Rumah itu, Kita selalu

Arisyifa Siregar
Chapter #39

38. Berita Gembira

“Kenapa kumpul begini?” tanya Sora, berusaha menetralkan suaranya yang serak oleh lelah. Menatap lurus ke arah Lidya, enggan mengedarkan pandangan ke titik lain.

Posisi duduknya di sebelah Livi sebenarnya sangat menguntungkan sebagai benteng pertahanan. Di pojok kanan sofa, Evan duduk membeku. Ia menjaga jarak yang cukup lebar dari Livi sebelum Sora datang. Dengan Sora duduk mepet di samping Livi, pria itu tak punya celah untuk mendekat tanpa terlihat agresif. Sementara itu, Alex duduk di tangan sofa di sisi lain Livi; meski dari ekor matanya Sora bisa merasakan tatapan pria itu terus menguliti wajahnya, keberadaan Livi di tengah-tengah mereka adalah penghalang fisik yang sempurna. 

Livi sendiri menyandarkan punggungnya kaku ke sofa. Jemarinya sibuk memainkan ujung lengan baju, ekspresinya terlihat jenuh bercampur kesal karena harus menunggu terlalu lama. Sementara di sisi lain ruangan, suasana terasa jauh lebih formal.

Lidya dan Ken duduk berdampingan dengan raut wajah khidmat. Ia menangkup kedua tangannya di pangkuan, punggungnya tegak, matanya bergantian mengawasi satu per satu orang di ruangan itu dengan ekspresi penuh antisipasi. Ken di sebelahnya tampak lebih tenang, tetapi sorot matanya serius. Keduanya menyerupai orang tua yang mengumpulkan anak-anaknya untuk memberikan pengumuman.

“Lidya sama Ken punya pengumuman. Dari tadi kita semua nungguin lu,” bisik Livi ketus, sebal Sora pulang larut.

Sora hanya memberi lirikan tipis tanpa menjawab. Aroma kopi yang mulai dingin di atas meja bercampur samar dengan wangi parfum dan udara malam yang ikut terbawa masuk saat pintu tadi terbuka.

“Oke, terima kasih udah bersedia luangin waktunya. Ada yang mau aku sampaikan pertama-tama ke Raya,” buka Ken dengan nada baritonnya yang tenang.

Sora langsung memusatkan perhatian penuh. Punggungnya menegak kaku, lehernya lurus tegang seperti meerkat, tahu kalau Ken bicara dengannya seserius ini pasti ada hubungan dengan Yordan.

“Yordan udah respons. Dia bersedia ketemu dan akan kabarin lagi untuk waktu dan tempat pastinya. Syaratnya, kamu harus ikut.”

“Iya, nggak masalah.” Sora mengangguk cepat, nyaris tanpa jeda.

Justru ini yang ia tunggu. Bertemu langsung dengan pria itu akan memberinya jawaban atas ribuan pertanyaan yang selama ini menyumbat benaknya.

“Terus apa lagi?” celetuk Livi, tidak sabar dengan suasana yang terasa lambat.

Alih-alih menyahut, Ken malah menoleh ke istrinya. “Kamu apa aku?” bisiknya pelan, namun di ruangan yang senyap itu, bisikannya terdengar oleh semua orang.

“Aku aja,” sahut Lidya dengan rona malu-malu yang jarang terlihat.

Sora menengok ke arah Livi dengan dahi berkerut bingung, yang dibalas Livi dengan kedikan bahu tak tahu. Keduanya kemudian memaku pandangan pada Lidya yang mulai mengatur napas untuk bicara.

“Oke, jadi aku mau berbagi berita baik ke kalian…” Cuping hidung Lidya terlihat kembang kempis, bibirnya mengulum senyum. “Setelah berjuang cukup lama, program IVF aku dan Ken membuahkan hasil…”

“IVF apaan?” Alex menundukkan tubuhnya, berbisik tepat di samping telinga Livi.

Lagi-lagi Livi mengedikkan bahu, wajahnya ikut bingung. Sora yang menangkap interaksi itu tanpa sengaja menengok ke arah Alex. Selama sedetik, tatapan mereka beradu, sebuah kontak mata yang membuat perut Sora mulas seketika, sebelum ia buru-buru membuang muka kembali ke arah Lidya.

“Bayi tabung,” gumam Evan pelan. Penjelasan singkat itu membuat Alex, Livi, dan Sora mengangguk hampir berbarengan seperti gerakan terkomando.

“...aku hamil dua bulan!” seru Lidya akhirnya.

WHAT?” pekik Livi dan Sora bersamaan. 

Lihat selengkapnya