Rumah itu, Kita selalu

Arisyifa Siregar
Chapter #37

36. Menguras Hati?

Sekotak mochi coklat dengan kemasan menggemaskan itu benar-benar ada di dalam tas Sora. Ia mengeluarkannya, meletakkannya di atas meja pantry, lalu membuka tutupnya. Namun lima menit berlalu, dan Sora hanya sanggup memandangi deretan bulatan kenyal berselimut bubuk coklat itu, masih terlalu berat untuk menyentuhnya.

“Apa itu, Mbak Sora?” Fani tiba-tiba muncul di belakang, melongok penasaran. “Wah, mochi enak itu! Viral banget di Bandung, antrinya bisa berjam-jam!”

Tak ada tanggapan. Sora masih mematung, menatap mochi-mochi itu dengan intensitas ganjil, seperti sedang mengamati pergerakan bakteri di bawah lensa mikroskop. 

“Bagi satu, ya!” Tangan Fani baru saja terulur hendak mencomot, namun langsung ditepak pelan oleh Sora.

“Jangan!” Larang Sora dengan suara rendah yang protektif.

“Oh, maaf...” sesal Fani, buru-buru menarik tangannya dan mundur setapak. Ia menatap Sora dengan dahi berkerut. “Dari pacarnya, ya?” tebaknya kemudian dengan nada menggoda.

Lagi-lagi Sora tak menjawab, semakin tenggelam dalam kesunyian. Wajahnya yang tanpa ekspresi tampak makin kosong, seolah jiwanya telah melesat jauh meninggalkan raganya di ruangan itu.

Fani masih berdiri beberapa saat, menunggu respons yang mungkin datang meski terlambat. Namun tatapan Sora tetap menerawang jauh menembus kotak mochi, sementara bibirnya terus terkatup rapat. Tak tahan dengan kecanggungan aneh itu, Fani akhirnya memilih mundur perlahan lalu keluar dari pantry.

Sebenarnya, benak Sora sedang riuh bukan main. 

Bagaimana bisa sekotak mochi sanggup menggetarkan hatinya sedahsyat ini? Ia syok pada dirinya sendiri yang terkesima karena Alex benar-benar membawakannya oleh-oleh. Belum lagi, telinganya seperti memiliki pemutar kaset rusak yang terus-menerus memperdengarkan suara pria itu, suara yang hangat, lembut, dan menjerat. Seakan-akan pria itu masih berada tepat di belakangnya, menaruh dagu di bahunya, dan berbisik tepat di lubang telinganya.

“Kamu nggak perlu mikirin aku. Biar aku yang sibuk mikirin kamu.”

“Sora, aku masukin mochinya ke tas kamu.”

“Jangan lupa makan siang, ya.”

“Cepat pulang, aku tunggu di rumah.”

Rona merah tiba-tiba mencuat di pipi Sora, menjalar dengan cepat ke seluruh wajah hingga telinga dan lehernya ikut memanas. Ia merasa seperti sedang terserang demam yang sama dengan yang diderita Alex semalam.

Ada satu kalimat yang pernah ia dengar dari tetangganya saat ia menetap selama dua bulan di Spanyol dulu: “Hombre guapo, peligroso.” Pria tampan itu berbahaya.

Saat itu Sora bertanya, “Kenapa berbahaya?”

Tetangganya menjawab dengan tatapan penuh peringatan, “Karena secara fisik dia mempesona, tapi hatinya terlalu berisiko dan keberadaannya tak bisa dipercaya.”

Bagi Sora, sosok Alex persis seperti deskripsi itu. Seorang pria yang bisa membuat wanita merasa menjadi pusat semesta dalam satu detik, namun nampak sanggup menjadikannya hancur berkeping-keping di detik berikutnya. Penuh dengan pesona tak terduga. Dan sialnya, Sora sadar ia mulai masuk ke dalam zona bahaya itu.

Entah kapan terakhir kali Sora merasa dimabuk kepayang karena asmara. Saat jatuh cinta pada Evan bertahun-tahun lalu? Saat ia sempat menaruh hati pada Ken? Atau yang paling anyar, saat ia menjalin hubungan singkat dengan pria super tampan di Prancis yang ternyata berbohong tentang status pernikahannya? 

Sora tak benar-benar tahu. Namun, ia jelas bukan pemula yang buta akan arti debaran di dadanya. Meski logikanya menolak keras, meski tekadnya sudah bulat untuk tidak terjebak dalam situasi ini, jantungnya yang berdegup kencang dan pikirannya yang terus memutar rekaman visual ketampanan Alex saat bangun tidur tadi adalah bukti yang tak terbantahkan. Ia sudah terpikat.

Namun justru itulah inti masalahnya: kenapa harus Alex? Kenapa ia harus menyukai pria yang jauh lebih muda darinya, pria yang terasa seperti mawar merah, begitu manis dipandang namun penuh duri yang siap melukainya kapan saja?

“Sora, Mbak Sora!”

Lihat selengkapnya