Rumah itu, Kita selalu

Arisyifa Siregar
Chapter #38

37. Keluarga Palsu

“Udah selesai! Evan udah jalan keluar sama manajernya. Ah, capek banget!”

Grundelan Fani itu menghentikan ketukan ritmis jemari Sora di permukaan meja kerjanya. Ia mendelik, melirik jam dinding yang detaknya terasa melambat bak menguji kesabarannya yang sudah setipis kulit bawang. Jarum detik berputar malas, dan jarum menit beringsut nyaris tak kasat mata. Begitu jarum detik menyentuh angka dua belas tepat, Sora langsung menyambar tasnya dan berdiri.

“Duluan!” pamitnya basa-basi. Suaranya yang ketus dan gerakan tiba-tibanya membuat beberapa orang di ruangan itu menoleh heran, namun ia tak peduli.

Tali tas tersampir di bahu kirinya, sementara tangan kanannya menyuap mochi terakhir yang sejak tadi ia genggam erat. Kakinya bergerak cepat, menyusuri koridor kantor yang mulai riuh, lalu berbelok tajam di depan pintu tangga darurat.

Suara sepatunya menggema keras di tangga darurat yang hening, namun keriuhan di dalam kepalanya jauh lebih bising. Tadi, sambil mengunyah mochi pemberian Alex, ia membedah situasinya dalam-dalam, dan kesimpulannya hanya satu: ia benci ditekan.

Memang betul ia terpikat pada Alex, pria yang seharusnya tak membuat jantungnya berdebar kencang. Ia sadar betul bahwa usia, status, dan masa lalunya adalah pagar tinggi yang melarang perasaan itu tumbuh. Namun, apa yang Evan ucapkan tadi, dengan segala kelembutan dan tatapan penuh harap, jelas bukan sekadar permintaan kesempatan kedua. Di mata Sora, itu adalah sebuah penghinaan.

Harga dirinya yang terluka tak mengizinkan pria itu memperlakukannya seperti pion dalam permainan perasaan. Sambil menelan paksa sisa mochi di mulutnya, ingatan tentang ekspresi Evan perlahan terdistorsi dalam benaknya, bermuara pada satu tafsiran tajam yang menusuk ego:

“Kamu itu mantan istri aku. Harusnya kamu tahu diri untuk nggak suka sama Alex yang masih muda dan adik tiri aku sendiri. Lebih masuk akal kalau kita yang balikan!”

Begitulah cara Sora menerjemahkan pengakuan Evan beberapa jam lalu. Itulah alasannya ia memburu waktu; tak bisa menunda rasa kesalnya barang semenitpun.

Begitu kakinya menapaki lantai parkir yang pengap. Matanya langsung menyapu deretan kendaraan, mencari yang mencolok, kendaraan khas selebriti yang tak mungkin luput dari pandangan. Begitu menemukan van putih besar, tanpa ragu ia langsung mendekat, tangannya terangkat mantap, mengetuk kaca jendela dengan tatapan lurus yang seolah bisa menembus lapisan film gelap di hadapannya.

Yang ia ketuk kaca tengah, yang terbuka perlahan justru kaca depan. Sora pun langsung bergeser, Kalif terlihat.

“Aku perlu ngomong sama Evan,” ucapnya tegas. Melirik tajam ke bangku penumpang, Evan sedang menatapnya dengan raut terkejut sekaligus bingung.

“Buka pintunya, Lif!” perintah Evan singkat.

Pintu geser otomatis itu terbuka dengan suara desis pelan. Sora langsung merangsek naik ke dalam kabin mewah yang sejuk itu. Ia duduk menyamping, menghadap Evan dengan mata yang berkilat. “Aku nggak akan lama-lama. Cuma mau jawab omongan kamu tadi.”

Evan mengangkat telapak tangannya sejenak, menghentikan kalimat Sora yang meluncur cepat, lalu menoleh ke arah Kalif. “Lu keluar dulu.”

Dengan dengkusan pelan dan raut wajah masam, Kalif yang tak punya posisi tawar pun menuruti. Ia berdiri di depan pintu sambil mengedarkan pandangan ke sekeliling parkiran.

Suasana di dalam mobil runtuh ke dalam hening yang menekan. Hanya suara dengung pendingin ruangan yang terdengar samar, bercampur ritmis lampu hazard yang masih berkedip pelan di dashboard. Sora memalingkan wajah ke jendela sejenak. Dadanya naik turun lebih dalam dari biasanya sebelum akhirnya kembali menatap Evan. Tatapannya lurus, mantap, seperti seseorang yang sudah terlalu lelah untuk terus menahan diri.

“Sebelum aku mulai, ada yang mau kamu omongin lagi ke aku?” Nada suaranya rendah. Tenang. Tapi jemarinya mencengkram ujung tas di pangkuan.

Evan mengerjap pelan. Untuk sesaat, wajahnya terlihat kosong, tak siap menerima sikap Sora yang mendadak tajam seperti ini.  “Nggak…” jawabnya kemudian. Lebih pelan dari yang ia inginkan.

“Aku to the point aja, Evan,” ucap Sora, kata-kata itu meluncur sedikit terlalu cepat dari bibirnya, suaranya bergetar halus di ujung. “Aku tahu diri kalau aku saat ini nggak punya apa-apa dan sudah berumur—”

Wajah Evan langsung tegang, “Sora, nggak ada yang bilang begitu—”

Lihat selengkapnya