11 Tahun Kemudian...
Evan menghela napas pelan, seolah embusan itu menjadi penutup dari seluruh penjelasan panjang tentang apa yang sebenarnya terjadi sebelas tahun lalu.
Di sampingnya, Sora diam termenung. Sekilas wajahnya tampak tenang, namun jika diperhatikan lebih dalam, sorot matanya bergetar halus. Ekspresinya mendung, sama seperti langit kelabu yang menaungi pemakaman itu.
Evan tak berani menebak apa yang sedang berputar di kepala perempuan itu. Baginya, Sora selalu sulit dijangkau. Bahkan sekarang, ketika mereka duduk berdampingan dengan jarak hanya beberapa sentimeter, rasanya tetap ada tembok tak kasatmata yang mengelilinginya. Wanita itu selalu menyimpan perasaan dan pikirannya rapat, sesuatu yang tak pernah benar-benar bisa Evan tembus, seberapa pun ia yakin dengan kedekatan hubungan mereka.
“Jadi…” suara Sora akhirnya memecah keheningan. Perlahan, ia mengangkat pandangannya dari tanah yang mereka pijak dan kembali menatap Evan. “Waktu itu mama aku dirawat di rumah sakit?”
“Em.” Evan mengangguk pelan. “Kayaknya sakitnya cukup parah. Dilihat dari peralatan medisnya.”
Wajah Evan masih sedikit pucat, menyisakan jejak lelah dan sakit setelah memaksa tubuhnya bekerja tanpa jeda demi bisa segera pulang dan menemui Sora. Setelah ia memastikan dari Ken bahwa perempuan itu langsung kembali ke rumah sehari setelah pertengkaran mereka dan masih menetap di sana.
“Cih…” Sora mencibir pahit. Ia memalingkan wajah lagi, melempar pandangan ke hamparan rumput makam yang bergoyang pelan diterpa angin.
“Aku tahu kepekaan aku payah,” gumamnya lirih. “Tapi gimana bisa semua itu luput dari perhatian aku? Semua yang kamu jelasin terlalu masuk akal. Timeline-nya cocok sama ingatan aku, detail-detail kecilnya nyambung satu sama lain.” Ia tertawa hambar. “Tapi kenapa aku nggak sadar sama sekali? Apa aku sebodoh itu?”
“Kamu nggak bodoh,” jawab Evan pelan. “Kamu cuma… terlalu fokus sama diri kamu sendiri.”
Sora menoleh lagi. Ia terus menatap Evan, meski fokus matanya jelas tidak benar-benar berada di sana. Pikirannya tampak sibuk berkecamuk, tenggelam dalam kekacauan yang belum selesai ia cerna.
“Jujur, aku nggak pernah bisa ngerti sama kamu, Sora,” ungkap Evan lirih. “Kadang kamu kelihatan benar-benar tertarik sama aku, tapi beberapa waktu kemudian kamu balik dingin lagi. Jaga jarak lagi.”
Sora menghembuskan tawa pendek yang nyaris tak terdengar. Ia mendongak menatap langit selama beberapa detik, sebelum akhirnya kembali menoleh pada Evan.
“Entah aku harus jawab gimana,” sahutnya pelan. “Dulu aku juga sempat mikir hal yang sama. Kenapa kamu ngasih aku harapan cuma buat dipatahin lagi.” Matanya kembali bergeser ke sembarang arah. “Makin aku pikirin, makin aku sangsi sama penilaian aku sendiri.” Suaranya terdengar campur aduk, getir, lelah, juga kesal pada keadaan yang tak lagi jelas harus dilimpahkan kepada siapa.
“Aku bahkan nggak tahu sekarang harus nangis atau ketawa,” bisiknya pelan. “Kenapa masa lalu kita bisa sekonyol ini?”
“Bener.” Evan menundukkan kepala dalam-dalam. Jemarinya saling bertaut erat di atas lutut, seolah berusaha menahan sesuatu agar tak ikut runtuh. “Seandainya dulu kita bisa ngomong sejujur ini…” Ia terdiam sesaat sebelum melanjutkan dengan suara yang jauh lebih pelan ditekan keraguan. “Apa semuanya bakal beda?”
“Seandainya ya…” Mata Sora kembali ke langit yang perlahan menggelap. Warna kelabunya terasa makin pekat dan berat, sama seperti isi kepala mereka saat menyadari betapa banyak hal dalam hidup mereka dipelintir oleh keadaan.
“Kalau boleh ngomong soal seandainya,” lanjutnya lirih. Angin yang makin kencang menggoyangkan ujung rambut merah mudanya yang tergerai. “Aku lebih milih… seandainya kamu jawab telepon aku.”
Ia kembali menatap Evan. Tatapan pilunya bertemu dengan mata Evan yang mulai goyah.
“Tadi kamu tanya kenapa aku marah sama kamu padahal aku sendiri yang nyuruh kamu pergi.” Suaranya makin bergetar. “Ya, mungkin aku sempat lupa kalau kepergian kamu itu juga karena aku.” Ia menarik napas pendek. “Tapi alasan sebenarnya aku marah adalah… kamu bisa pergi gitu aja tanpa pernah sekalipun nanya kabar Navid.”
Tangannya mengepal kuat di atas bangku kayu hingga buku-buku jarinya memutih.
Rahang Evan menegang. Sampai detik ini, ia belum benar-benar tahu apa yang Sora lalui waktu itu. Awalnya ada begitu banyak hal yang ingin ia tanyakan, tentang alasan Sora pergi tanpa kabar, tentang kematian Navid, tentang semua bagian hidup perempuan itu yang hilang dari jangkauannya selama bertahun-tahun.
Namun semua pertanyaan itu mendadak membeku di ujung lidah. Karena di detik berikutnya, Evan sadar… dirinya mungkin memang tak punya hak untuk meminta penjelasan apa pun.
“Kamu yang bilang sayang sama Navid,” lanjut Sora. Matanya mulai memerah. “Kamu yang awalnya perhatian ke dia lebih dari aku…” Suaranya retak di tengah kalimat. “Tapi kamu bisa pergi gitu aja tanpa pernah nanya kabarnya satu kali pun.”
Raut wajahnya mengeras, dipenuhi sakit dan kecewa yang terlalu lama dipendam. Ia menatap Evan lurus-lurus, akhirnya memberanikan diri membuka luka yang selama ini ia tutup rapat.
“Telepon aku yang nggak kamu jawab waktu itu… itu alasan kenapa aku marah sama kamu.” Napasnya makin gemetar. “Evan, kenapa dari semua waktu… sekarang baru kamu tanya Navid di mana?” Bibirnya bergetar samar. “Kamu benar-benar peduli sama dia?”
Evan tercekat. Perih menjalar di dadanya, menyebar perlahan ke seluruh tubuh sampai membuatnya sulit bernapas. Ia ingin menjawab, tetapi tak satupun kata berhasil keluar. Kilat yang menyambar di ujung cakrawala bahkan tak seberapa dibanding sengatan kenyataan yang menghantamnya saat ini.
Bahkan sejak pertengkaran mereka beberapa hari lalu, jauh di dalam hati, Evan sebenarnya sudah tahu satu kesalahan yang akan menghantuinya seumur hidup: membiarkan Sora menghadapi kehilangan Navid sendirian.
Ia sengaja tidak mencari ponselnya yang hilang di bandara. Tidak buru-buru membeli pengganti. Karena ia tahu, begitu kembali bisa dihubungi, pertahanannya mungkin akan runtuh. Ia takut terdorong menghubungi Sora. Takut berubah pikiran dan menelepon ibunya untuk membatalkan perceraian itu.