“Argh! Capek!”
Sora tahu bekerja itu melelahkan. Namun mengalaminya sendiri terasa jauh lebih menyiksa dari yang ia bayangkan, terlebih saat ia baru memulai di usia yang tak lagi muda. Tubuhnya jauh dari luwes dan berenergi, sementara tugasnya sebagai asisten penata gaya tak jauh-jauh dari mengangkat baju, perlengkapan, dan berbagai barang berat ke sana kemari.
Namun dari semua itu, yang paling menguras tenaganya justru sikap tak sopan para anggota tim. Kabar tentang usianya yang tak muda namun minim pengalaman rupanya cepat menyebar. Monita, atasannya, manajer penata gaya, usianya sekitar dua puluh lima tahun, mengingatkan Sora pada Alex. Tingkahnya benar-benar bossy, tak memandang Sora lebih tua sama sekali.
Alasan dirinya bersikeras agar Lidya menempatkannya di posisi yang memang benar-benar membutuhkan orang dan sesuai dengan kualifikasinya secara objektif. Bahkan memastikan kalau sahabatnya itu berjanji tak seorangpun disana tahu kalau mereka berteman dekat. Karena, ia sudah menduga hal seperti ini akan terjadi. Apalagi kalau tahu dia teman Lidya, yang ada didepan mereka berlagak sopan, dibelakang makin menjadi-jadi.
Sora kesal dipandang rendah, tapi juga sadar diri bahwa memang begitulah keadaannya. Jadi dia menelan celetukan dan sindiran pedas dari bocah-bocah yang usianya jauh dibawahnya itu. Berusaha tak memasukkannya ke hati, memilih pura-pura tak mendengar.
Jam istirahat yang sejak tadi ditunggu akhirnya datang. Sora duduk di tangga di pojok belakang studio foto, sambil menggigit roti coklat yang dibelinya pagi tadi. Sesekali menghela napas panjang, berusaha menetralkan perasaan dan mengosongkan kepala. Pandangannya turun ke telapak kaki yang dibungkus ballerina flats abu-abu mengkilap dengan manik bunga di ujung.
Manik-manik itu kini tampak menyedihkan. Entah sejak kapan butiran-butirannya rontok, mungkin saat ia sibuk mondar-mandir naik turun lantai satu hingga tiga dengan rok span jeans yang membatasi langkahnya.
“Besok harus pakai celana,” gumamnya bertekad. Meski katanya besok mereka akan merapikan gudang, bukan pemotretan talent lagi seperti hari ini. Nalurinya berkata kalau hari itu pasti akan lebih melelahkan.
Ponsel di saku dada kaos putihnya bergetar pelan. Sora mengeluarkannya dengan tangan kiri, sementara tangan kanannya masih memegang roti isi yang belum habis dimakan. Namun begitu matanya menangkap nama di layar, kunyahannya langsung terhenti.
Senyum kecil perlahan terangkat di bibirnya. Matanya yang semula kosong karena lelah, mendadak hidup kembali oleh satu nama itu. Ia buru-buru menaruh rotinya di pangkuan, lalu memegang ponsel dengan kedua tangan.
> Gimana hari pertama kerja? Capek ya? Ini Alex. Simpan nomornya.
Jemari Sora langsung bergerak lincah di atas layar.
> Kamu minta nomor aku dari siapa?
Tak butuh waktu lama hingga tulisan sedang mengetik… muncul di layar. Bertahan cukup lama, lalu menghilang begitu saja tanpa pesan masuk.
Sora mengerjap heran.
Beberapa detik kemudian, ikon itu muncul lagi. Hilang lagi. Sepertinya pria itu berkali-kali mengganti jawabannya sendiri. Sampai akhirnya satu pesan masuk.
> Disdukcapil.
Tawa kecil spontan menyembur dari bibir Sora. Kepalanya sampai menunduk dalam, menahan senyum yang makin melebar.
> Percaya.
Balasan itu baru terkirim ketika pesan berikutnya langsung muncul lagi.
> Hebat, kan?
Sora terkekeh pelan, lalu mengetik cepat.
> Respect!
Ia terdiam sejenak, menunggu balasan berikutnya muncul di layar. Namun ruang obrolan itu tetap sunyi.
Beberapa detik kemudian, Sora baru menyadari sesuatu: sejak tadi bibirnya terus tersenyum.
Refleks, ia buru-buru menurunkan sudut bibirnya. Matanya langsung bergerak ke sekeliling dengan waswas, takut ada yang melihat dirinya senyum-senyum sendiri seperti orang bodoh.
Ia menghela napas panjang. Ngapain sih, Sora. Jangan senyum-senyum. Ia menegur dirinya sendiri dalam hati.
Ini bukan waktunya merasa ringan seperti ini. Hidupnya berantakan. Hubungannya dengan Evan belum jelas, urusan Yordan belum selesai, sekarang ditambah Livi dan segala kerumitan baru karena Alex. Tak seharusnya ia bisa tersenyum hanya karena pesan receh pria itu.
Sora memasukkan lagi ponselnya ke saku, lalu kembali menggigit rotinya. Kepalanya mendongak ke gedung di seberang jalan tanpa benar-benar fokus melihat apa pun.
Namun kunyahannya perlahan melambat. Sampai akhirnya berhenti sendiri. “Hm…” dehemnya pelan.
Tangannya bergerak lagi, nyaris tanpa sadar, mengambil ponsel dari saku. Jemarinya membuka ruang obrolan Alex tanpa sempat berpikir panjang.