Cinta, manisnya terasa begitu nyata. Evan menikmati setiap interaksi kecil yang terjalin di antara mereka, baik saat bersantai di rumah maupun ketika berpapasan di lorong kampus. Ia memilih untuk tidak terburu-buru menyatakan perasaannya secara gamblang. Baginya, tidak perlu ada yang dikejar. Mereka sudah terikat dalam pernikahan, ikatan paling kuat antara dua orang asing di muka bumi. Yang perlu ia lakukan hanyalah tetap berada di sisi Sora, menunjukkan kehadirannya secara konstan, dan menjaganya dalam diam yang menenangkan.
Sayangnya, rencana itu jauh lebih mudah disusun daripada dijalani.
Setiap kali Sora mendekat dengan binar mata penuh semangat, tertawa lepas hingga matanya menyipit, atau menggerutu panjang tentang teman sekelas dan dosen yang menyebalkan, jantung Evan selalu berdegup tak keruan. Di saat-saat seperti itu, muncul dorongan kuat untuk menarik gadis itu ke dalam pelukannya. Namun logika sialan itu selalu berhasil menahan.
Semakin tinggi terbang, semakin sakit saat jatuh.
Barangkali, itulah kalimat yang paling tepat menggambarkan perasaan Evan. Hubungan mereka telah sampai di titik yang begitu dekat. Mereka bahkan mengurus Navid dan perlahan menganggapnya sebagai bagian dari keluarga. Kehangatan kecil itu terasa utuh, terlalu utuh hingga Evan mulai percaya semuanya akan baik-baik saja.
Sampai suatu sore.
Di parkiran kampus, saat ia bersiap pulang, ponsel di saku celananya bergetar. Nomor tak dikenal muncul di layar.
“Halo, Evan?” sapa suara pria dewasa di seberang telepon.
“Ya, siapa ini?” jawabnya hati-hati, alisnya bertaut.
“Saya Yordan. Ibu Sherly ingin bertemu. Bisa datang ke lokasi yang saya kirim? Dan jangan beri tahu Sora.”
Evan langsung terdiam.
Mertuanya, wanita yang tak pernah muncul ataupun pulang ke rumah sejak dirinya menikahi Sora, tidak pernah memberikan kabar atau terlihat menghubungi Sora, tiba-tiba ingin bertemu, bahkan melarangnya memberi tahu Sora. Kegelisahan seketika merayapi dadanya.
Tanpa membuang waktu, ia segera memacu mobil menuju alamat yang dikirimkan. Namun sesampainya di sana, langkah Evan sempat terhenti di parkiran.
Rumah sakit. Kenapa ibu Sora berada di rumah sakit?
Aroma antiseptik yang tajam langsung menyengat indra penciumannya saat ia melangkah masuk ke lobi. Suasana disana begitu tenang namun mencekam, hanya diiringi bunyi derit roda ranjang pasien yang didorong terburu-buru di kejauhan. Namun yang lebih memekak justru degup jantungnya sendiri, yang gugup setengah mati.
Evan berkali-kali menggaruk tengkuknya di dalam lift yang melaju sunyi ke lantai atas. Pantulan dirinya di dinding stainless tampak gelisah, jauh dari tenang. Begitu tiba di depan kamar VIP yang diinformasikan, ia menarik napas panjang sebelum mengetuk pelan.
Pintu terbuka. Seorang pria paruh baya berdiri di sana, wajahnya tegas namun tenang. Ada lelah yang samar di matanya, tapi pembawaannya tetap rapi dan terkendali. Itulah pertama kalinya Evan bertemu Yordan.
“Masuk,” ucap pria itu singkat sambil menepi memberi jalan.
Langkah Evan langsung melambat begitu memasuki ruangan. Napasnya tertahan melihat Sherly terbaring lemah di ranjang rumah sakit, posisi kepalanya sedikit ditinggikan. Suara monitor jantung berdetak monoton memenuhi kamar, ritmis dan dingin. Rasa panik mendadak muncul begitu saja. Ia datang dengan tangan kosong, pikiran itu langsung membuatnya merasa tak sopan.
Di belakangnya, Yordan menarik kursi perlahan hingga menimbulkan gesekan pelan di lantai. “Silakan duduk,” katanya ramah.
Evan duduk kaku. Baru separuh tubuhnya menyentuh kursi, Sherly sudah lebih dulu membuka suara.
“Kamu suka sama Sora?” Nada bicaranya datar. Langsung ke inti.
Evan membeku. “I-iya, Tante,” jawabnya gugup.
Sherly diam, caranya menatap terasa mirip Sora. Penuh dengan pertahanan diri dan kehati-hatian. “Apa yang bisa kamu kasih ke Sora, kalau semua harta yang kamu dan Sora punya sekarang nggak ada?”
“Y-ya?” Evan terbata. Tak siap ditodong pertanyaan seperti itu.
“Apa kamu cukup berani untuk bantu Sora sukses, sekalipun itu harus membuat dia menderita?” Serang Sherly lagi, seolah tak memberikan waktu untuk Evan mencerna keadaan.
Dalam beberapa detik terkesiap, Evan langsung sadar. Sherly sengaja memberondong pertanyaan itu, bukan karena benar-benar membutuhkan jawabannya, tapi karena dia sudah punya penilaian sendiri yang tak bisa diganggu gugat. Jadi Evan memilih untuk tak bersusah payah menjawab, memberanikan diri untuk langsung bertanya balik.