Rumah itu, Kita selalu

Arisyifa Siregar
Chapter #29

28. Campur Aduk Perasaan

Begitu pintu terbuka dan Sora berdiri di depannya, beban tak nyaman yang mengikat Evan sejak semalam seperti langsung sirna.

Ia terpaku. Sepersekian detik itu membentang panjang, seperti waktu sengaja tersendat agar ia bisa memastikan: ini nyata. Bukan sisa mimpi atau bayang rindu yang terlalu lama dipendam.

Sora. Di ambang pintunya. Menatap lurus.

Kantuk yang masih menempel di matanya lenyap seketika. Evan refleks menegakkan punggung, menarik bahu ke belakang, sedikit membusungkan dada, merapikan diri, menyembunyikan kelemahan yang nyaris tumpah. Sorot matanya dipaksa tegar.

Sora mengerjap beberapa kali. Bibirnya terbuka, lalu tertutup. Jeda canggung itu terasa familiar.

Ingatan itu pun datang tanpa diundang. Rumah yang sama. Orang yang sama. Situasi serupa. Versi mereka yang lebih muda, jauh lebih muda, pasangan suami istri yang saling pandang dengan kikuk. Keluarga yang lahir dari transaksi.

Rasa hangat bercampur perih itu membuncah, mengisi rongga dadanya yang selama ini ia biarkan kosong. Tapi logikanya langsung bangkit, menahan dirinya, mengingatkan: semua itu sudah berlalu.

“Kamu ada waktu?” ucap Sora tenang, terkendali. Nyaris tak berubah seperti dirinya yang Evan ingat, seperti waktu yang berjalan tak pernah menyentuh bagian itu.

Ia mengangguk. Refleks, tanpa benar-benar sadar.

“Aku mau ajak kamu ke suatu tempat.” Tambah Sora.

Evan mengangguk lagi, lebih cepat, seolah takut momen ini sirna jika ia ragu. Kehadiran Sora di ambang pintunya, mengajak bicara lebih dulu, terasa seperti keajaiban.

Ada beberapa saat mereka saling tatap, mata Sora sempat bergerak ke arah lain, sebelum kembali padanya. Nampak seperti memastikan apakah ada yang mau ia katakan, tapi Evan jelas tak tahu harus berkata apa. Jadi wanita itu berbalik.

Tangan Evan refleks terangkat ingin menahan, ingin memanggil, meski tak benar-benar tahu apa yang akan ia lakukan setelahnya. Namun gerakan itu terhenti di udara.

Di bawah, Alex dan Livi sudah mendekat ke arah tangga, siap menyambut Sora. Perlahan, tangannya turun kembali ke samping badan. Jemarinya mengepal sebentar, lalu melepas. Ia mundur satu langkah. Kembali ke dalam kamar.


Sementara dibawah, Sora menoleh ke pintu kamar yang tertutup lagi itu.

“Kita sarapan dulu, yuk!” ajak Alex, menarik perhatian Sora.

“Ah iya.” Angguk Sora kikuk. “Aku rapihin meja makannya.” Ia langsung masuk ke dapur.

“Aku panggil Lidya sama Ken.” Putus Livi, langsung bergerak ke tangga lain yang menuju lantai dua.

Alex membalas senyum keduanya, lalu diam sejenak. Pandangannya bergeser ke arah pintu kamar Evan, sudut matanya menyipit tipis. Memprediksi, kalau suasana makan pagi ini tak akan berjalan mudah. Karena pria yang menempati kamar mezzanine itu, yang biasanya menunjukkan wibawa dan aura mendominasi menyebalkan, sejak kemarin bertingkah seperti anak kecil yang coba menarik perhatian ibunya.

“Huh!” keluhnya sambil menyusul Sora ke dapur.


Dan benar saja. Beberapa saat kemudian, kejadian yang sama terulang lagi, hanya keadaannya sedikit berbeda.

Ken turun paling terakhir, saat semua orang sudah duduk di meja. Wajahnya terlihat lelah, kantung matanya terlihat jelas akibat kurang tidur, baru sampai rumah lewat tengah malam. Meski begitu, ia tetap menyunggingkan senyum dan menepuk bahu Sora hangat setelah lebih dulu mengecup pipi Lidya sebagai sapaan. Lalu menarik kursi dan duduk di samping istrinya.

Lihat selengkapnya