Sora berlama-lama di bawah guyuran pancuran, membiarkan air hangat membasahi tubuhnya yang kaku. Ia berharap aliran dari ujung kepala hingga kaki itu mampu meluruhkan sisa lelah fisik sekaligus gundah yang mengendap di dada.
Pikirannya kembali pada perjalanan tadi pagi. Setelah memecah keheningan dengan obrolan yang ia ciptakan sendiri, Evan tak lagi bersuara sampai mereka tiba di depan kantor. Hening di dalam mobil terasa begitu pekat, menguras energi Sora bahkan sebelum harinya benar-benar dimulai.
Di kantor pun ia nyaris tak punya jeda untuk bernapas. Fani, satu-satunya kolega yang bisa diajak berbagi beban, mendadak cuti. Akibatnya pekerjaan Sora menumpuk dua kali lipat. Belum lagi bentakan Monita yang terus terngiang, menghardik lambatnya ia mencerna instruksi rumit.
Situasi semakin melelahkan karena tingkah para talent, penyanyi, aktor, hingga model, yang seperti punya hobi kolektif memerintah karyawan kantor. Dengan bahu yang selalu membungkuk dan sikap terlalu hati-hati, Sora tampak seperti sasaran empuk bagi perintah seenaknya mereka.
Kruyuk.
Perutnya protes. Sora baru sadar ia belum menyentuh nasi seharian. Setelah hanya mengganjal perut dengan mi instan saat sarapan dan sepotong roti saat makan siang, lambungnya kini terasa perih. Ia sengaja pulang selarut ini untuk mencicil pekerjaan esok hari, sekaligus menghindari Evan kalau-kalau pria itu masih berada di rumah.
Baru kali ini ia merasa selapar ini. Rupanya, nafsu makannya yang kecil selama sepuluh tahun terakhir berasal dari minimnya aktivitas fisik. Bekerja keras benar-benar menguras seluruh cadangan energinya. Ia pun buru-buru mengakhiri mandi untuk bisa segera makan apapun, yang penting bisa tidur pulas tanpa menahan lapar.
Setelah mengenakan piyama satin putih yang dingin di kulit dan meraih ponsel dari atas bantal bulu angsanya, ia keluar kamar. Langkahnya hati-hati menuruni tangga agar tak menimbulkan decit yang membangunkan penghuni lain, sementara matanya terpaku pada layar ponsel, membaca riuh grup obrolan kantor.
Namun saat hendak berbelok ke dapur, seberkas cahaya tipis yang menyelinap dari celah lorong menarik perhatiannya. Keningnya langsung berkerut, ponselnya pun turun dari pandangan. Langkahnya berbelok menuju sumber cahaya itu.
Ia berhenti di depan kamar Alex yang pintunya tak tertutup rapat, lalu terdiam sejenak, mencoba mengingat. Tadi saat lewat, apakah pintu ini memang sedikit terbuka? Ia tak yakin.
Rasa penasaran menang atas lapar. Alih-alih menutup pintu itu, Sora justru ingin memastikan apakah kamar tersebut masih kosong. Setelah melirik kanan-kiri untuk memastikan tak ada yang melihat, ia menempelkan wajah ke celah pintu.
Matanya langsung membelalak.
“Alex?” pekiknya tertahan.
Ia melihat sosok Alex tergeletak melintang di atas kasur. Tanpa ragu, Sora membuka pintu lebih lebar dan masuk. “Alex? Kamu tidur?” tanyanya memastikan.
Pria itu diam mematung, namun posisinya terasa janggal, lebih mirip pingsan daripada beristirahat.
Sora mendekat ke tepi ranjang. Di bawah temaram lampu nakas, Alex yang mengenakan jaket biru dongker dengan tudung setengah terbuka dan celana cargo selutut, terpejam rapat matanya. Wajahnya yang biasanya ceria kini pucat pasi, sementara keringat dingin membanjiri dahinya. Bibirnya bergerak kecil, meloloskan rintihan samar.
“Alex!” panggil Sora lebih keras. Ia menepuk-nepuk kaki pria itu, namun Alex tetap tak bereaksi dalam ketidak sadarannya.
Panik, Sora naik ke atas kasur dan merangkak dengan lutut untuk menjangkau kepala Alex. Ponselnya diletakkan di kasur, telapaknya mendarat di dahi pria itu. Panasnya menyengat. Ah, dia demam.
Namun tepat saat Sora hendak beranjak untuk mengambil air kompres, gerakannya tertahan. Tatapannya terpaku pada sudut mata Alex. Ada aliran air yang membasahi pipi pria itu, berkilau samar di bawah cahaya lampu.
“Dia… nangis?” Sora tertegun, tangannya masih tertahan di udara.
Pria yang biasa terlihat santai, hampir selalu ceria, dan begitu lihai mencairkan suasana ini, menangis dalam tidurnya? Apakah demam ini begitu menyiksanya?