“Sora!”
Suara Evan yang berat dan dalam itu seperti berdenging nyata di telinganya, membelah kesunyian yang pekat. Tanpa disadari, dinding-dinding rumah itu seakan bertindak sebagai pemutar kaset lama; membawanya meluncur kembali ke masa lalu.
Berkali-kali, setiap kali kelopak matanya terkatup rapat, kenangan itu menyusup tanpa permisi, hadir dalam cuplikan mimpi yang terasa begitu hidup, meskipun ia sama sekali tak berniat memanggilnya.
Dulu, Sora sempat mengira bahwa yang ia cari dari Evan adalah sosok ayah yang hilang dalam hidupnya. Setiap melihat binar kasih sayang di wajah pria itu saat bermain dengan Navid, ada bagian dalam dirinya yang ikut merasa dipeluk oleh kehangatan tersebut. Dari situlah perasaannya tumbuh perlahan.
Namun anehnya, ketika Evan pergi dan meninggalkan lubang besar dalam hidupnya, Sora tidak hancur. Ia sedih. Sangat sedih. Tapi tidak sampai remuk. Bahkan ia sendiri sempat heran melihat betapa tenangnya ia menghadapi patah hati yang seharusnya mampu melumpuhkannya.
Belakangan, akhirnya menyadari jawabannya. Karena saat itu, Navid masih ada di sisinya.
Ternyata, yang paling ia rindukan selama ini bukanlah sosok ayah, melainkan sebuah keluarga.
Satu-satunya keluarga yang benar-benar dimiliki Sora hanyalah ibunya, yang ia tahu memang yatim piatu dan tak punya saudara. Ia nyaris tak mengenal keluarga dari pihak ayahnya. Sejak kecil, hubungan itu terasa jauh dan asing tanpa pernah benar-benar ia pahami alasannya.
Lalu kehadiran Navid mengisi kekosongan itu sampai penuh. Anak itu membuat rumahnya terasa hidup. Membuat sunyi di dalam dirinya perlahan dipenuhi hal-hal sederhana yang hangat dan menenangkan.
Karena itulah, ketika Navid pergi dan rumah itu kembali dipenuhi keheningan yang menyesakkan, Sora memilih lari. Ia pergi bukan semata karena amarah atau kebencian terhadap Evan maupun ibunya, melainkan demi melindungi dirinya sendiri. Baginya, kalau ia tak pernah pulang ke rumah itu lagi, maka ia juga tak perlu menghadapi kenyataan bahwa dirinya tak punya keluarga.
Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tak pernah kembali ke sana.
Namun takdir rupanya punya selera humor yang sinis. Pada akhirnya, ia terseret lagi ke bangunan yang sama, dan kembali dikelilingi oleh orang-orang yang mengisi hidupnya dulu.
Sejujurnya, Sora takut dirinya mulai terbiasa, takut rasa bahagia itu mulai berakar, karena ia tahu betapa perihnya jatuh dari tempat tertinggi, seperti sepuluh tahun lalu. Tapi sungguh, ia tak bisa membohongi debar tenang di hatinya, sebuah ketenangan yang absen selama satu dekade penuh, tak peduli kemanapun ia pergi atau dengan siapa pun ia bersama.
Diam-diam ia berharap, agar momen ini bertahan sedikit lebih lama, sampai lukanya benar-benar mengering, atau setidaknya sampai ia cukup kuat untuk hancur sekali lagi.
Di rumah itu, satu per satu momen baru terpatri indah. Hal-hal sederhana yang mungkin remeh bagi orang lain: saat ia duduk berselonjor menonton televisi bersama Lidya dan Livi, lalu berakhir dengan perdebatan sengit tentang siapa aktor yang paling tampan, persis seperti saat mereka masih remaja. Atau, ketika suara ketukan Alex di pintunya terdengar, memberitahu dengan nada jahil kalau dia sudah selesai menggunakan mesin cuci. Bahkan, ketika Ken dengan sabar membantunya memperbaiki gagang pintu kamar yang longgar, bertindak seperti kakak yang bisa diandalkan. Sora tak pernah mengucapkannya dengan lantang, tapi di bawah naungan atap yang dulu terasa menyakitkan, ia mengakui dalam diam: ia benar-benar mencintai setiap kepingan sederhana baru itu. Seolah lupa dengan kebencian yang pernah ia tanam disana.
“Sora!”
Suara itu terus mengiang, begitu dekat hingga terasa seperti hembusan napas di telinganya. Sora merengut dalam tidurnya. Mengapa sejak tadi yang terdengar justru suara Evan? Padahal ia sama sekali tidak mengais-ngais memori tentang pria itu. Lagipula, Evan satu-satunya sosok yang baginya tertinggal di gerbang masa lalu; belum menjadi bagian dari kepingan keseharian baru di rumah ini. Ia bukan bagian dari kehangatan sederhana yang Sora syukuri diam-diam.
“Sora!”
Dahi Sora berkerut semakin dalam. Kenapa suara Evan betah sekali mengganggu? gerutunya dalam hati, terusik dari lelapnya.
Kelopak matanya pun diangkat perlahan. Cahaya matahari pagi dari dinding kaca besar di belakangnya seketika menyerbu masuk, menusuk retinanya dengan kejam. Sora sempat memejamkan mata kembali, tak sanggup menghadapi silau yang mendadak, sebelum akhirnya ia terlonjak duduk di atas kakinya yang langsung terlipat canggung.
“Evan?” pekiknya tertahan.
Ternyata sejak tadi telinganya tidak sedang berhalusinasi dalam mimpi. Pria itu benar-benar berdiri di hadapannya, menjulang dengan ekspresi bingung.
Sora langsung dilanda rasa malu luar biasa. Tangannya bergerak buru-buru, mencoba merapikan rambut merah mudanya yang mencuat ke segala arah dengan jemari yang gemetar.
“Kenapa kamu tidur di sini?” tanya Evan bingung, menelisik Sora yang tampak kacau.
“Ah... ah, itu... kenapa, ya?” gumam Sora linglung. Otaknya berusaha memproses bagaimana ia berakhir meringkuk di ruang tamu sampai pagi.
Namun, sebelum kecanggungan itu sempat mengkristal, derap langkah kaki buru-buru terdengar dari lantai atas. Lidya meluncur turun dengan kecepatan yang tak biasa.
“Sora!” teriaknya. Sedikit terlalu nyaring, sengaja memecah atmosfer canggung yang terbangun di antara mantan suami-istri itu.
Sora dan Evan tersentak, menoleh serentak ke sumber suara.