Mata Evan terpejam rapat, berat dan lekat, dahinya berkerut menahan nyeri tak terperi, sementara rahangnya mengunci kencang, membendung luapan emosi dari dalam. Ia tak ingin menangis di hadapan Sora, namun rasa panas itu terus merambat kasar dari dada ke wajah, membakar pangkal hidungnya, memberikan sensasi perih yang nyata.
Di sampingnya, Sora berlutut. Jemarinya sibuk mencabuti tanaman liar yang menyelip di sela rumput manila yang warnanya tak merata, sebagian hijau segar, sebagian lain menguning kering. Aroma tanah basah bercampur samar dengan bau bunga yang baru saja ia tabur. Kelopak-kelopak yang mulai layu bertebaran di atas pusara, warnanya masih merekah, menghadirkan keindahan yang terasa menyedihkan.
Deretan nisan mengelilingi mereka dalam barisan rapi. Diatas, langit menggantung rendah, lapisan awan abu-abu seperti menekan bumi. Angin dingin pun mulai berhembus pelan, menyusup di antara pohon dan menggoyangkan rumput, menimbulkan desis halus yang menyerupai bisikan.
Tak ada suara lain. Tak ada langkah kaki, tak ada percakapan, hanya gesek dedaunan kering yang sesekali terseret angin, serta denting samar genta yang entah ada dimana. Kesunyian itu seperti menyerap emosi, lalu menghempasnya balik dalam bobot yang lebih berat.
Saat Evan akhirnya membuka mata, setelah susah payah meredakan gelombang duka yang nyaris menelan akal sehatnya, pandangannya jatuh ke sisi wajah Sora. Ekspresi wanita itu datar, tenang, terlalu tenang untuk tempat baginya begitu menyiksa. Benaknya tersulut, bagaimana wanita itu bisa begitu tenang setelah menyeretnya kesini tanpa peringatan?
Ia tak pernah benar-benar memahami Sora. Seberapapun keras ia mencoba, ia selalu gagal, baik dulu maupun sekarang. Jalan pikiran Sora, caranya menghadapi sesuatu, semuanya tetap asing bagi Evan. Dari sekian banyak kemungkinan cara melanjutkan percakapan mereka yang sempat terputus karena emosi mengambil alih, Evan tak menduga kalau Sora justru memilih tempat ini, tempat yang paling ekstrim sekaligus paling menyakitkan: makam Navid.
Tubuhnya terasa kian sempit, terasa tak lagi sanggup menampung semuanya. “Sora, kita perlu bicara.”
Tangan Sora terhenti. Ia diam beberapa detik, membiarkan sehelai rumput yang baru saja dicabut tetap terjepit di antara jemarinya. Kemudian berdiri perlahan, menepuk sisa tanah dari tangannya tanpa tergesa. Dan menatap Evan sambil membatin, akhirnya kamu ngomong juga.
“Ayo,” ujarnya singkat.
Ia bergerak mendahului, menjauh dari pusara tanpa menoleh. Sepatunya menginjak kerikil kecil di jalan setapak, menimbulkan bunyi berderak halus yang terdengar nyaring di tengah sunyi.
Sebenarnya Sora memutuskan semua ini karena paham betul tengah berurusan dengan siapa. Evan bukan sekadar mantan suami, apalagi teman alumni, pria itu telah bertransformasi menjadi sosok yang digandrungi banyak orang. Karenanya, semalaman ia memikirkan dengan saksama tempat yang tepat untuk bicara berdua. Bukan di rumah; terlalu banyak mata, ia tak ingin menjadi tontonan lagi, lalu berakhir dikasihani. Harus di luar, tapi tak banyak pilihan yang memungkinkan, tanpa menarik perhatian.
Pertanyaan Evan tentang keberadaan Navid pun terus terngiang di telinganya, mengalahkan semua ucapan lainnya hari itu. Pertimbangan itu, yang mendorong Sora membawanya kesini, dengan kesadaran penuh bahwa Evan akan merasa tak nyaman.
Mereka akhirnya berhenti, duduk bersisian di bangku kayu di bawah pohon kamboja putih yang batangnya melengkung, kulitnya kasar dan terkelupas di sana-sini. Sunyi kembali turun, sama hening seperti sepanjang perjalanan di mobil tadi.
Sora menarik napas dalam. Paham ia yang harus memulai pembicaraan. “Ayo kita jujur satu sama lain.”
Tatapan mereka bertemu. Dari bayang topi Evan yang turun menutupi separuh dahinya, Sora bisa melihat mata pria itu bergetar. Kelopak mata Sora turun sedikit, “Kenapa kamu marah aku bawa kesini?”
Tawa Evan terhembus, pendek dan getir. “Marah?” gumamnya. Ia mengangkat kepalanya perlahan, menatap ke langit yang kelabu di atas mereka. “Haaaah, Sora…” Helanya berat.
Di samping mereka, bunga kamboja luruh satu per satu. Kelopak-kelopak putihnya jatuh tanpa suara, menimpa tanah yang lembab. Mengisi kekosongan waktu yang terus bergulir sementara Sora masih menunggu lanjutan ucapan Evan.
Perlahan pandangan Evan kembali padanya, dengan alis mengerut, dan rahang mengeras, ia meneruskan. “Bukannya harusnya aku yang minta penjelasan kenapa kamu harus semarah itu sama aku, padahal kamu yang nyuruh aku pergi?”
Mata Sora berkedip pelan, berusaha memaklumi pemikiran itu meski sulit. “Kenapa kamu nggak angkat telepon waktu itu?” balasnya. “Livi bilang karena HP kamu hilang di bandara. Benar?”
Ekspresi Evan seketika berubah. Ketegangan yang tadi terlihat jelas seperti ditarik mundur, hilang begitu saja, menyisakan yang kosong yang sulit dibaca.
“Itu bohong?” tebak Sora, melompat ke kesimpulan paling tajam.
Evan menggeleng pelan. “Benar,” jawabnya. “HP aku hilang, tapi… aku sengaja nggak cari.”
Mata Sora memicing, alisnya berkerut bingung. “Kenapa?”
“Karena kalau ada HP di tangan, aku pasti ngehubungin kamu.”
“Maksudnya?” Sora makin tak paham.