dan menanyakan keadaan Evan langsung. Tapi hingga makan malam hampir selesai, tak ada tanda-tangannya.

Di antara Sora, yang hubungannya dengan Evan sedang buruk, Livi yang canggung karena masa lalu, dan Lidya yang belum benar-benar menyapa Evan setelah bertahun-tahun tak bertemu, orang paling masuk akal justru Alex.

Sora sempat meliriknya, mengirim isyarat, berharap Alex tahu sesuatu. Tapi Alex hanya mengedikkan bahu cuek sambil menyantap iga bakarnya lagi. Entah pura-pura atau memang tak peduli.

Dalam kondisi itu, Sora tetap memaksakan makan. Nafsu makannya, yang bertahun-tahun hilang, mendadak kembali setelah seharian bersih-bersih rumah. Akibatnya, kini ia duduk di teras samping, menahan mual karena perutnya gagal mencerna makanan yang dipaksa masuk.

Pintu kaca di belakangnya berderit pelan, memecah sunyi malam yang sejak tadi hanya diisi desir angin dan suara jangkrik samar dari kejauhan. Tirai tipis di samping pintu bergerak kecil tertiup udara dingin yang menyelinap masuk. Sora menoleh, tak terkejut melihat Alex datang. Kemunculan tiba-tiba pria itu saat ia sendirian perlahan membangun kekebalan dalam dirinya. Tanpa sadar, toleransi Sora terhadap tingkah Alex terus meningkat. 

Di tangannya, Alex membawa cangkir kecil. Ia menurunkannya hati-hati ke lantai agar isinya tak tumpah, lalu menekuk kaki dan duduk di samping Sora. Cahaya lampu kuning remang dari dalam rumah jatuh miring ke wajah mereka, meninggalkan bayangan lembut di sisi rahang Alex. 

Sora melirik cangkir itu. Cairan keruh di dalamnya mengeluarkan uap tipis yang mengepul malas ke udara malam dingin.

“Apa itu?” ucap Alex tiba-tiba.

“Ha?” Sora menoleh, alisnya langsung terangkat.

Alex mengarahkan dagunya ke cangkir. Bibirnya mengerucut tipis. “Kamu mau nanya, ‘apa itu?’ kan?” 

Dengusan tawa kecil lolos dari hidung Sora. Hangat yang sejak tadi tak ada di wajahnya akhirnya muncul sedikit.

Melihat reaksi itu, Alex tersenyum tipis. “Buat kamu.” Ujung jarinya menyentuh bibir cangkir pelan, mendorongnya sedikit lebih dekat ke arah Sora.

Sora mengambil cangkir itu dengan kedua tangan. Hangat langsung merambat ke telapak kulitnya. Hidungnya mendekat lebih dulu, mengendus bau yang sejak tadi samar-samar sudah ia cium. “Jahe?” tanyanya, heran, tak menyangka Alex membawakannya minuman yang tak ada di rumah.

Alex mengangguk. “Aku kasih gula merah sedikit, kata Kak Lidya kamu nggak suka pahit.”

“Em.” Mata Sora langsung mengerut setuju. 

Ia lalu menyesap minumannya. Hangat jahe itu perlahan turun ke tenggorokan lalu menyebar sampai ke perutnya yang sejak tadi terasa tak nyaman. Bahunya yang semula tegang sedikit demi sedikit turun rileks, bahkan napasnya mulai terdengar lebih tenang. 

Di sampingnya, Alex diam memperhatikan. Bersandar santai dengan satu tangan menopang tubuh di belakang, sementara angin malam memainkan helaian rambut depannya. “Apalagi yang kamu nggak suka?”

Sora mengerling curiga. “Maksudnya?”

“Selain pahit.” Alex memiringkan kepala sedikit. “Apalagi yang kamu nggak suka? Apa yang kamu suka?” 

Sora langsung mencibir sambil menggeleng. “Udah deh, Alex. Berhenti.”

Alex menghembuskan napas pendek sebelum menyandarkan kepala ke dinding “Aku maunya juga gitu,” gumamnya ringan. “Tapi aku penasaran terus.” 

“Ck…” Sora mendecak pelan sambil menurunkan cangkir kembali ke lantai dengan hati-hati. Jemarinya sempat diam beberapa detik di bibir cangkir sebelum akhirnya lepas.

“Kamu…” Ia menatap Alex ragu, sambil menimbang-nimbang dalam benak. “Tahu kalau Livi suka sama kamu?” Akhirnya memutuskan bertanya.

Lihat selengkapnya