Rumah itu, Kita selalu

Arisyifa Siregar
Chapter #36

35. Lawan yang Sulit

“Emmmmh!” Sora menggeliat pelan, merasakan sensasi tidur paling nikmat yang akhirnya ia alami setelah sekian lama absen dari hari-harinya. Selimut tebal yang membungkus tubuhnya terasa begitu lembut. Matanya masih terpejam erat, namun indra penciumannya mulai menangkap tipis-tipis aroma nyaman. Harum, menenangkan, seperti wangi pewangi pakaian yang segar, namun ada jejak maskulin yang hangat di sana.

Maskulin?

Kesadaran Sora mendadak tersentak. Kelopak matanya seketika terbelalak. Bola matanya berputar cepat, menyapu setiap inci pemandangan yang tertangkap dalam jangkauan pandangnya. Ia berkedip-kedip panik saat otaknya mulai memutar rekaman memori semalam: Alex, demam, rintihan, tangisan, lalu... Deg.

"Ini kamar Alex!" jeritnya dalam hati. Ia langsung mengangkat kepalanya dari bantal dan menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya dengan gerakan kalang kabut.

“HA?” pekiknya tertahan. Telapak tangannya langsung mengatup rapat di mulut yang menganga. Wajahnya yang tadinya hangat kini memucat, diselimuti teror murni saat melihat si pemilik kamar yang semalam sakit justru tergeletak di lantai beralaskan selimut tipis. Kepalanya tertutup tudung jaket biru dongker, kedua tangannya terlipat di depan perut seperti berusaha mempertahankan sisa-sisa hangat tubuhnya.

“Gila!” Sora langsung memukul keningnya sendiri dengan kepalan tangan, merutuki kebodohannya. Bisa-bisanya ia ketiduran di kasur orang sakit.

Suara gaduh itu membuat Alex perlahan terbangun. Kelopak matanya berkedip berat sebelum ia melenguh pelan sambil menggerakkan lehernya yang pegal karena tidur di lantai.

“Sora…?” Suaranya masih serak oleh tidur. “Udah bangun?”

“Alex!” bisik Sora panik, menekan suaranya sekecil mungkin sambil buru-buru merangkak ke ujung kasur melongok ke bawah. “Kenapa kamu nggak bangunin aku?!” protesnya dengan wajah merah padam.

Alex tersenyum tipis. Perlahan bangkit dari lantai sambil menurunkan tudung jaket yang sejak malam menutupi kepalanya. “Kamu tidurnya udah kayak orang pingsan,” ujarnya santai. “Semalam udah aku goyang-goyangin badan kamu…” Ia mengangkat tangan, memperagakan gerakan mengguncang tubuh dengan ekspresi serius dibuat-buat. “Tapi tetap nggak bangun juga.”

Wajah Sora langsung membeku. Matanya membulat ngeri. “Serius?”

“Nggak, lah.” Alex langsung tertawa pelan. Tawa khasnya yang renyah mulai kembali terdengar setelah semalam hilang. “Aku emang sengaja nggak bangunin.”

“Ck! Alex!” keluh Sora frustrasi, nyaris terdengar seperti rengekan. “Kamu jadi tidur di lantai begitu. Kamu masih sakit, nggak?”

“Nggak.” Alex menjawab singkat. Ia merangkak naik ke kasur, lalu duduk tepat di samping Sora tanpa menjaga jarak sejengkal pun. Dengan santai, tangannya meraih pergelangan tangan Sora lalu menempelkan telapak tangan wanita itu ke dahinya sendiri.

“Nih,” gumamnya pelan. “Udah nggak panas, kan?”

Sora membiarkan tangannya tetap di sana beberapa detik lebih lama. Kulit Alex memang sudah kembali normal. Ia mengangguk kecil. Namun rasa leganya hanya bertahan sesaat.

Telinga mereka secara bersamaan menangkap riuh rendah dari luar. Suara denting piring, gesekan kursi, dan obrolan sayup-sayup terdengar dari arah dapur dan ruang tamu. Lidya, Ken, dan Livi pasti sudah bangun dan sedang sibuk sarapan sebelum berangkat kerja. Lalu Evan? Jangan-jangan ada Evan juga.

Sora buru-buru menyambar ponselnya yang tergeletak di samping bantal. Pukul tujuh. Angka digital di layar itu bak vonis kematian baginya. Jika ia keluar dari kamar ini sekarang dengan baju tidur satin putih dan rambut berantakan, tamatlah riwayatnya di depan radar Livi dan Lidya.

“Aduh, mati gue…” gumam Sora pelan. Tatapannya terpaku ke pintu kamar Alex seperti benda itu adalah gerbang menuju penghakiman massal.

Alex yang duduk santai di sampingnya langsung melirik dengan senyum miring. Kilatan jahil kembali hidup di matanya. “Kenapa?” godanya ringan. “Nggak berani keluar?”

Sora langsung mendelik tajam. “Menurut kamu?” desisnya. “Apa jadinya kalau orang di luar sana lihat aku dari kamar kamu pagi-pagi pakai baju tidur begini?”

“Orang yang mana?” Alex mencondongkan tubuh makin dekat, gerakan yang sekarang sudah sangat dikenali Sora sebagai tanda bahaya.

Pria itu pasti mau menggoda lagi.

“Evan?” lanjut Alex pelan, suaranya sengaja direndahkan. “Kemarin waktu pergi berdua, kalian baikan? Kamu nolak aku karena mau balikan sama dia?”

Wajah Sora langsung menegang. Rasa tersinggung menusuk cepat, tipis tapi tajam. “Kalau ada yang punya niat kayak gitu di rumah ini,” balasnya sinis sambil melipat tangan di dada, “itu cuma kamu!”

“Kok aku?”

“Kamu cuma nerima penyewa perempuan. Aku, Livi…” Ia sengaja tidak memasukkan Lidya dalam daftar itu. Jelas konteks sahabatnya berbeda.

Alex justru menyipit geli. Senyumnya makin lebar. “Jadi…” Ia sengaja menggantung ucapannya. “Kamu cemburu?”

Lihat selengkapnya